Apabila usul ditolak tanpa ditimbang suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan dituduh subversif dan mengganggu keamanan maka hanya ada satu kata: lawan! - Peringatan, Wiji Thukul

Saya menyukai kata-kata. Bagi saya, kata-kata adalah perwakilan dari isi kepala seseorang tentang suatu hal yang ingin disuarakan, ingin didengarkan dan ingin diperjuangkan menjadi sebuah gerakan. Saya banyak membaca isi kepala manusia melalui kata-katanya. Salah satunya Wiji Thukul.

Saya mengenal sosok Wiji Thukul dari sebuah obrolan bersama seorang kawan. Pada awalnya saya kira ia hanya seorang penulis puisi layaknya seniman puisi lainnya. Ternyata karyanya lebih dari sekadar susunan kata berima. Puisi-puisi Wiji Thukul lebih bersuara dan menggema meski sosoknya kini tak tau rimbanya.

Wiji Thukul adalah sastrawan dan aktivis pro-demokrasi yang giat melawan penindasan rezim Orde Baru. Menjelang kejatuhan Presiden Soeharto pada tahun 1998 sampai sekarang Thukul dinyatakan hilang dengan dugaan diculik oleh militer Orde Baru.

Tak hanya Thukul, berdasarkan data Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), praktek penghilangan paksa di Indonesia terjadi dalam dua pembabakan. Babak pertama terjadi selama pemerintahan Orde Baru mulai dari tahun 1965 (peristiwa pembantaian massal PKI dan pendukung Soekarno yang di PKI-kan), 1984 (peristiwa kerusuhan Tanjung Priok), 1989 (peristiwa Talangsari, Lampung), okupasi di Timor Timur, peristiwa sepanjang tahun 1997-1998 (penculikan aktivis pro-demokrasi). Babak kedua terjadi selama orde reformasi yakni pemberlakuan Daerah Operasi Militer di Aceh dan Papua.

Pada pekan terakhir bulan Mei, dunia internasional memperingati Pekan Penghilangan Paksa Internasional. Begitu pula yang yang dilakukan KontraS. Dalam memperingati Pekan Penghilangan Paksa, KontraS menggelar Festival Malam Lampion di Taman Aspirasi, Jakarta Pusat (26/05). Acara ini dihadiri oleh sejumlah aktivis, keluarga korban, seniman, dan mereka yang peduli dan berharap keadilan di negeri ini.

Mereka yang pergi dan tak pernah kembali..

Maria Sumarsih, Ibu korban tragedi Semanggi I (Foto: Asumsi.co)

Dolorosa, aktivis dan teman korban penghilangan paksa yang hadir malam itu berkisah tentang empat temannya yang hilang saat tragedi 1998. “Kalau mereka tidak dihilangkan paksa, mungkin mereka ada di sekitar kita dalam keadaan sehat, kemudian tumbuh dewasa dan mungkin saya dan teman-teman saya menjadi tua bersama dan tetap bersahabat. Tetapi itu tidak terjadi sampai hari ini.” ungkapnya nanar.

“Kadang-kadang ketika saya makan, jalan ke suatu tempat, ada satu saat saya tiba-tiba teringat mereka. Ketika menonton film, ada satu adegan kecil, saya teringat mereka, hal itu ada terus ada dalam hidup saya. Juga ada dalam kehidupan orang tua mereka, saudara, pasangan, kekasih mereka. 20 tahun sudah tidak tahu kabarnya seperti apa. Belum ada terjawab, di mana mereka berada.”

Dolorosa tidak sendiri, ia bersama sejumlah keluarga korban kasus pelanggaran HAM tetap berdiri tangguh, menunggu keseriusan Negara mengungkap kasus ini. Mereka berharap ada titik terang, hidup atau mati orang-orang yang mereka kasihi.

Sama halnya dengan Dolorosa, Maria Sumarsih, ibu dari korban mahasiswa Universitas Atma Jaya yang tewas saat Tragedi Semanggi I, pun tak lelah berjuang. Bersama KontraS dan Jaringan Relawan Kemanusiaan (JRK), ia menggagas Aksi Kamisan pada 18 Januari 2007.

Aksi diam setiap hari kamis  di seberang Istana telah dilakukan sebanyak 539 kali itu belum ada tuntutan yang berhasil dipenuhi Negara. Meski begitu, Maria Sumarsih, para korban pelanggaran HAM beserta keluarga, dan para pejuang HAM tak pernah lelah menyuarakan tuntutannya kepada Negara.

#20thReformasi
#MelawanGelap
#JanganGelapLagi
#MasihIngatKawanku

Bagikan ini:

Menyukai ini:

Suka Memuat...
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: