Ruang Perempuan

Perempuan Bermuka Seribu itu, Aku

Siapa Aku?

Bagaimana jika ku persilakan Kamu mengenalku sebagai seorang perempuan bermuka seribu, sebelum kamu bertemu orang-orang yang mengenalku dan merumuskan Aku dalam sebuah identitas. Agar kelak, tak usah tergelak ketika mendapatiku berubah polah. Ku beritahu juga, mengapa orang-orang mengenalku dengan banyak identitas.

Pada suatu waktu, mereka mengenalku sebagai seorang anak dan cucu dari seorang yang cukup disegani di tempatku lahir. Kaki dan leherku dijerat oleh nama baik keluarga, tradisi dan hal-hal tabu yang berlaku bagi kebanyakan perempuan di tempatku. Maka ketika aku berhasil lepas dari jerat itu, mereka memberikan identitas baru. Identitas yang terdengar seperti kutuk karena tak mau tunduk.

Sebagian lagi mengenalku dengan identitas dari tempatku mendapatkan pendidikan agama. Barangkali ini semacam obat penawar atau jalan keluar sebelum aku menjadi lebih liar. Diksi “liar” sengaja ku pilih karena lebih dekat pada kenyataan bagaimana mereka melihatku setelah memilih tak tunduk. Katanya, biarlah Tuhan yang menuntunku ke jalan yang benar, sesuai dengan kodratnya. Jangan menjadi Hawa ke dua yang diusir dari Surga. Melibatkan Tuhan di setiap pengharapan, memang adalah hal yang tepat. Tetapi apakah benar dan salah selalu menjadi standar seorang manusia? Bagaimana aku tahu, bahwa benar menurut manusia sama dengan benar menurut Tuhan? Sedangkan ada banyak hal di dunia ini yang tak terjelaskan pada satu keputusan atau samar-samar.

Tuhan mengasihiku dengan Rahman dan Rahim-Nya, identitas baru dan kepantasan baru ku terima. Selesaikah mereka melihatku dengan pandangan yang lebih baik? Tidak, karena bersamaan dengan itu lahir tuntutan-tuntutan baru. Demikian seterusnya ketika aku selesai melewati berbagai bab kehidupanku.

Sedang yang lain mengenalku sebagai seorang pengingau, peracau yang suka mengacau yang sedang menjalani hukuman atas apa yang telah diperbuatnya. Yang putus asa, lantas mereka kata-kata dan bersuara hanya untuk dianggap ada. Apa yang ku kata tak jarang menjadi tafsiran-tafsiran baru, narasi baru tentang bagaimana seseorang diriku dan kehidupanku.

Dengan semua identitas itu, aku tahu aku tak lagi sepenuhnya diriku. Ia seolah menjadi realitas yang kemudian menjadi standar orang-orang mengenalku. Sebut namaku pada orang yang berbeda, maka kamu akan menemukan jawaban yang berbeda. Menurut si A, mukaku bercorak. Menurut si B, aku dominan Hitam. Menurut si C, jelas aku Merah dan yang lainnya mengatakan aku tak memiliki warna.

Jika suatu waktu kamu bertemu dengan mukaku yang marah, tak usah terperangah. Dari seribu muka yang ku miliki, ia adalah paling dominan. Untuk yang satu ini, aku kerap dianggap tak tahu diri karena sudah bermuka jelek. Aku justru dituntut untuk bermuka malu, sebagaimana perempuan seharusnya (kalimat ini harus kusebut berkali-kali sebab menjadi perempuan ada banyak sekali keharusan). Atau menutupi muka yang dianggap tak memenuhi standar cantik, dengan aneka kosmetik.

Tetapi tahukah kamu, kosmetik-kosmetik itu tak serta merta membuatku menjadi layak yang mereka inginkan. Sebab ia hanya mendatangkan bisik-bisik lain tentang diriku. Di antara bisik yang aku dengar, mereka katakan aku harus punya sesuatu yang lain, kemampuan lain yang dapat menjadi nilai lebih daripada muka burukku. Harus, harus, harus agar aku dapat dipandang dari sisi yang lain. Agar aku diterima sebagai bagian dari kehidupan manusia.

Aku pernah mencoba mencari muka yang biasanya disukai orang-orang. Aku tiru, bagaimana muka-muka yang pandai sekali memasang muka. Muka bahagia sedang ia bersedih, benci tapi cinta, marah tapi sumringah, kecewa tapi tertawa, dan muka-muka sebaliknya. Aku menduplikasi muka yang ditampakkan orang lain hingga akhirnya aku kehilangan muka ku sendiri.

Tidak bisakah jika aku menjadi biasa saja? Misalnya satu muka yang tak bercorak atau tak punya muka sama sekali.

Sampai pada akhirnya, saat aku benar-benar kehilangan muka dan tak punya muka, aku menyadari satu hal. Pada dunia yang aku diami, manusia terkadang berlaku melampaui Tuhan. Tuhan yang aku kenal dari narasi yang mereka sampaikan, selalu menerima bagaimana pun dirimu. Entah kamu putih, hitam, kuning atau tak berwarna sekalipun. Lalu bagaimana bisa, aku dan mereka tidak bisa menerima bagaimana diriku?

Aku menjauhi riuh. Menciptakan ruangan sendiri dalam hidupku. Ku bangun ia berdinding tebal, tanpa ventilasi, tanpa penerangan dan sebuah pintu kecil dengan kunci dan grendel. Kupastikan tak seekor kecoa pun masuk. Ruangan itu benteng paling aman dari suara-suara yang menuntut menjadi muka ini dan itu.

Satu persatu datang mengetuk pintu kecil itu, ingin tahu seperti apa manusia di dalamnya, yang konon memiliki seribu muka. Satu persatu datang hanya untuk pergi lebih jauh lagi. Kecuali Kamu, meski t’lah ku ceritakan bagaimana seribu muka ku, masih saja mengetuk pintu, lagi, lagi dan entah sampai kapan mau berhenti.

Apakah kamu berkenan menerimaku dengan semua muka yang ku miliki? Sudahkah kamu menyiapkan diri untuk dilabeli sebagai lelaki dengan perempuan bermuka seribu?

Temukan jawaban itu, barangkali pada ketukan pintu berikutnya, kita bisa menyeduh secangkir pahit bersama.

Perempuan yang merasa merdeka melalui peran kata

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: