Ruang Kata & Rasa

Sebab Aku Mencintaimu, Maka Aku Tak Lepas Mendoakanmu

Aku mencintaimu dalam benciku.

Sudah berapa lama kita tak bersua sebagai seorang manusia? Tak terbilang tahun. Sebab ketika kita berpisah untuk kali pertama, kita masih terikat oleh darah yang sama. Kita pun masih berjumpa, dalam sajak-sajak yang kau tulis, kau ucap dan kau titip pada sekawanan merpati. Aku tau saat itu kau masih mencintaiku dengan selayaknya, maka sajak-sajak itu ada.

Pun ketika kau memilih pulang setelah perpisahan yang cukup panjang, kau selalu sediakan tanganmu terlentang. Membiarkanku terperangkap di dalamnya dan tak henti menghujaniku dengan kecupan sayang. Lalu kau merengkuhku dalam pelukanmu yang hangat, bercerita tentang sebuah negeri nun di jauh di sana. Di negeri itu, katamu, semua mimpi-mimpi lebih mudah dikabulkan Tuhan. Sebab di sanalah sebuah peradaban manusia dimulai, ketika Tuhan memilih para utusanNya, memerintahkan mereka menjadi penyelamat dan pemberi rahmat di bumi ciptaanNya.

Kamu pun tak pernah lupa menyebut namaku dalam doa-doamu yang kau pinta kepada Tuhan. Bahkan kau tulis namaku, nama pemberianmu, di antara batu-batu yang menjadi saksi pertemuan Adam dan Hawa. Dengan harap yang sama, di bukit yang penuh kasih sayang itu, aku akan dilimpahkan banyak kasih sayang dan bertemu dengan seseorang yang berlimpah kasih sayang. Tentu saja, tak ada yang lebih romantis selain doamu saat itu. Aku pun memelukmu erat sembari kubisikkan doa yang tak kalah romantis, semoga kau selalu diberi kesehatan dan berumur panjang agar kelak kita bisa pergi bersama ke negeri itu.

Kau tahu, tak ada yang lebih menyenangkan selain bersamamu, bersama cerita-ceritamu dan bersama doa-doamu. Oleh sebab itu, aku mencintaimu dan kau cinta pertamaku.

Lalu datanglah masa itu. Masa ketika kamu pergi untuk ke sekian kalinya dan tak pernah pulang dengan tangan terlentang. Tanganmu mengepal, tak bisa lagi merangkapku. Bibirmu membeku, tak ada lagi cerita-cerita dan doa-doa. Kau lebih banyak memalingkan muka daripada menatapku utuh. Saat itu aku baru menyadari, bahwa ada yang menarik dirimu untuk menjauh, dari ku, dari hidupku. Sesuatu yang mampu memutus ikatan di antara kita. Sesuatu yang kau anggap lebih berharga dibandingkan cinta, ikatan dan kebersamaan yang kita punya.

Tapi tahukah kau, apa yang paling menyakitkan dari sebuah kehilangan? Kenangan akan kehilangan itu sendiri. Tahun-tahun setelah kepergianmu, aku tak pernah baik-baik saja meski nampak baik-baik saja. Kenangan akan kehilangan terus berputar di memoriku, berhenti, mulai lagi, berhenti lagi dan mulai lagi, begitu seterusnya. Ternyata aku tak pernah benar-benar membencimu.

Lalu kubuat sajak-sajak untuk menyampaikannya, sebagaimana dulu yang kau lakukan padaku. Sayangnya tak pernah sampai. Maka doaku, menjadi satu-satunya upaya yang bisa ku lakukan.

Aku masih mencintaimu, maka aku takkan lepas mendoakanmu.

Perempuan yang merasa merdeka melalui peran kata

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: