kerumunan terakhir
Rak Buku

Memahami Generasi Kekinian Lewat Kerumunan Terakhir, Novel Karya Okky Madasari

Sejak novel pertamanya, Entrok, terbit, Okky Madasari konsisten mengangkat isu sosial dalam novel-novel berikutnya. Tak terkecuali novel terbarunya, Kerumunan Terakhir, yang diluncurkan diantara serangkaian program Asean Literary Festival di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat (5/2016). Melalui acara peluncuran tersebut, Nirwan Dewanto, penyair, kurator dan kritikus budaya, hadir memberikan pengantar dan pemaknaan terhadap novel Kerumunan Terakhir.

Menurut Nirwan Dewanto, peluncuran novel ini menambah satu pulau kecil tulisan ke lautan kelisanan Indonesia yang maha luas. Khususnya, bagi bangsa yang tingkat melek bukunya berada di tingkat 50 atas negara-negara lain. Terbitnya sebuah buku menjadi obat penawar yang ditunggu-tunggu.

kerumunan terakhir
Nirwan Dewanto bersama Okky Madasari (Dokumentasi penulis)

“Judul kerumunan terakhir jelas menyuratkan bahwa novel ini bersuara lantang ditengah banyak kecenderungan masyarakat kita untuk berkerumun. Berkerumun dibawah bendera kuat suku, golongan, kedaerahan, partai, bangsa, aliran dan agama,” ujar Nirwan.

Nirwan melanjutkan bahwa novel ini dengan lantang menyuarakan perubahan sosial di mana anak-anak manusia harus berhadapan dengan transisi dari modus komunikasi satu dengan yang lainnya.

Sementara itu sang penulis, Okky Madasari, mengungkapkan alasan menulis novel yang mengangkat perubahan sosial masyarakat karena teknologi. Pemilihan kata “kerumunan” merupakan ungkapan Okky dalam merumuskan media sosial merupakan bentuk kerumunan yang jika dimanfaatkan dengan baik akan menimbulkan kekuatan bersama yang baik pula. Novel Kerumunan Terakhir menjadi novel Indonesia pertama yang membahas serius tentang teknologi dan media secara mendalam dari sisi kemanusiaannya.

“Saya menuliskan sebuah kehidupan dunia baru, dunia internet, facebook dan twitter. Saya bercerita melalui sudut pandang orang ingin bercerita, dimana ia melihat dunia internet. Saya pikir tema ini masih luput dari perbincangan sastra kita. Padahal tekhnologi ini adalah sebuah revolusi yang mengubah banyak aspek kehidupan masyarakat kita.” ungkap Okky, Co-Founder & Director Program Asean Literary Festival ini.

Kerumunan Terakhir mengisahkan seorang lelaki bernama Jayanegara yang melarikan diri ke dunia baru, dunia maya. Ia mengganti identitasnya dan berusaha menggusur otoritas ayahnya di dunia nyata dengan peralatan di dunia maya.

Perempuan yang merasa merdeka melalui peran kata

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: