14-07-2013

Dear bapak..

Kau mungkin terkejut dengan kedatangan surat ini. Apalagi saat kau tahu siapa yang mengirimnya. Ya, ini aku anakmu yang tiap waktu selalu mencari cara untuk berdamai dengan masa lalu termasuk kamu. Aku pun sama terkejutnya dengan kamu karena akhirnya aku menemukan keberanian untuk memanggil namamu lagi, Bapak. Kau tahu, bibir ini selalu kelu menyebut namamu dan mengakui jika diantara kita ada hubungan darah.

Masa lalu tak hanya membuatku membenci dirimu tapi juga namamu. Bagiku, kau tak layak mendapat panggilan itu. Bapak, bukankah panggilan itu milik seorang laki-laki yang menjadi tumpuan, pelindung dan harapan keluarganya? Tak sekadar status hubungan darah. Mungkin dulu kau pernah menjalani peran itu dengan baik sampai akhirnya peran itu kau tinggalkan demi sesuatu yang kemudian membuat semua kebencian ini ada. Kau memilih mengkhianati kami dan pergi sesuka hati.

Bapak, tak mudah untukku menerima kepergianmu. Apalagi kala itu aku masih kecil dan butuh kasih sayangmu. Bahkan tak ada kenangan yang bisa ku kenang karena memang diantara kita tak pernah ada kebersamaan.

14-09-2013

Dear bapak..

Di suratku yang kedua, aku masih ingin mengungkapkan apa yang selama ini aku pendam sekaligus ingin memberi jawaban kenapa aku selalu menghindar bertemu denganmu. Ibu memang mengambil peran bapak dengan baik, tapi rasa sakit itu selalu ada ketika masa sekolahku berjalan. Saat aku juara kelas kau tak ada meski namamu disebut dibelakang namaku, saat penerimaan raport, saat aku belajar, saat aku membeli peralatan sekolah dan saat dimana peranmu begitu dibutuhkan, kamu tak ada. Aku benci, sungguh benci saat-saat itu.

Pun ketika untuk pertama kalinya aku belajar sepeda. Aku sedih bukan karena sepeda yang kupakai sepeda turunan yang sudah dimodifikasi oleh kakek. Tapi karena kamu tak ada untuk mengajariku, bagaimana dua roda sepeda itu bergulir sempurna ketika kakiku mengayuh pedalnya. Aku berkali-kali jatuh dan menahan tangis karena terlalu takut mengulangnya lagi. Aku sungguh berharap kamu ada kala itu, sekadar meredakan tangisku dan membujukku untuk tak mudah  menyerah. Nyatanya, hanya kakek yang setia menemaniku.

Aku pikir masa kecilku dihabiskan untuk selalu membencimu.

01- 02- 2014

Dear bapak..

Ketika aku jatuh cinta untuk pertama kalinya, aku hanya berharap satu hal, semoga lelaki itu tak sepertimu. Ya, aku terlalu takut dikihianati oleh makhluk sejenismu. Tapi nyatanya sama saja. Mereka tak ubahnya rubah. Bagiku, aku hanya mencintai satu lelaki yaitu kakek. Dari kakek, aku memiliki arti lain mengenai cinta. Cinta bukanlah kesenangan melainkan kebersamaan entah disaat suka maupun duka. Lihatlah kakek dan nenek, dua orang yang sangat berbeda karakternya. Kakek yang keras, otoriter, dan galak. Sementara nenek cerewet dan tak mau mengalah. Dua orang itu tetap bersama hingga kini. Mereka berdua bahkan tak paham apa itu cinta. Namun mereka tetap bersama karena mereka memahami tanggung jawabnya sebagai suami dan istri.

Bapak, memang tak mungkin kamu kembali menjadi suami yang baik untuk ibu. Tapi kenapa kamu tak memilih menjadi bapak yang baik untuk kami. Bukankah tak pernah ada istilah mantan anak? Mungkin, saat ini jauh lebih sulit karena kamu memiliki buah hati yang lain. Keberadaanku semakin tersisihkan dan semoga tak dilupakan.

24 -04 -2014

Dear bapak..

Kebencian ini terlalu lama menguasai hatiku. Seolah tak ada ruang untuk memaafkanmu. Apalagi jika ku lihat betapa kerasnya ibu untuk hidup kami. Aku makin membencimu..

Anehnya, aku rindu padamu..sungguh. Aku rindu dipelukmu, dikasihimu, dan dimanjamu. Tapi kenangan itu samar dan tak jelas, apa memang pernah ada kenangan manis diantara kita yang bisa mengobati kerinduan ini. Hanya tangislah pelampiasannya.

Kadang aku berandai-andai kita duduk bersama, bercerita panjang lebar tentang lelaki yang kusukai dan kita menghabiskan banyak waktu untuk bercanda.

…….

Bapak..aku berharap bisa menemukan cara untuk memaafkanmu, berdamai dengan keangkuhanku sehingga aku bisa bertemu dan memanggil namamu dengan nyaman. Aku pun berharap kamu akan ada di masa bahagiaku kelak.

Semoga.

Bagikan ini:

Menyukai ini:

Suka Memuat...
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: