pesantren salafiyah
Ruang Perempuan

NU, Pesantren Salafiyah dan Kebebasan Diri

Menyebut NU (Nahdlatul Ulama) tentu ingatanku akan selalu terkenang Almarhum Mak Nyai (mbah laki-laki). Seorang warga Nahdliyin yang begitu mencintai ulama-ulama NU. Ia seorang blater, meski tidak pernah mengeyam pendidikan pesantren, ia konsisten memasukkan anak hingga cucunya ke pesantren-pesantren salaf. Pesantren khas NU. Ia punya pendirian bahwa penting belajar agama dan akhlak. Menyempurnakan sholat dengan mempelajari ilmu Fiqih dan Tauhid.

Aku ingat betul betapa marah dan kecewanya ketika lulus Sekolah Dasar (SD) aku langsung dimasukkan ke pesantren. Salafiyah pula. Sedangkan keinginanku bisa lanjut ke SMP sebagaimana teman-temanku yang lain. Tetapi siapa yang berani melawan perintahnya? Mau tidak mau, aku tetap di mondokin di pesantren pilihannya.

Dalam tradisi pesantren salafiyah, tidak ada pendidikan formal, hanya fokus pendidikan agama. Maka berkutat dengan kitab kuning atau kitab gundul adalah hal biasa karena kitab kuning menjadi rujukan utama. Untuk bisa membaca kitab kuning, santri dibekali ilmu dasar Nahwu Shorrof agar kemampuan bahasa arabnya lebih bagus. Pada tingkat dasar biasanya Kitab Al-Ajurumiyah (Nahwu) dan Kitab Amtsilah At-Tashrifiyah (Shorrof). Dua kitab ini menjadi pengantar santri agar memahami isi kitab kuning.

Gak cuma itu saja, ada pelajaran tentang ilmu Ushul Fiqih, akhlak, pembagian hak waris (Faroidh), sejarah islam (Tarikh), Tauhid, Hadist dan tafsir Al Quran. Kitab-kitabnya disesuaikan dengan tingkatan kelas santri. Mulai dari kitab dasar untuk kelas pemula hingga tingkat tinggi untuk kelas yang lebih tinggi lagi.

Bulan-bulan pertama mondok, masa beradaptasi yang paling berat. Belajar agama sebenarnya bukan hal yang baru bagiku. Di Madura, di tempatku tinggal, selain sekolah SD di pagi hari, di siang hari kami juga sekolah madrasah. Sekolah khusus yang mempelajari ilmu agama. Sama seperti SD, enam tahun masa belajarnya. Jadi ketika mondok hanya tinggal menyesuaikan saja. Namun, bagiku saat itu aku punya keinginan lain untuk masa depanku. Aku berpikir mondok hanya akan mengurungku dan menjauhkanku dari impianku. Aku juga takut setelah lulus langsung dijodohkan, dinikahkan sebagaimana perempuan lainnya.

Permintaan berhenti mondok gak pernah didengerin. Hampir setiap kunjungan orang tua, aku nangis minta dipulangin. Merasa tidak mampu mandiri di pondok. Kegiatan sehari-hari penuh dengan belajar. Pagi hingga siang sekolah, lanjut mengaji Al Quran, Istigotsah, Diba’an, kajian kitab kuning tambahan hingga muthola’ah sebelum waktu tidur. Belum kewajiban menghafal nadhoman atau surat-surat Al Quran.

Beruntung pada masa aku mondok, Kiai memberikan kami kesempatan untuk ikut program Paket B setara SMP. Jadi meski tidak menempuh dan mengalami masa pendidikan formal SMP, santri masih bisa memiliki ijazah Paket B. Ijazah Paket B inilah yang mengantarku makin yakin untuk lanjut ikut Paket C hingga berkesempatan bisa kuliah.

Pesantren salaf kerap dianggap kolot padahal di situlah letak barokahnya para Kiai dan Ibu Nyai. Di pesantren ku dulu, santri memang terlibat dengan segala kegiatan keluarga dalem (keluarga kiai). Ada yang kebagian tugas masak, bersih-bersih, mengasuh lora dan neng (anak kiai), cuci dan sebagainya. Tugas tambahan inilah yang diyakini para orang tua bisa mendapatkan barokah kiai. Mereka beranggapan, ilmu yang barokah, meski itu sedikit akan selalu bermanfaat. Oleh karenanya, di keluarga kami dan mayoritas orang Madura, pesantren salaf masih menjadi lembaga pendidikan primadona. Sayangnya citra pesantren sekarang harus ternodai oleh kasus kekerasan dan kekerasan seksual.

Mengenyam pendidikan di pesantren salaf selama enam tahun, telah merubah persepsiku sepenuhnya jika mondok akan memenjarakanku. Bahkan ketakutan akan dinikahkan bisa ku patahkan sendiri.

Mondok secara fisik memang menjauhkanku dari dunia luar. Tetapi ia juga menjagaku. Di sana, pikiranku justru terbebaskan dan menemukan apa yang paling aku impikan. Belajar agama tidak menjauhkan justru mendekatkan dengan banyak hal. Beragama tidak memenjarakan tetapi membebaskan pikiran dan tubuhku.

Memasuki abad ke dua NU, aku tentu berharap pesantren salaf masih terus eksis. Masih banyak santri, pengkaji kitab kuning dan penghafal nadhoman, Hadist, Al Quran. Amin.

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!