Bertahun silam, menikah dan duduk di pelaminan seperti mimpi buruk. Terbayang kenangan teman-teman mondok dulu yang dijodohkan oleh orang tuanya dan terpaksa menerima pinangan. Kala itu mereka tak punya pilihan selain menuruti keinginan orang tuanya, melupakan keinginannya sendiri untuk sampai lulus mondok. Mereka menikah dan terpaksa duduk di pelaminan dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

Aku tau sakitnya menjadi tidak berdaya atas apa yang dikehendaki. Saat itu aku berdoa, semoga aku tidak menjadi seperti mereka. Menahan tangis dan menahan diri sepanjang hari untuk tetap tersenyum di atas pelaminan. Sungguh aku tak bisa. Ku minta juga pada Tuhan, semoga kelak aku menikah dengan seorang yang aku pilih sendiri dan aku duduk di pelaminan bersamanya dengan segenap rasa yang ku miliki untuknya.

Suamiku,

Tahun-tahun sebelum kehadiranmu, Aku adalah kutuk. Merutuk tak henti pada lelaki yang seharusnya bertanggung jawab atas hidupku dan keluargaku. Perjodohan berulangkali ku tolak. Aku memberontak dan lari ke perantauan. Gagal pada hubungan jarak jauh dengan seseorang yang pernah ku harapkan. Trauma dengan sebuah ikatan. Sampai akhirnya memutuskan, aku akan tetap sendiri tanpa sebuah ikatan. Aku akan hidup bersama Ibuk, Kakak, Nenek & Kakek. Itu sudah cukup bagiku.

Ya, bagiku saja. Aku lupa bahwa apa yang ku pikirkan terlalu egois. Aku lupa, sebagai seorang anak & cucu, sebagai bagian dari keluarga, aku pun punya kewajiban untuk membahagiakan mereka. Tapi dasarnya keras kepala dan terlalu memikirkan diri sendiri, aku telah mencukupi diri dengan keputusan untuk sendiri, tanpa seorang pasangan. Aku tidak mau terluka lagi, dan aku bahagia dengan pilihan ini.

Suamiku,

Barangkali aku terlalu sombong dengan keputusan ini dan Tuhan sedang memberiku pelajaran. Satu persatu, mulai dari permintaan Alm kakek yang telat ku penuhi hingga kepergiannya yang sangat ku sesali. Tak sempat ku bisikkan sebuah kabar yang akan membuatnya mungkin lebih tenang meninggalkan kehidupan. Bahwa aku mulai membuka diri, membiarkan seorang lain selain diriku memedulikan diriku. Seorang lain yang mau menerimaku dan mengajakku untuk menerima suka maupun duka bersama.

30 November 2019, Tuhan sungguh maha baik sekali. Seseorang yang menemaniku duduk di pelaminan adalah dirimu, suamiku.

Bagikan ini:

Menyukai ini:

Suka Memuat...
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: