Siang itu mereka berdiskusi; tentang kebaikan dan keburukan manusia.

Si lelaki mengatakan, dua hal tersebut mutlak dimiliki manusia.

Seberapa besar porsi kebaikan dan keburukan, itulah yang menentukan identitas manusia. Si baik dan Si buruk.

Tak terima, Si perempuan bersuara.

Katanya, manusia tak bisa dikelompokkan menjadi Si baik dan Si buruk. Manusia itu fleksibel, berubah-ubah dan tergantung dari sisi mana kau akan melihatnya.

Misalnya para manusia koran itu. Ia dikatakan korupsi, pencuri, pemaki, sumbu pendek, teroris atau apalah.

Bagi pembaca yang tak sepaham, tentu ia Si buruk. Merugikan banyak orang dan layak dipermalukan. Tapi bagi yang sepaham, ia bak pahlawan dan apa yang ia lakukan adalah pengorbanan.

Si Lelaki pun bergeming lalu menanggapi, manusia tak ubahnya sekumpulan persepsi. Haruslah pandai memposisikan diri dan mencari koloni.

* Tulisan ini terinspirasi dari Lukisan karya Budi Ubrux.

Bagikan ini:

Menyukai ini:

Suka Memuat...
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: