Jangan panggil aku Jalang.

Panggil saja aku, Mawar. Meski itu bukan namaku yang sebenarnya.

Aku sudah lupa siapa nama lahirku. Sebab sejak kecil aku terbiasa dipanggil dengan nama panggilan yang berbeda-beda. Mulai dari panggilan sayang kedua orang tuaku hingga panggilan penuh ejekan dan hinaan.  Yang paling kuingat adalah Gembrot (sebab aku gendut),  Cengeng (kerap jadi korban bercandaan teman), Lames (suka minta makanan teman) hingga Nganji’ (Genit).

Sejak kecil aku terbiasa dengan nama-nama itu. Di lingkungan sekolah, rumah, mengaji dan bermain. Nama lahirku hanya diucap manakala aku ketahuan tertidur di kelas, mengurus biaya sekolah yang selalu menunggak, dan kala pak ustadz memanggil giliran mengaji (tidak mungkin bukan, ustadz memanggilku dengan nama-nama diatas). Tetapi pernah pula nama lahirku disebut lengkap dengan nama panggilan untuk membedakan dua orang yang memiliki nama yang sama.

Orang-orang pun mulai melupakan siapa nama lahirku. Begitupun aku. Padahal katanya, nama adalah doa yang dititipkan para orang tua, yang kelak akan menentukan masa depan si anak. Konon katanya, nama juga akan membawamu ke surga, tempat terindah yang pernah diciptakan Tuhan.

Sebab itu, pemberian nama pada seorang bayi menjadi sangat penting. Di kampung ku, pemilihan nama tak bisa diputuskan oleh orang tua tetapi oleh orang suci. Orang suci akan memberikan beberapa nama yang dianggap sangat pas dengan tradisi dan agama yang dianut si orang tua. Jadi jangan berpikir akan mendapatkan nama-nama yang kebarat-baratan. Orang tua kemudian akan memilih yang menurut mereka pas. Ketika nama sudah ditentukan, tahap berikutnya adalah prosesi selamatan nama. Prosesi ini dilakukan sebagai bentuk peresmian sekaligus acara pemberkatan nama.

Ah, tiba-tiba aku teringat sebuah kenangan buram di masa silam.

“Kau tahu bagaimana proses terciptanya manusia hingga ia memiliki sebuah nama?” tanya seorang perempuan padaku.

Aku menggeleng. Perempuan itu menyungging senyumannya, lalu merengkuhku kedalam pelukannya yang hangat.

“Di dalam rahim ibu ada benih yang selama 9 bulan tumbuh dan membentuk seorang anak manusia. Ketika saatnya tiba, Ia datang ke dunia ini tanpa apa-apa, hanya dengan tangisnya. Semua menyambutnya penuh suka cita dan memberinya banyak cinta. Ia lalu diberi nama, sebuah identitas kemanusiaan. Nama menjadi satu-satunya awal dia menjadi bagian dari kehidupan manusia. Jangan pernah lupakan itu,” Jelasnya.

Ya, nama, menjadi identitas baru dan awal bagi anak manusia yang terlahir ke dunia ini. Nama mengantar para pemiliknya mengenal orang baru dan kehidupan baru.

Tetapi orang-orang di kampungku lupa, sama lupanya denganku.

****

Semua anak-anak memiliki masa depan. Aku tahu hal itu ketika pak ustadz menanyai kami saat selesai mengaji. Pertanyaannya persis seperti pertanyaan Kak Ria pada Boneka Susan. Bedanya, pak ustadz tak sambil menyanyi dan pegang boneka.

“Jika besar nanti, kalian mau jadi apa?”

“Aku ingin jadi dokter!” jawab Fatimah cepat dan penuh semangat.

“Aku ingin jadi polisi biar nangkep orang jahat!” Sumiati tak mau kalah keren.

“Aku ingin berguna bagi nusa dan bangsa,” sahut Romlah, bermaksud mengungguli kedua teman mengajiku. Tetapi aku justru cekikikan mendengarnya. Bagaimana tidak, jawaban Romlah pastilah menyontek di buku latihan Cerdas. Tetapi rupanya aku cekikikan sendiri. Bukan sesuatu yang lucu bagi mereka. Giliranku menjawab pertanyaan pak ustadz.

“Aku mau jadi penyanyi dangdut.” kataku mantap. Pak ustadz sontak beristighfar. Sementara teman-teman mengajiku tertawa terbahak-bahak. Apa yang aneh dengan cita-citaku?

“Astagfirullah, nak. Tak boleh bercita-cita seperti itu.” katanya, menegaskan bahwa apa yang aku cita-citakan salah. “Kau tahu arti namamu, perempuan yang memberi kebahagiaan. Maka seharusnya kau menjadi sumber kebahagiaan keluargamu.”

Aku menggeleng. Menjadi penyanyi dangdut juga membahagiakan orang, bukan? Bapak saja yang suka marah-marah, saat ada orkes dangdut di desa tetangga lebih sumringah wajahnya. Lagipula cita-cita ini sudah kupikirkan jauh sebelum pak ustadz bertanya pada kami. Cita-cita ini sudah mantap ku pilih dengan berbagai alasan yang sungguh masuk di akal.

Keluargaku miskin. Bicara tentang masa depan dan cita-cita sungguh barang mewah. Seolah kami masih berhak memiliki keinginan dan hidup di masa depan. Tetapi aku ngotot ingin punya cita-cita. Namun aku tetap realitis, tak muluk-muluk seperti cita-cita anak kota di buku latihan Cerdas. Maka menjadi penyanyi dangdut (karena aku suka bernyanyi sambil menari) menjadi pilihanku. Tak perlu banyak biaya, cukup cakap berusaha.

****

Di hari kelulusan SD, usiaku tepat 15 tahun. Aku satu-satunya lulusan tertua karena dua tahun tidak naik kelas. Tubuhku jauh lebih besar dan berisi dibandingkan teman-temanku. Lalu aku dapat panggilan baru, Semok (montok).

Ketika teman-teman merencanakan akan melanjutkan pendidikan kemana. Aku tak punya rencana apa-apa kecuali makin rajin  nonton dangdutan di televisi. Ah, ini juga bisa dibilang bagian dari usahaku untuk mewujudkan cita-cita. Kadang pula aku ikut-ikutan bernyanyi dan bergoyang. Bahkan aku sampai hafal beberapa lagu dan jenis goyangan para penyanyi dangdut.

Sampai suatu ketika aku asyik dangdutan sendiri, aku kepergok bapak. Sungguh aku benci tatapan dan senyumannya yang ganjil itu. Tapi saat dia menawariku untuk nonton orkes dangdut, aku lupakan kebencian itu. Toh pada akhirnya dia jugalah yang membantuku lebih dekat dengan dengan cita-citaku.

Ia mengenalkanku pada teman-temannya: teman sabung ayam, teman ngernet, teman nguli, teman main gaplek, orang-orang di panggung orkes: pemain musik, penyanyi dangdut dan pada lelaki itu. Lalu janji masa depan sebagai penyanyi dangdut pun dimulai dengan nama panggung Sekarwangi.

******

Benarlah bahwa nama membawa pemiliknya menentukan masa depannya. Nama baruku, Sekarwangi membuktikannya. Sekarwangi yang berarti bunga harum/wangi membuatku wangi bagi penikmat musik dangdut. Siapa yang tak mengenal Sekarwangi.

Meski baru setahun manggung, aku tersohor sebagai bintang dangdut baru yang segar. Sekarwangi yang suaranya serak-serak basah. Sekarwangi yang punya goyangan aduhai. Sekarwangi yang ramah. Sekarwangi yang cantik. Sekarwangi yang wangi.

Undangan manggung pun ramai, mulai dari acara sunatan, arisan, nikahan, sampai pilkada. Mulai dari tingkat RT-RW, kecamatan, kelurahan hingga kabupaten. Aku terima semua, tak ada penolakan. Pamali menolak rezeki.

*****

Lalu sudah puaskah aku dengan semua kesuksesan itu? Tidak. Kesuksesan selalu menumbuhkan keinginan-keinginan baru. Apa lagi yang aku inginkan? Cita-cita apa lagi yang ingin ku capai?

Sederhana. Aku ingin lelaki itu. Aku ingin menggapai hatinya. Tidak sebagai orang yang mendukungku sebagai penyanyi tetapi sebagai Sekarwangi.

Sayangnya cinta tak pernah sesederhana yang aku kira. Sama halnya dengan kemiskinan, mencintai rupanya juga menyakitkan. Lelaki itu membuatku menyandang status dan nama baru, Jalang.

Jakarta, 24 Oktober 2017

Bagikan ini:

Menyukai ini:

Suka Memuat...
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: