Ruang Perempuan

Sudah “Isi” Belum? Apakah Menikah Melulu Soal Memiliki Anak & Melanggengkan Keturunan?

Gue selalu mempertimbangkan banyak hal ketika membuat keputusan. Tak terkecuali ketika gue memutuskan menikah yang dianggap oleh kebanyakan orang TELAT. Ya, telat dibandingkan teman sebaya yang sudah duluan nikah dan punya anak. Telat bagi orang yang berpikir pendek dan menganggap kuasa Tuhan hanya sependek pikirannya.

Tuhan punya rencana, punya takdir masing-masing manusianya. Tuhan juga selalu memberikan kesempatan pada manusia untuk mengusahakan apa yang dipilih dan diperjuangkannya. Tak terkecuali gue, salah satu makhlukNya yang diberikan kesempatan untuk belajar dan mengenal banyak hal. Sampai akhirnya gue tiba di keputusan untuk menikah. Proses yang panjang inilah yang gak dipahami banyak orang.

Kenapa gue akhirnya menikah? Gue memberikan kesempatan pada diri gue untuk sembuh dari luka lama. Membiarkan orang yang ternyata memahami dan mau berbagi apapun dari dirinya, masuk ke kehidupan gue. Gue menikah ketika merasa tidak perlu membuktikan apa-apa pada orang-orang yang suka ngomongin status lajang gue. Yang bilang gue inilah, gue itulah. Gue menikah tanpa beban itu dan itu nyaman. Karena pilihan menikah atau tidak, itu sepenuhnya menjadi hak gue. Orang lain tidak berhak atas itu.

Sudah Isi Belum?

Tak terbilang waktu sejak dari seorang menjadi sepasang. Gue menikmati masa pernikahan. Belajar menjadi pasangan yang saling membutuhkan dan saling berbagi peran. Kami menjajal banyak hal baru, menjelajahi tempat baru dan saling terlibat dengan hobi masing-masing. Misalnya gue yang suka tanaman, dia selalu ada waktu ikut terlibat di dalamnya. Entah sekadar nyiram tanaman, nganterin ke toko tanaman, berdiskusi soal tanaman yang cocok untuk diletakkan di kamar hingga akhirnya dia tertarik membeli tanaman yang dia suka. Hal kecil tetapi itu membahagiakan. Begitu juga sebaliknya ketika gue ingin terlibat di hobinya bersepeda, dia antusias, senang sekali.

Dan gue lupa, bahwa gue bagian dari masyarakat yang kebanyakan punya konsep hidup kira-kira seperti ini: menikah, punya anak, nambah anak, menua bersama hingga waktu ajal tiba. Seolah-olah jalan hidup manusia hanya ditentukan oleh runtutan tersebut. Jika tidak sesuai, maka bersiaplah untuk ditanya dan distigmai macam-macam.

Baru hitungan bulan, pertanyaan “sudah isi belum?” kerap gue temui. Terdengar biasa, tetapi rasanya tidak sesederhana itu. Apalagi setelah diberi jawaban, mereka akan memberikan pertanyaan lanjutan atau opininya. Misalnya, “pakai kontrasepsi ya? Kalau masih muda jangan, nanti susah punya anak.” Jangan menunda punya anak, biar ada yang ramein rumah”, “kamu kan kerja, stres susah punya anak, Lalu yang paling menohok hati, “cepat hamil biar punya keturunan,. “Jangan kelamaan nanti keburu tua,”

Sepele kedengarannya, bahkan ada yang menganggap itu pertanyaan yang biasa. Siapapun yang telah menikah akan ditanya mengenai keturunannya. Tetapi coba kamu (si pe-nanya) diposisikan sebagai yang ditanya, dengan berbagai alasan dan kondisi yang belum memungkinkan hamil. Apa jawaban terbaik?

Apa menikah melulu soal memiliki anak dan melanggengkan keturunan? Kalau pun belum diberikan kesempatan untuk memiliki, apa tidak sempurna pernikahannya? Siapa dia? Tuhan? Bukankah perihal menciptakan hanya Tuhan yang berkuasa?

Pada awalnya masih kutanggapi santai. Toh keluargaku sendiri juga tak ngotot. Ada yang nanya seperti itu, jawaban gue simple, “Belum, doakan saja”. Berikutnya gue mulai terusik karena tidak hanya bertanya melainkan memberikan opini sepihak. Seperti yang gue sebut di atas. Sudah berapa kali nangis dan stres karena pertanyaan itu? Banyak. Setiap pertanyaan itu datang, setiap itulah gue menguatkan diri.

Menikah tidak melulu soal kehamilan. Karena anak itu rejeki dan ia memiliki takdirnya sendiri. Jika Tuhan menakdirkan Ia ada di rahim gue saat ini atau besok atau mungkin lusa, gampang saja. Gue tidak ingin menuntut Tuhan sebagaimana orang-orang menuntut gue menjadi seperti kebanyakan pasangan lain. Tuhan terlalu baik sama hidup gue.

Pertanyaan-pertanyaan itu akan terus gue temui, sampai akhirnya gue jadi seperti kebanyakan pasangan menikah. Yang bisa gue lakuin adalah tetap membuka telinga, membiarkannya lewat begitu saja, dan kembali menikmati apa yang membuat gue dan suami bahagia. Apapun rencana Tuhan, tidak ada yang telat tapi tepat.

Tulisan ini gue buat semata bukan pembelaan atas cengengnya gue ngadepin orang-orang itu. Ataupun serangan balik pada orang-orang itu. Tulisan ini adalah cara gue merespon apa yang tidak bisa gue ungkapkan secara langsung pada mereka. Barangkali tulisan ini bisa sedikit memberikan informasi bahwa ucapan kecil/sepele yang kamu ucapkan ke orang lain, bisa menyakiti hatinya. Tanpa pernah kamu tahu apa yang melatar belakanginya (alasan dibalik kenapa belum/tidak memiliki anak).

Menghentikan kebiasaan dan basa basi itu memang mustahil. Apalagi di kalangan orang tua yang punya konsep hidup yang ajek tentang pernikahan. Tetapi setidaknya gue bilang pada orang terdekat gue, jangan pernah bertanya lagi pada mereka yang belum memiliki anak. “Sudah Isi Belum? Kapan? Kenapa?”. Atau memberikan opininya tanpa diminta.

Terakhir dari tulisan ini, terima kasih untuk kalian yang tanpa tanya atau basa-basi tetapi mendoakan kami. Doa yang sama baiknya untuk kalian.

Perempuan yang merasa merdeka melalui peran kata

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: