Ruang Kata & Rasa

Tempat Dijualnya Muka-muka

Lelaki itu kehilangan mukanya.

Sejak kemarin ia sibuk berkata bahwa dirinya kehilangan muka lantaran kekasihnya pergi dengan lelaki yang lain. Muka yang selama ini ia banggakan dan tak pernah lupa perawatan, harus hilang karena kekasihnya. Aduhai, sungguh menyedihkan menjadi dirinya. Bagaimana ia bisa mengangkat wajah dan bertemu orang-orang jika mukanya tak ada? Masihkah orang mengenalinya sebagai dirinya yang dulu saat bermuka itu? Atau orang-orang justru akan takut dengan dirinya sebab wajahnya tak bermuka.

Bisa dibayangkan betapa takutnya anak kecil ketika melihat lelaki itu. Ia bak monster yang akan meneror mereka tak hanya dalam dunia nyata tetapi juga dalam mimpi-mimpinya. Selama ini mereka cukup familiar dengan monster rekaan Hollywood yang bertubuh besar, bertaring, muka nyaris hancur, atau dengan bentuk-bentuk aneh lainnya. Tetapi monster tak bermuka? Sudah tentu lebih aneh lagi. Hollow Man saja masih memiliki bentuk mata, hidung dan bibirnya. Sementara lelaki ini benar-benar kehilangan mukanya. Rata, wajahnya rata.

Maka, sejak kekasihnya pergi dengan lelaki lain, lelaki itu tiba-tiba menarik diri dari dunia di mana mukanya dikenal dengan sangat baik. Dihapusnya semua jejak yang ia tinggalkan bersama kekasihnya. Tak menyisakan apapun kecuali identitas barunya sebagai lelaki yang kehilangan muka.

***

Kepergian lelaki itu meninggalkan banyak pertanyaan, dan dugaan-dugaan. Khususnya bagiku, yang selama ini menjadi pengikutnya. Ya, aku pengikutnya yang setia. Dan itu jauh sebelum orang-orang menasbihkan dirinya sebagai panutan.

Aku mengenalnya dengan baik sebagaimana aku mengenal diriku sendiri. Aku tahu semua tentangnya. Ulang tahun, di mana ia dilahirkan, orang tuanya, makanan kesukaan, hobi (ia memiliki cukup banyak hobi: membaca, naik gunung, menulis, bermusik, memotret, menciptakan lagu, nonton film hingga memasak), buku dan musik yang paling disukai, kucingnya yang lucu bernama Dyo, sudah berapa gunung yang ia taklukan, gaya berpakaian andalannya, merek sepatu favoritnya, tempat nongkrong dan wanita-wanita yang pernah dekat hingga yang benar-benar ia pacari. Untuk urusan yang terakhir, terkadang aku turut merasa cemburu. Aku rasa para wanita itu tidak cukup baik untuknya.

Tetapi sepanjang berpacaran dengan banyak wanita, tak pernah kulihat lelaki itu seterpuruk ini. Biasanya saat ia putus, ia hanya merangkai diksi yang sangat manis dan membagikannya kepada kami para pengikutnya. Lalu kami menyukai, membagikannya dan sesekali mengutipnya ketika ada di antara kami merasakan hal yang sama. Esok harinya ia kembali menjadi panutan yang kami kenal dan kagumi.

Apapun yang lelaki itu lakukan adalah sebuah mahakarya. Kata-katanya, tulisannya, musiknya, foto-foto hasil jepretannya, bahkan menulis namanya dalam surat kabar, sudah dipastikan oplah surat kabar itu akan naik. Acara on air maupun off air yang melibatkan dirinya tak pernah sepi. Muka lelaki itu mengisi hampir semua media yang ada di negeri ini. Merebut perhatian lelaki itu sama halnya merebut perhatian 80 persen penduduk negeri. Oleh karenanya, muka lelaki itu sungguh mahal.

Sayangnya muka itu harus hilang lantaran kekasihnya pergi bersama lelaki lain.

Kami kehilangan panutan.

Kami butuh kata-katanya.

Kami butuh mukanya untuk berkata-kata.

***

Seminggu pasca kepergian lelaki itu, kami para pengikutnya mencoba melakukan upaya pencarian dan pengembalian muka. Takkan kami biarkan ia terluka lebih lama. Selama ini ia banyak berkata-kata untuk menyembuhkan luka dan membuat banyak orang bahagia. Kini giliran kami membalasnya. Panutan kami butuh bantuan, ia tidak bisa mencari muka sendirian. Kami adalah pengikutnya yang siap melakukan apapun untuk mengembalikan mukanya. Kami adalah martirnya.

Upaya pertama adalah kami harus menemukan wanita itu dan mencari tahu banyak hal tentangnya. Lalu kami membuat narasi baru tentang kepergian wanita itu dan kekasih barunya. Dalam penulisan narasi, kami contek cara panutan kami dalam berkata-kata. Kami pilih diksi yang membuat orang lain ikut terpancing emosi hingga merasakan hal yang sama. Seperti kata khianat, ingkar, dan terluka.

Narasi itu kami sebarkan melalui pesan berantai dan dari mulut ke mulut. Kami datangi pula tempat dijualnya muka-muka dan kami serahkan narasi itu. Tak ada pertimbangan dari mereka untuk meragukan narasi yang kami sodorkan. Mereka justru menantikannya, untuk menaikkan oplah dan rating. Tempat dijualnya muka-muka juga memiliki kewajiban untuk mengembalikan muka lelaki itu. Sebab mereka jualah yang membuatnya semakin kehilangan muka.

Atau jika mereka tidak bersedia menerima narasi kami, kami akan buat narasi baru tentang tempat dijualnya muka-muka. Tentu dengan pilihan diksi seperti memihak, tidak adil, diskriminasi.

Apapun yang kami lakukan tujuannya adalah mencari muka untuk panutan kami yang kehilangan muka. Kami akan mencari muka sebanyak-banyaknya agar kelak ketika hal ini terulang kembali, panutan kami sudah kebal dan tebal muka.

Perempuan yang merasa merdeka melalui peran kata

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: