Relikui rasa
Ruang Kata & Rasa

Relikui Rasa

Meski aku sisa-sisa dari yang tersisa di hidupmu, aku mencintaimu
Menjadi bagian dari hidupmu adalah perjalanan terindah ruhku

Apa yang ada dalam diri manusia dan kehidupannya tak pernah menjadi pasti. Selalu ada ketidakpastian. Selalu ada kemungkinan-kemungkinan untuk tidak menjadi pasti. Bergerak, terhenti, bergerak lagi, terhenti lagi, lalu berulang kembali. Berulah, berubah, berulah, berubah, dan berulang.
Baik, terkadang buruk.
Buruk, terkadang baik.
Cinta, tetapi ia terluka
Terluka, tetapi ia cinta.

*****

40 Minggu yang Hangat dan Keparat

Aku seharusnya tidak ada. Tidak ada dalam waktu secepat ini.
Aku pernah menjadi impiannya. Sungguh. Keinginan itu pernah ia ungkapkan saat melihat anak tantenya yang lucu dan menggemaskan. Bahkan ia tak henti menggendong dan menciumi pipinya yang ranum. Ia katakan, kelak ia ingin punya anak. Tapi kehadiranku justru menjadi mimpi buruk baginya. Ia menangisi dan menyesali keberadaanku. Ia sebut pula keberadaanku telah merubah jalan hidupnya. Tapi aku bisa apa? Tuhan dengan segera menempatkanku di rahimnya dan menjadi bagian dari dirinya. Tuhan yang memiliki kehendak dan telah mengatur hidupku, bahkan jauh sebelum ia mengucap impian itu.

Di minggu-minggu awal penciptaanku, hal pertama yang ku ingat adalah ruangan maha sempit, basah, gelap, sepi namun hangat. Di masa itu, di setiap malamnya, kudengar lenguhan panjang dan isak tangisnya. Di malam yang lain, mulutnya mengumpat dan sesekali melakukan upaya memisahkan diriku dari dirinya.
Ia sungguh membenciku, teramat benci. Ia berharap aku lenyap bersama minuman dan makanan aneh yang dimakannya, lebur menjadi darah atau lenyap dengan sendirinya, sebagaimana mitos yang sering terjadi. Sungguh, ia berharap aku diculik jin atau makhluk halus pemakan janin. Dan, tiba-tiba perutnya yang kembung menjadi kempes. Aku lenyap entah ke mana. Sayangnya, jin atau makhluk halus sedang tidak berhasrat menculikku. Aku masih bergelung dalam rahimnya yang hangat.

Kadang aku merasa kasihan padanya. Nikmat saat itu bukan hanya ia sendiri yang menikmatinya, kenapa harus ia sendiri yang menanggung akibatnya? Setidaknya, ia datang pada lelaki yang membuahinya, menuntut pertanggung jawaban, dan menghancurkanku bersama-sama. Agar tidak hanya dirinya yang dianggap jalang, berdosa dan justifikasi menyakitkan lainnya. Impas, bukan?

Kenapa ia memilih pusing sendiri? Sibuk menyalahkan Tuhan yang mengabulkan permintaannya begitu cepat dan di situasi yang tidak tepat. Kenapa Tuhan tidak mengabulkan permintaannya yang lain saja? Seperti impiannya bisa menjadi legislator ulung. Ah, jika impian itu terlalu cepat untuk diwujudkan, setidaknya impian itu berproses lewat kelulusan SMA dengan nilai yang memuaskan. Ia kemudian masuk universitas unggulan lalu berproses menjadi mahasiswa, berkutat dengan buku-buku, jurnal, penelitian, & (yang selalu membuatnya antusias) turun ke jalan bersama organisasi kampus untuk memprotes para wakil rakyat yang ongkang ongkang kaki di Senayan. Mempertanyakan kinerjanya sebagai wakil rakyat yang terhormat. Kenapa mereka makin kaya sementara rakyat yang memilihnya kian merana.

Barangkali ia lelah dengan sendirinya, lelah dengan upayanya yang tak membuahkan hasil. Ia pun memilih berdamai denganku, ia mulai menerimaku. Lalu kudengar lagi, tangisnya dan penyesalan-penyesalan atas apa yang ia lakukan padaku. Ia tak henti meminta maaf, berkali-kali, berulang tiap waktu.

Tuhan, sudahkah aku berkelamin? Jika belum, bolehkah aku menjadi lelaki? Aku benci menjadi perempuan, tak memiliki kuasa atas hidupnya, seperti dirinya.

Wajah Bahagia

Pagi buta Ia bangun. Nyaris bersamaan dengan kokok pertama ayam jantan piaraan tetangga. Kau bertanya, kenapa aku tahu? Ya, sebab akulah yang membuatnya terbangun. Lalu aku mendengar bunyi kokok ayam setelahnya. Aku merengek minta ditetek. Ia bangun, memenuhi permintaanku. Lalu aku kembali tertidur.
Terbangun lagi saat aku merengek karena tiba-tiba mules. Ia mengulang adegan yang sama, menyusuiku. Tapi tetap saja aku merengek bahkan mulai menangis. Aku tak mau menetek dan untungnya Ia paham dengan rengekan keduaku di pagi ini. Aku sedang buang air besar.

Saat popokku penuh dengan residu makanan yang hampir tiga hari ini mengendap di lambungku, tak ada desahan, apalagi umpatan. Ia justru bahagia dengan kotoran yang kukeluarkan. Itulah wajah bahagia yang pertama kali ku lihat di wajahnya. Saat aku lahir, wajah bahagia itu tak tampak sama sekali. Ia justru menangis kencang, nyaris menyaingi tangisanku. Tangisnya makin pilu manakala tubuhku diletakkan di dadanya, menyentuh kulit dan merasakan kembali detak jantungnya setelah beberapa menit dipisahkan karena diharuskan menghadap dunia. Orang-orang menganggapnya tangisan bahagia. Tapi aku sangsi, bagaimana mungkin kehadiranku yang tak pernah diharapkannya mendatangkan kebahagiaan baginya? Bisa jadi, kelahiranku adalah hari yang paling menakutkan dan tak ingin Ia hadapi.

Jika selama enam bulan ini (setelah tiga bulan pertama melewati proses penolakan) Ia mulai menerimaku menjadi bagian dari kehidupannya, itu karena tak ada pilihan lain. Dan mungkin saja karena aku belum nampak sebagai “aib” utuh karena masih dalam kandungan.

Wajah bahagianya yang ke dua, aku lihat saat aku membuat keributan di sebuah wisuda TK. Aku mengigit tangan ibu temanku karena ia sungguh tidak sopan memanggilku anak haram. Lalu wajah bahagia lainnya ku temukan diam-diam, ketika ia melihatku bisa mengikat sepatu sendiri, bisa mengendarai sepeda, bangun pagi tepat waktu, memakai seragam baru, rapor sekolah, foto kelulusan SD-SMP-SMA, lulus ujian masuk perguruan tinggi, memakai jas almamater, aku pergi bersama teman, memiliki seorang pacar, dan hal-hal sepele seperti ketinggalan buku catatan dan ia menawarkan diri mengantarkan ke kampus. Aneh rasanya mengetahui jika kebahagiaan bisa kau dapatkan dari sumber rasa sakit. Dan lebih aneh lagi ketika aku mendapati diriku tersenyum melihat rona bahagia di wajahnya.

Mengulang Tahun

Apa yang kau lakukan ketika lapar? Segera makan, sebanyak-banyaknya. Lalu berhenti ketika sudah merasa kenyang. Lalu menyesali ketika kau merasa terlihat gemuk setelahnya.
Demikian pula cinta yang kupahami. Jatuh cinta, menjalin suatu hubungan, putus hubungan, lalu menyesal dengan apa yang ditinggalkan. Beruntunglah jika hanya kenangan yang ditinggalkan. Bagaimana jika yang ditinggalkan berupa seorang manusia?

Sepanjang hidup, kau hidup dalam kenangan! Kau benci tetapi dipaksa untuk menerima, berdamai dan menjadikannya dari bagian hidupmu. Setiap menit, jam, hari, bulan, tahun, di sepanjang hidupmu, kau akan terus bersinggungan dengannya. Ia akan menjadi pengingat tentang dosa-dosamu di masa lalu, yang mungkin telah termaafkan tapi tak terlupakan. Ia semacam stempel hidup, yang bisa dikenali hanya dengan melihatnya.

Dan, hari ulang tahun adalah satu hari paling berat di antara 364 hari lainnya. Bukan, bukan karena tak seperti hari ulang tahun teman-temanku yang meriah dengan kehadiran badut lucu, kue ulang tahun cantik, balon, terompet, kostum bak putri raja ataupun kado-kado. Bukan juga karena tak ada perayaan sweet seventen yang berkesan itu. Bukan, sungguh bukan itu.

Hari ulang tahunku adalah hari mengulang kenangan rasa sakit. Bagaimana mungkin kau merayakan rasa sakit dengan meniup lilin, memotong kue, menyanyikan lagu ulang tahun dengan riangnya dan memberi sebuah kado? Aku pun cukup tau diri, tak pernah meminta dan tak pernah mempertanyakannya. Akulah sumber rasa sakitnya. Tidak cukupkah ia disiksa dengan berpura-pura menerimaku dan bahagia setelahnya? Lagipula, haruskah kurayakan kelahiran diriku yang dicap banyak orang sebagai anak haram? Apa istimewanya menjadi anak haram? Maka, hari ulang tahunku adalah hari paling berkabung. Aku dan dia memilih sendiri, menghabiskan waktu dengan sepi.

Bukan sebenar-benarnya sepi, karena ternyata alam pikiran ramai sekali. Dia menangis, aku mulai mengutuk diriku sendiri. Kenapa aku harus lahir? Kenapa aku harus membencinya? Kenapa aku harus melukainya? Kenapa aku terus menyakitinya? Kenapa aku sangat mencintainya? Kenapa aku tak bisa mengungkapkannya? Kenapa aku begitu pengecut? Kenapa aku tak bisa membahagiakannya? Kenapa kita tidak bisa berjalan berdua, tidak selalu berseberangan? Kenapa tidak menjadi ibu dan anak selayaknya?

Lalu setelah 25 tahun tanpa perayaan atau sekadar ucapan, malam itu ia datang ke kamarku membawa sebuah kotak persegi empat. Ia duduk di pembaringanku sembari membuka kotak dan mengeluarkan beberapa lembar kertas di dalamnya. Hening. Hanya detak dari detik jam dinding yang terdengar. Matanya mulai menekuri kalimat-kalimat yang terangkai di dalamnya.
Hening. Bunyi berikutnya, embusan napasnya yang berat, gemerentak gigi, desahan kecil serupa tangisan.
Tak lagi hening, tangisnya pecah. Lalu ia merengkuhku, erat dan hangat.

Sisa-sisa dari yang Tersisa

Aku diciptakan oleh-Nya untuk mencintaimu
Itu ikrar kedua setelah ikrar pertamaku mengenai keberadaan-Nya
Maka aku memulai perjalanan ini
Kala Tuhan meniupkan ruh ku ke dalam rahim mu.
Aku belajar mengenalmu dari usapan lembut di perut, makanan yang kau bagi, bahkan dari rasa sakit yang kau beri.
Saat Dunia menarikku dari tempat ternyamanku, aku mulai mengenalmu tanpa sekat.
Mengecap hambar dari tetes putih yang kau beri, yang mendarah daging, mengubah tubuhku yang ceking
Menjejaki jalan panjang pikiranmu agar aku menemukan ujung untuk berkunjung
Namun aku tersesat dan justru bertemu dengan mulut-mulut pedas dan aku dibuatnya kebas
Ku cari jalan lain menuju hatimu, tempat paling mudah dijamah
Nyatanya pun tak bisa
Aku semakin jauh dari rumah pikiran dan hatimu
Aku mulai meracau, menjadi kacau-balau
Lalu elegimu menuntunku
Menjadi pelita di tengah gelap gulita
Kau meringkuk nyaris mati di sana, tapi wajahmu berbahagia
Oh Tuhan, apa wajah bahagia t’lah berubah? Atau aku yang tak pernah tahu apa itu bahagia?
Ketika selangkah lagi menuju pikiran dan hatimu
Pikiran dan hatiku terhenti sebab sudah waktunya ruh ku kembali pada keabadian
Meski aku sisa-sisa dari yang tersisa di hidupmu, aku mencintaimu
Menjadi bagian dari hidupmu adalah perjalanan terindah ruhku
Mama..

Perempuan yang merasa merdeka melalui peran kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: