Ruang Perempuan

Kepala yang Keras: Keras Kepala?

Terlahir di hari Minggu, keras melebihi batok kepalanya. Keras Kepala. Jika Ia masih berdiri tegak, itu semata karena kasih dan kuasa Tuhannya.

Siapa yang bakal menduga, jika persyaratan administratif pernikahan bisa membuka luka lama. Sebuah pahit yang dicecap oleh dua anak perempuan yang ditinggalkan oleh seorang Bapak karena memilih perempuan lain selain Ibunya.


Semua berawal ketika gue harus melengkapi dokumen pendukung pendaftaran pernikahan seperti Kartu Keluarga, KTP, Akta Lahir/Ijazah terakhir. Dokumen-dokumen tersebut memiliki ketidaksamaan data tanggal lahir dan nama Bapak sebagai wali. Akibatnya, proses pendaftaran menjadi pelik. Gue diharuskan mengurus dokumen baru.

Gak masalah! Sejak awal gue tahu, semua dokumen memang tidak sinkron karena beberapa hal dan sejak awal pula gue mau memperbaiki itu dengan catatan mengikuti data yang ada pada KTP. Karena pada saat ini, semua dokumen penting lainnya seperti tabungan, BPJS Ketenagakerjaan, NPWP, dsb menggunakan data pada KTP.

Masalahnya jelas, data tanggal lahir gue ga sama antar satu dokumen dengan yang dokumen yang lain, termasuk data pada KTP gue. Lalu dari mana muasal data-data tersebut dibuat? Kok bisa beda?

Data bersumber dari Ibuk gue. Beliau tidak ingat betul tanggal dan bulan gue lahir. Yang diingat Ibuk ketika gue lahir adalah hari Minggu malam. Udah itu aja. Akta kelahiran yang dianggap bisa menjadi patokan pun tidak bisa diandalkan, karena ia dibuat berpuluh tahun setelah gue lahir. Dan tentu saja, data di akta lahir yang telat bikinnya itu, beda dengan data di raport SD dan Ijazah lainnya.

Kok bisa serancu itu? Dari mana acuan data di akta lahir? Ada pada sebuah catatan lama, yang ketika gue croscek dengan kalender, ternyata di tanggal tersebut bukanlah hari Minggu malam yang sangat diingat Ibuk. Pun data di raport dan ijazah. Maaf buk, masalah perbedaan data ini ternyata harus melibatkan ibuk sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dan cenderung disalahkan. Bahkan oleh bapak sekalipun. Lelaki yang seharusnya dari awal mengurus dokumen macam akta lahir, raport, dsb.

Ketidakjelasan data kelahiran gue memang berakar dari kurang pahamnya Ibuk mengenai pentingnya dokumen tersebut. Akta kelahiran dibuat tidak saat aku lahir tetapi bertahun-tahun setelahnya, setelah Ibuk dan Bapak bercerai. Aneh saja jika sekarang Bapak mempertanyakan ketidakjelasan data pada dokumen gue. Selama ini dia kemana aja? Kenapa menyalahkan Ibuk?


Tidak mudah menjadi seorang anak dengan latar belakang kedua orang tuanya bercerai

Masalah di atas hanya satu di antara sekian banyak masalah yang sering gue dan kakak gue hadapi lantaran orang tua bercerai. Sejak bapak pergi, lebih memilih perempuan lain dibandingkan anak-istrinya, hidup kami tentu tak lagi sama. Gue inget betul, masih dalam gendongannya, Ibuk mendatangi bapak di rumah Alm. kakek (dari bapak), dia berusaha betul agar Bapak kembali pada kami. Tak tergoyahkan rupanya.

Kenangan ditinggal dan disakiti itulah yang gak pernah hilang sampai detik ini. Gue berkali-kali meyakini diri gue memaafkan dan mencoba melupakan itu semua, nyatanya gue masih menyimpan rasa itu.

Kenapa bisa sampai sesakit itu?

Ibu menjadi satu-satunya orang tua sekaligus yang menafkahi kami. Memang ada kakek dan nenek yang membantunya, tetapi tetap saja beban berat menghidupi dua orang anak yang masih kecil gak mudah. Masa sekolah gue dan kakak menjadi sangat berbeda dengan kebanyakan teman-teman kami. Gue dan kakak menjadi anak yang nakal bahkan kerap diolok-olok teman.

Kami menyimpan benci lantaran sosoknya tak pernah ada saat momen penting seperti kenaikan kelas, tanda tangan raport, bahkan memutuskan akan melanjutkan pendidikan ke mana. Yang ada hanya Ibuk, Ibuk, dan Ibuk. Bahkan Ibuk, satu-satunya orang tua yang kami miliki itu, terlalu sibuk mencari nafkah. Pergi ke sawah saat kami belum bangun, sepanjang hari dan hanya bisa kami temui saat malam hari.

Kenapa bisa sampai sesakit itu?

Ibuk yang banting tulang untuk menghidupi anaknya itu kerap dianggap perempuan nakal lantaran dirinya menyandang status janda.

Kenapa bisa sampai sesakit itu?

Kelulusan SD, nilai yang cukup baik membuat gue direkomendasikan masuk sekolah favorite oleh guru. Tentu senangnya minta ampun. Tapi itu semua cuma mimpi karena kakek membangunkan gue untuk meilihat kenyataan. Siapa yang membiayai? Bapakmu ga ada, kasihan Ibuk.

Pun ketika memutuskan untuk kuliah. Bahkan berkali-kali dihadapkan pada perjodohan. Ibuk berkali-kali dijadikan alasan agar gue gak seterusnya menyusahkan dia dengan keinginan gue yang melampaui batas itu.

Kenapa bisa sampai sesakit itu?

Karena gue gak pernah bisa menyampaikan bagaimana rasa sakit itu.

Kenapa bisa sampai sesakit itu?

Karena saat gue butuh dia sebagai wali di pernikahan, dia berlagak semua rasa sakit itu tak pernah ada.

Perempuan yang merasa merdeka melalui peran kata

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: