perempuan
Ruang Kata & Rasa

Perempuan Musim Kemarau

Musim kemarau tengah mencapai puncaknya. Sumur kering, air di sungai terlalu dangkal untuk diciduk gayung. Pepohonan yang tumbuh di sekitar bibir sungai nampak lesu karena dedaunan telah lama meninggalkan dahannya. Sawah kering kerontang, tanaman jagung mati sebelum panen, pun tanaman lain di ladang. Debu-debu berterbangan tanpa jeda, tanpa harus ada yang menginjak atau menyentuhnya. Udara menjadi lebih panas ketika siang hari, gerah dan lengket. Lalu berubah menjadi lebih dingin kala malam hari. Embusan angin yang cukup kencang menambah gigil.

Beberapa penduduk sudah lebih dulu merantau ke ibu kota sebelum keadaan semakin memburuk. Selagi uang simpanan cukup untuk mengongkosi perjalanan dan mencari majikan yang membutuhkan jasanya. Beberapa yang lain, ada yang beralih profesi menjadi awak kapal nelayan di kampung sebelah. Atau menjadi kuli bangunan, kuli panggul di toko bangunan, pasar. Pekerjaan apapun yang sekiranya dapat membeli beras dan lauk pauk. Syukur jika sampai membayar biaya sekolah anak.

Di ambang perubahan waktu, antara sabtu dan minggu, ketika matahari nyaris tenggelam, seorang perempuan berusia hampir seabad berjalan tergopoh ditopang tongkat kayunya, menuju rumah tua di pinggiran desa. Mak Areh, namanya. Mak Areh seorang dukun beranak yang tersohor dan banyak membidani kelahiran anak manusia. Popularitasnya tetap tak terkalahkan meski profesi bidan dan dokter mulai dikenal di desa-desa. Mak Areh masih menjadi satu-satunya tujuan ibu hamil atau ibu yang anaknya kerap sakit.

Berobat atau persalinan dengan Mak Areh tak seruwet seperti di layananan kesehatan: harus terdaftar atau mendaftar dengan serangkaian foto kopi identitas diri. Pasien cukup berkabar, Mak Areh akan datang secara sukarela. Ia tak mematok biaya, apapun yang disodorkan pasien ia selalu terima. Baik itu uang, makanan, hasil panen atau hanya ucapan terima kasih saja.

Langkah perempuan tua itu semakin intens ketika tiba di halaman berpagar bambu yang telah kelabu oleh tumpukan debu. Terdengar suara rintihan perempuan dari balik bilik rumah. Tanpa permisi, Mak Areh melenggang masuk. Didapatinya Aminah tengah duduk di sisi dipan dengan wajah banjir keringat, nafasnya naik turun dan berusaha menahan rasa mules luar biasa. Mak Areh menutup pintu, membuka jendela dan segala yang tertutup atau terkunci dengan harapan proses kelahiran diberikan kelonggaran.

Mak Areh meminta Aminah duduk menghadap posisi utara yang menurut perhitungannya akan memberikan keselamatan pada ibu dan si jabang bayi. Tak lupa mengganjal punggung Aminah dengan bantal, sebagai pengganti badan suaminya yang tak bisa menemaninya. Aminah menurut, Ia sadar kini seorang diri. Bahkan ketika Mak Areh merapal doa dan mengelus ubun-ubunnya tiga kali, yang seharusnya dilakukan oleh sang calon bapak, Aminah menyimpan sesak di dadanya. Rasa sakit di perutnya menjadi lebih penting dibandingkan rasa sakit yang sebelumnya ia rasakan. Rasa sakit yang ia harapkan menjadi obatnya untuk kembali menjadi manusia yang memiliki makna.

Mak Areh memulai prosesinya. Prosesi yang dianggap telah ketinggalan zaman, berbahaya dan menurut tenaga kesehatan seharusnya tidak dipraktikkan lagi. Aminah mengikuti setiap kata yang diucap Mak Areh.

“Tarik napas, buang. Ulangi,”

“Ngeden!”

Ada kalanya Aminah merasa tak kuat, tenaganya perlahan habis. Beberapakali ia merasa sakit luar biasa dan mengejan, bayi itu seolah enggan keluar dari jalan lahirnya. Ingin sekali menyerah namun berkali-kali ia meyakinkan diri, mengumpulkan tenaga untuk kembali mengejan. Mengingat rasa sakit kadang memberikan kekuatan yang tak terkira. Ia menegaskan, ini akan menjadi rasa sakit terakhir yang akan dia rasakan. Maka harus dituntaskan.

“Badrus bangsatttttt!!!” pekiknya sekuat tenaga. Kalimat itu terlontar begitu kuat bersamaan puncak rasa sakit hingga mendorong tubuh bayi dan kembarannya/ari-ari melewati jalan lahirnya. Seorang bayi perempuan lahir, tangisnya memecah sunyi petang itu. Aminah terkulai lemas, kelegaan yang harusnya dia rasa justru kegamangan terasa menjalari kepalanya. Sudah tuntaskah rasa sakitnya?

Mak Areh memotong tali pusat dengan sembilu kecilnya, memisahkan si bayi dengan kembarannya. Ia lalu membersihkan tubuh bayi, dibedong dengan kain jarik, dipupuki param dahinya lalu diserahkan kembali ke dalam pelukan Aminah. Aminah terisak, pada akhirnya Ia berjumpa dengannya. Aminah mendekapnya erat untuk berbagi hangat dan merasakan kembali detak jantungnya yang seirama.

Ia lalu melantunkan adzannya sendiri di telinga bayi. Menyusul adzan yang sayup-sayup terdengar dari masjid di tengah kampung sana. Aminah larut dalam keharuan hingga sebuah pertanyaan menyentakknya.

“Mak, apakah anak yang lahir tanpa serentetan selametan akan menjadi anak yang baik?” tanyanya, getir. Sejak ia menyadari kehadiran manusia baru di perutnya, Aminah tak pernah sekalipun mengadakan acara selamaten. Baik itu acara nanda’i (bulan pertama kehamilan), empat bulanan atau pelet kandhung (tujuh bulanan).

Belum sempat Mak Areh memberi jawaban, Aminah sudah melemparkan pertanyaan lagi.

“Apakah anak yang lahir tanpa Bapak akan menjadi anak yang bahagia?”

“Apakah anak yang lahir dari ibu yang miskin akan menjadi nestapa sepanjang hidupnya?”

“Apakah anak ini akan mewarisi kesialan ibunya?”

Mak Areh berjeda dari kesibukannya meramu param, beringsut ke sisi Aminah. Membersihkan sisa darah di selangkangannya, mengganti sarung lalu menyeka sisa peluh di beberapa bagian tubuhnya.

“Bayi ini akan memiliki takdirnya sendiri, tidak ada kesialan yang diwariskan. Ada bapak atau tidak ada, ia tetaplah anak manusia. Kebahagiaan atau kenestapaannya tidak ditentukan dari siapa bapak atau ibunya. Yang perlu kamu lakukan saat ini adalah memberikan haknya. Susui dia!” tegas Mak Areh.

****

Aminah tahu ketika pinangan dari seorang lelaki dia terima, hidupnya tidak lagi tentang dirinya. Dia akan hidup dengan masa lalu dan masa depan suaminya. Yang tidak dia tahu adalah apakah suaminya berkata jujur atau berbohong demi mendapatkan pinangan dan warisan almarhum orang tuanya.

Aminah seorang yatim piatu sejak lulus SD. Diasuh oleh Pak De dan Bu De hingga dia dianggap cukup usia untuk dinikahkan dengan kenalannya. Ponakan yang baru bau kencur itu dikawinkan dengan lelaki tua bangka, seorang kepala desa dengan dengan tiga istri. Aminah jelas tak tahu, yang ia tahu ia dijemput di rumah Pak De dengan status ia telah menjadi istri orang.

“Sudah, Nduk. Terima saja, syukur ada yang mau menafkahimu. Kamu tak perlu bersusah payah menjadi buruh seperti kawan-kawanmu itu. Kalau kamu terus menolak, bisa jadi perawan tua.” Itu jawaban Pak De saat Aminah menyatakan keberatannya. Tetapi kuasa Pak De memang setara bapaknya, yang dianggap sah menikahkan anak perempuan tanpa persetujuannya. Hanya tiga bulan, ya tiga bulan Aminah dipulangkan kembali ke rumah Pak De karena dianggap pembawa sial. Pada pemilihan Kepala Desa, sang kades kalah, tak lagi terpilih. Padahal menurut dukunnya, jika ia menikahi perawan sebagai penggenap istri ke empat, masa kejayaannya akan langgeng.

Menyandang status baru sebagai janda adalah petaka bagi Aminah. Jika sebelumnya ia lebih mudah mencari pekerjaan sebagai buruh di sawah atau tukang cuci di rumah juragan, kali ini tak ada yang mau menggunakan jasanya. Mempekerjakan seorang janda seperti memberi umpan ikan pada kucing. Ia ancaman bagi para istri, khawatir suaminya tergoda oleh si janda. Bu De pun seolah tak mau ketiban omongan miring tentang statusnya, meminta Pak De menyudahi pengasuhannya. Toh, dia sudah besar, pak.

Aminah akhirnya kembali ke rumah orangtuanya yang telah ditinggalkan selama puluhan tahun. Di sanalah Ia mulai membangun kembali hidupnya dan bertemu Badrus, seorang pekerja proyek dari kota. Aminah jatuh cinta padanya, Badrus yang selalu berpenampilan klimis dengan rambut tersisir rapi, lengan baju yang terlipat dan beraroma matahari yang khas. Badrus yang selalu menerima dirinya, menganggapnya istimewa dan mengimpikan hidup bahagia bersama anak-anaknya kelak. Badrus menjanjikan masa depan yang Aminah inginkan. Jadi untuk apa menolak pinangannya?

Tanah ladang baru diolah. Masih tercium aroma segar tanah bekas dicangkul. Nampak bedengan membujur hingga batas ladang. Bibit jagung di ember siap untuk ditanam. Namun yang ditunggu Aminah untuk membantunya menebar bibit tak jua datang. Badrus berpamitan pergi ke kecamatan untuk mengurusi surat tanah yang katanya sudah selesai. Surat tanah dari sebidang ladang warisan orang tua Aminah yang dulunya diparon Pak De. Lelaki itu pergi dengan tergesa setelah Aminah menandatangi surat yang ia sodorkan. Aminah memutuskan menebar benih sendiri.

Dua kali musim panen jagung, sejak kepergiannya ke kecamatan, Badrus tak pernah pulang. Yang pulang dan kerap berkunjung padanya adalah cerita-cerita tentang siapa sebenarnya lelaki yang ia nikahi itu. Aminah teguh, tak memercayai satu pun cerita-cerita itu. Ia tetap menunggu Badrus pulang untuk menjawab semua penyangkalannya.

Pada musim tanam jagung berikutnya, Aminah membiarkan ladangnya tak terolah. Kehamilannya sudah memasuki trimester ke tiga. Ia tak sanggup bekerja sendiri, uangnya pun tak cukup membayar upah buruh. Ia mulai sibuk menabung amarah dan sumpah serapah. Apalagi saat sekelompok orang mendatanginya dan mengklaim sepihak bahwa ladangnya telah berganti kepemilikan. Aminah muntab.

****

Ari-ari telah dimandikan, berikutnya diletakkan dalam periuk tanah liat setelah lebih dulu dibungkus kain putih. Di atasnya diletakkan aneka bumbu dapur dan garam, dengan harapan kelak ia selalu berkecukupan. Tak lupa benang, jarum dan secarik kertas yang berisikan nama si bayi, Amira. Ditutupnya dengan kalimat Alfatihah. Ketika Mak Areh bersiap menguburnya di belakang rumah, Aminah menolak.

“Kubur Ia di depan rumah, Mak! Terlahir sebagai perempuan bukan cela. Kenapa harus dikubur di belakang rumah?”

Mengubur ari-ari bayi perempuan di belakang rumah, sedangkan bayi laki-laki di depan rumah merupakan kepercayaan turun temurun. Bahkan seharusnya prosesi ini dilakukan olah sang bapak. Peran bapak menjadi sangat penting dalam proses dan prosesi terciptanya anak manusia, mulai dari masa awal kehamilan, kehamilan, kelahiran dan masa tumbuhnya. Tetapi sesungguhnya Aminah telah muak dengan peran lelaki yang selalu disegalakan, diutamakan dalam berbagai hal di kehidupan. Tiada atau meniadakan laki-laki seolah menjadi cela.

Malam musim kemarau memang lebih dingin, tetapi langit menjadi lebih terang. Berbagai gugusan bintang nampak cemerlang di kelam langit. Di depan rumah, Mak Areh menggali lobang seukuran periuk dengan kedalam setengah meter. Aminah memindahkan periuk dari dekapannya ke dalam lobang, menimbunnya kembali dengan tanah. Menyiramnya dengan air bunga mawar, lalu menyulut pelita, damar kambang.

Aminah menengadahkan tangannya, membaca doa yang ia rapal selama kehamilannya. Ia percaya, doa yang dibacakan oleh perempuan juga akan sama menembus langit, sampai kepada Tuhannya.

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!