tiga manusia baru
Ruang Perempuan

Kelahiran Tiga Manusia Baru

Kami bukan orang tua yang baik, namun selalu mengusahakan yang terbaik untuk anak.
Apa yang kami kira baik untuknya, kami mengusahakan sebaik mungkin.
Termasuk melawan diri sendiri, yang terkadang egois, sok tahu & merasa paling benar sebagai orang tua.
Orang yang lebih dulu lahir dan katanya memiliki pengalaman hidup.

Kami seharusnya berterima kasih, bukan sebaliknya, karena dari anak inilah kami belajar menjadi orang tua.
Diberikan kesempatan memiliki keinginan menjadi sebaik-baiknya teladan dan temannya.

Kami juga perlu minta maaf jika sewaktu-waktu membuat kesalahan atau tidak menjadi sebaik-baiknya teladan dan teman.
Bukan malah mengutuk dengan dalih surga di bawah telapak kaki atau neraka tempatnya.
Kami juga butuh duduk bersama, bertukar peran, menjadi mulut dan telinga. Bertukar pikiran, berbagi perasaan hingga lapang jalan di depannya.

Untuk anak kami, Azalea

Tulisan ini aku buat untuk menjadi pengingat bagiku dan suami, mulai dari tulisan ini dibuat hingga kami mendampingi hidupnya. Kami tiga manusia baru. Manusia kecil itu lahir melalui tetes air mani di rahimku, menjadi anak kami. Aku lahir dari berkah yang Allah beri lalu menjadi Ibunya, begitu pun suamiku lahir menjadi seorang ayah. Kami tiga manusia baru, yang saling belajar menjadi anak dan orang tua di saat yang bersamaan.

Sebagai orang tua baru, kami menyadari perkembangan pengetahuan dan membekali diri saat mulai merawat anak kami. Hal-hal yang dulu dianggap tabu, selalu dikonfirmasi kebenarannya. Memang kami kerap dianggap sok tahu, baru juga jadi orang tua, itu sih kata mereka. Tetapi anak kami adalah sepenuhnya tanggung jawab kami. Omongan orang lain, selain kami, hanyalah saran yang bisa dipertimbangkan, bukan harus dilakukan. Secara pengalaman mereka punya banyak, tetapi pengalaman tanpa diimbangi pembaruan pengetahuan tidak ada artinya. Kami tidak sedang bertaruh dengan hidup anak kami. Kami sedang mengupayakan apa yang terbaik untuk anak kami.

Sebagai manusia yang baru mengenal kehidupan di luar rahim, sebagaimana bayi pada umumnya, anak kami belajar beradaptasi. Ia kerap rewel jika terlalu dingin atau panas. Ia selalu ingin dekap, hangat seperti di rahim ibu. Jadi wajar saja jika Ia sering menangis, selalu ingin digendong. Tak usah didengar omongan yang bilang, nanti bayinya bau tangan, pengen digendong terus. Itulah kebutuhan bayi, kenapa harus dilarang? Akan ada waktunya dia tidak mau digendong, lebih suka duduk bersama mainannya, berlarian ke sana ke mari. Jadi manfaatkan waktumu sebaik mungkin untuk mendekap dan lebih dekat dengannya.

Sebagai manusia baru yang menjadi seorang Ibu, terlalu banyak perubahan drastis yang dihadapi. Perubahan fisik, emosi, perhatian dan lingkungannya. Tak heran jika di awal-awal pasca lahiran kena sindrom baby blues. Tidak mudah bertahan di kondisi itu jika suami tidak cepat tanggap. Hal yang paling terasa adalah perubahan mood yang tiba-tiba. Tiba-tiba menjadi sangat sedih, menangis tanpa sebab. Tiba-tiba menjadi sangat takut. Tiba-tiba merasa tidak percaya diri. Bersamaan dengan hal itu, berjuang untuk bisa memberikan ASI dan sembuh dari mastitis. Pada titik inilah, suamiku sangat berperan menjadi suami dan ayah sekaligus. Memastikan aku baik-baik saja dan kebutuhan ASI anak kami terpenuhi.

Sebagai manusia baru yang menjadi seorang Ayah, ia menghadapi situasi yang tak pernah dibayangkan sebelumnya akan sekompleks ini. Ada istri yang menangis karena butuh perhatian, ada bayi yang juga menangis butuh dekapannya. Sewaktu-waktu ia mengambil alih semua pekerjaan rumah yang biasanya dikerjakan berdua: memasak, mencuci baju, membersihkan rumah, belanja ke pasar. Bergantian menjaga dan bermain dengan bayi, bahkan jika bayi kami terbangun di tengah malam, Ia dengan sendirinya akan menggendongnya. Ia selalu menjadi yang paling depan dan vokal untuk kami. Meski demikian, kerap merasa bersalah karena tidak melakukan yang terbaik. Kerap minta maaf untuk hal/kesalahan yang terlihat sepele.

Kami, tiga manusia baru, perlu belajar mengenal diri sebagai anak, ibu dan ayah. Dan, berikan kami kesempatan untuk itu, dengan mempercayai bahwa kami bisa.

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!