Setiap tanggal 24 September diperingati sebagai Hari Tani Nasional yang dirayakan oleh petani di seluruh Indonesia, demikian kata Wikipedia. Perayaan ini tentu harus dirayakan oleh seluruh petani di negeri ini. Kan, negeri agraris, ya peringatan semacam ini sudah tentu tak boleh dilewatkan.

Tetapi sudahkah para petani kita tahu apa itu Hari Tani Nasional? Gue aja, anak petani yang baru melek teknologi baru tahu loh ada hari khusus bagi para petani. Itu juga gak sengaja tahu dari postingan Instagram akun Sabda Perubahan dan dilanjutkan cari tahu di Wikipedia. Dan, bener loh, ternyata emang ada.

Tetapi inilah ironinya. Gue mungkin termasuk orang-orang yang beruntung liat dan tahu postingan Sabda Perubahan. Nah, gimana dengan petani-petani lainnya yang masih gagap teknologi? Sudahkah mereka tahu hari penting ini? Sudahkah mereka tahu apa itu Dasar Pokok-pokok Agraria yang ditetapkan oleh Soekarno yang membuat peringatan ini ada?

Jika pertanyaan ini diajukan ke petani di kampung gue, Bujur, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan, jawabannya adalah pertanyaan itu lagi. Apa itu Hari Tani Nasional? Apa itu Dasar Pokok-pokok Agraria? Apa hubungannya sama Pak Karno?

Selama menjadi anak petani, di kampung gue memang gak pernah ada perayaan khusus macam daerah lain, apalagi peringatan Hari Tani Nasional, nasional loh. Jika skalanya udah nasional kayak gini, memang seharusnya seluruh petani di negeri agrari ini tahu. Tetapi kenyataannya sebaliknya.

Bukannya petani kami terlalu malas untuk mencari tahu tetapi karena tak pernah ada akses untuk tahu perihal itu. Gak ada penyuluhan ke desa-desa kecil. Jaman sekarang sih enak, ada hape dan tinggal nanya sama gugel. Lah, sepuluh tahun silam, mana ada. Ada sih stasiun TVRI yang punya pemerintah, yang bakal ngumumin program-program pro-rakyat, pro-petani. Tapi ada gak yang nonton? Ada dangdutannya gak? Ada sinetronnya gak? Ada bal-balan gak?

Di luar itu semua, petani di kampung kami sangat sibuk. Sibuk mikirin bagaimana tiap musim panen gak terus merugi. Entah karena benih, pupuk, hama, harga, tengkulak hingga musim yang tak menentu. Saking ruwetnya dengan tetek bengek itu, ada petani yang keduluan jera jadi petani dan memilih pensiun dari profesi turunan itu. Lalu menjadi TKI, TE KA I. TKI loh, bukan PKI.

Inilah ironi berikutnya.

Akibatnya situasi dan kondisi itu, kampung gue jadi #daruratpetani. Lah, gimana gak darurat, semua petani memilih pensiun dini dan menjadi TKI.  Di era yang makin kekinian, anak muda yang diharapkan membawa perubahan (termasuk gue) malah merantau dan memilih pendidikan lanjutan yang sama sekali gak ada “tani” nya. Ada sih sarjana pertanian tetapi peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai keilmuannya belum tersedia.

Kenapa kira kira?

Barangkali sebab doa para orang tua yang selalu berharap kehidupan anaknya lebih baik dari dirinya (dengan tidak menjadi petani?). Harapan ini bukan mengkerdilkan profesi mereka tetapi mengingat betapa beratnya profesi itu sehingga doa itu dicekoki.

Mungkin juga karena nyangkul dan ngebajak sawah yang gak ada keren kerennya. Coba ingat, diantara pilihan cita-cita yang ditanyakan guru atau orang tua itu sendiri, pernahkah profesi petani masuk nominasi? Enggak. Profesi dokter, polisi, guru masih menjadi favorit dan jadi doktrin ke anak kecil. Sialnya, doktrin itu justru membuat profesi petani nampak remeh temeh.

Atau profesi lain lebih pasti dan menjanjikan jenjang karir (menjadi petani ga ada jenjang karir kayak orang kantoran. Buruh, ya buruh. Pemilik lahan dan modal, adalah jabatan turunan). Masa depannya seolah tak menentu, kek musim hujan dan kemarau gitu.

Atau juga karena belum munculnya generasi yang mau jadi petani dari hati. Nah, ini yang susah banget didapetin. Gak banyak loh anak muda yang secara tulus mau jadi petani. Profesi petani adalah profesi mulia yang gak sembarangan dijalani. Tengok saja beberapa petani yang masih stay cool dengan profesi mereka sampai saat ini. Meski hasil panen yang gak nentu dan nombok mulu, mereka masih setia dan cinta dengan profesinya.

Sebagai penutup tulisan ini, gue sebagai anak dari keluarga petani yang sampai tulisan ini ini diterbitkan belum bisa berkontribusi pada tanah lahir, sangat bersyukur lahir dari keluarga petani. Dari kerja keras merekalah, gue banyak belajar (meski telat banget) bagaimana caranya bertahan, bekerja keras dan mencintai profesi. 

Memang, memahami dan menimbulkan keinginan untuk menjadi petani dari hati bukanlah sesuatu yang mudah. Tetapi tidak mustahil jika nantinya gue bisa berkontribusi melalui cara yang berbeda. 

Sehat terus para petani, jaya terus para petani.

Bagikan ini:

Menyukai ini:

Suka Memuat...
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: