Setara.

“Aku selalu percaya, kami berdua dilahirkan bersama. Tak ada yang lebih dulu, tak ada yang lebih tahu. Bukan dia yang lebih tua, bukan pula aku yang lebih kuasa.”

(Cerpen Perempuan Pertama dalam Kumcer Yang Bertahan dan Binasa Perlahan, Okky Madasari )

Demikian kepsyen yang gue tulis di Instagram untuk melengkapi foto bertuliskan “Saya feminis”. Kepsyen itu gue tulis setelah cukup lama mengarang dan mencari kepsyen yang tepat untuk melengkapi foto itu. Ini nih yang harus gue akui, menulis kepsyen di Instagram ternyata lebih sulit dibandingkan menulis artikel, cerpen, cerbung ataupun tulisan lainnya.

Sungguh.

Bukan sombong apalagi mengharap like banyak, menulis kepsyen di Instagram artinya gue harus memberi interpretasi pada sebuah foto. Dan tentu aja perkara menginterpretasikan sebuah objek bukan hal yang mudah. Nah, setelah cukup lama menimbang dan mencari kepsyen yang tepat, akhirnya gue pilih kata SETARA dan dilengkapi dengan penggalan cerpen idola gue, Okky Madasari.

Kepsyen udah dapet, greget. Lalu pertanyaan berikutnya adalah benarkah gue seorang feminis? Atau malah ngaku-ngaku feminis biar terlihat keren di foto.

Jadi begini, gue hidup di lingkungan dan tradisi yang mengikat kuat perempuan dengan norma-norma agama dan etika. Budaya patriarkinya jangan ditanya lagi. Perempuan menjadi kelas dua dalam tatanan keluarga maupun lingkungan sosial. Status itu akan berubah kala perempuan menjadi seorang ibu. Lah iya dong, surga berada di bawah kaki ibu. Saat itulah status perempuan setara bahkan diatas laki-laki. Tetapi sebelum itu terjadi, perempuan di lingkungan gue harus manut pada apa yang sudah ditradisikan secara turun temurun.

Misalnya, jika sudah lulus Sekolah Dasar (SD) perempuan sebaiknya sekolah di pesantren, belajar agama dan akhlak agar kelak menjadi istri dan ibu yang baik. Perempuan yang mencapai usia dewasa sebaiknya segera dinikahkan. Dua hal ini menjadi keputusan final yang tak perlu menunggu persetujuan perempuan. Perempuan hanya perlu menerima jika tak mau di cap anak yang tak patuh pada orang tua.

Gue terganggu dengan hal itu. Perempuan seharusnya SETARA dan punya hak untuk menentukan hidupnya sendiri (bukan berarti gue berharap mereka jadi pembangkang).

Gagasan ini pun gue praktekkan sama gue sendiri dan Alhamdulillah gue berkesempatan menikmati “kebebasan” yang tak semua perempuan di lingkungan gue bisa melakukannya. 

Sudah feminiskah gue? Entahlah. Gue gak pernah secara mendalam belajar tentang feminisme, hanya sekadar mengikuti seminar, diskusi, membaca buku feminisme dan update berita isu gender. Gue juga gak terlalu tahu siapa bule pelopor gerakan ini, yang gue paham hanyalah sosok Kartini dan pemikirannya sebagai seorang feminis. Kalau di era kekinian, gue menemukan sosok feminis dalam cerpen sastra yang gue baca. Salah satunya adalah buku kumpulan cerpen Yang Bertahan dan Perlahan Binasa karya mbak Okky Madasari.

Dari cerpen “Perempuan Pertama” inilah gue makin yakin bahwa manusia diciptakan Tuhan setara, SETARA. Jika lelaki mendapatkan pendidikan tinggi, perempuan pun harus. Begitu pun di berbagai hal lainnya.

Bagikan ini:

Menyukai ini:

Suka Memuat...
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: