Rupa Luka – Sebuah Cerita Panjang Fiksi Bagian 2
Setiap kali badai reda, suasana setelahnya terasa berbeda. Semua yang diamuknya seolah kehilangan daya, terkulai lemas dan senyap. Berikutnya yang datang adalah perasaan janggal yang sulit sekali dijelaskan dengan kata-kata. Aku duduk bergelung selimut, menatap sisa percikan air hujan di jendela kamar. Bulir-bulir air yang perlahan jatuh menimpa bulir yang lain lalu mengalir bersama hingga bermuara di tanah. Lega sekalinya melihatnya.
Siang ini aku melewati sesi terapi setelah tadi pagi diamuk badai. Aku dibiarkan menikmati waktuku sendiri dalam kuasa obat penenang. Satu suntikan yang mampu mengontrol emosiku yang meledak di saat bersamaan, menangis dan tertawa. Aku tertawa bahagia karena akhirnya aku bisa menangis. Aku menangis sebab akhirnya rasa marah dan sedih itu berani aku ungkapkan. Tidak lagi aku benam di dasar hatiku. Perasaan itu datang tak terbendung lagi, seperti bisul pecah dan mengeluarkan boroknya.
Tunggu, apakah karena itu aku disebut gila? Jika benar, tak ku sangka diksi gila yang selama ini jadi bahasa slang untuk mengungkapkan sesuatu yang hebat atau tidak biasa, benar-benar bermakna sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia, sakit ingatan, sakit jiwa. Aku pernah menggunakan kata gila saat seseorang tiba-tiba menyatakan perasaannya padaku. Bagaimana tidak gila, dia adalah temanku sendiri. Teman yang membuatku jatuh cinta pada dunia seni peran. Darinya, aku mendapatkan kesempatan menjadi diriku yang lain, berubah rupa dan nama seperti yang aku inginkan. Terkadang aku menganggap dia adalah diriku dalam wujud laki-laki. Maka ketika ia bilang dia mencintaiku, aku reflek menjawab, “Kamu gila, Re”. Bagaimana mungkin kamu bertali kasih dengan seseorang yang serupa dirimu? Tetapi sebagaimana diriku, Re pun terlatih menganggap penolakan adalah cara reflek tubuh merespon hal baru.
Kegilaannya ternyata berlanjut ketika dia menemui bapak ibuku. Anehnya, sepasang tua bangka itu tiba-tiba menerima pinangannya tanpa banyak syarat karena ia telah memenuhi syarat kebanyakan orang tua. Tampan, kaya, dan anak tunggal. Re yang dibesarkan dengan penuh kasih dan uang adalah dambaan bagi semua orang tua, termasuk bapak ibuku. Karena aku sudah berteman baik dengan Re, bapak ibuku merasa tak perlu lagi meminta persetujuanku, Keputusan apapun dalam hidupku adalah keputusan mereka. Aku hanya perlu menjalani hidup seperti yang mereka inginkan, bahkan untuk pasangan hidupku.
Di antara semua lelaki yang ada di muka Bumi, kenapa harus Re orangnya? Tak bisakah ia cukup sebagai temanku saja? Aku kehilangan teman baik meski kata bapak ibuku aku mendapatkan suami terbaik.
“Kamu mencintainya?” suara Pendengar entah muncul dari mana. Aku gelagapan, mengedarkan pandangan ke arah suara berasal. Bukankah ini waktuku untuk sendiri? Di ambang pintu ku temukan dirinya berdiri dengan baju putih khasnya, dia berjalan ke tempatku bergelung selimut. Bahkan suara dalam kepalaku ini bisa didengar oleh Pendengarku? Ia duduk di sisiku, bersiap mendengarkan ku seperti sebelum-sebelumnya. Dia menatapku, mengulang pertanyaannya. “Kamu mencintainya?”
“Mencintai dan menikah, bukankah itu dua hal yang berbeda? Bapak ibuku menikah sebab mereka telah dipasangkan oleh bapak dan ibunya. Semua yang berpasangan di keluarga kami begitu. Meskipun Re berkeyakinan dapat melakukan keduanya. Tetapi apakah ia benar-benar tahu apa perasaanku padanya?” aku mendengus kecewa.
“Apa perasaanmu padanya?”
Aku terdiam, melirik jari manisku. Bekas bergaris cincin pernikahan itu masih ada, meninggalkan warna kulit yang kontras. Warna kuning langsat yang tertutup cincin kawin selama bertahun-tahun. Warna sawo matang yang kering oleh terpaan matahari, angin, dan waktu. Sesak di dada itu datang lagi.
“Aku tidak mau ia terlibat lebih jauh dalam kerumitan hidupku. Sebab menikah hanyalah memindahkan satu masalah dengan masalah lainnya. Menikahi teman hanyalah menambah daftar kerumitan dan masalah. Kamu tahu, semua orang mengkhawatirkan Re karena menikahiku. Seolah-olah aku ini gadis buruk rupa yang dipungut di pinggir jalan, padahal Re yang datang dengan sukarela padaku.” aku ingat betul bagaimana keluarga kami, keluarga Re, dan orang-orang yang aku kenal memandangku.
“Bagaimana setelah kalian menjadi sepasang suami istri?”
“Dia masih orang yang sama, tetap menjadi Re yang aku kenal. Dia memperlakukan dengan sangat baik, sebagaimana dulu kami berteman. Tetapi aku perlahan kehilangan diriku. Aku harus menjadi istri yang sempurna untuk suamiku yang sempurna. Menikah membuat orang-orang lupa siapa diriku. Seolah-olah menjadi diriku sendiri saja tidak cukup. Lalu mereka lebih sering memanggilku nyonya Re, istrinya Re, menantunya Bapak Ibu Budiman.” Kenangku getir. Di rumah itu, tak kusangka, aku lebih sering bermain peran, lebih banyak dari yang aku pentaskan di panggung sebelumnya.
Rasanya seperti kemarin ketika aku berpamitan dengan kamar bercat buah persik, tumpukan dus sepatu di bawah kolong kasur, lemari kayu yang penuh tempelan sticky note, meja kecil tempat tumpah ruah kosmetik dan buku-buku, serta bau apek langit-langit kamar yang bocor. Anehnya, di rumah Re yang besar dengan kamar yang hampir dua kali lipat kamarku, aku malah merasa sempit. Aku lebih takut melangkah, aku takut langkahku salah. Aku makin takut membuat Re disalahkan karena kesalahanku.
“Aku takut, teramat takut.” Pendengarku meraih tanganku, menepuk-nepuknya pelan. Aku mengangguk pelan, mengikuti ritme gerakan tangannya. Mirip suara ketukan air hujan yang tempias di jendela. Berima dan berirama sehingga mendatangkan rasa nyaman dan tenang. Adakalanya perasaan diungkapkan bukan hanya untuk disambut oleh emosi, melainkan keluar begitu saja. Aku memeluk selimut kian erat, samar-samar lagu If milik Bread mengalun dan aku terlelap, menghabiskan sisa sore di sisi jendela.
If a picture paints a thousand words
Then why can’t I paint you?
The words will never show
The you I’ve come to know
******
Lonceng berdentang enam kali, tak pernah telat. Pun pada waktu lainnya sehingga ia menjadi pengingat bahwa waktu juga punya batas meski ia tak terbatas. Sudah berapa kali dentangan lonceng aku berada di sini? Entahlah, aku merasa waktu bergulir begitu lambat sehingga aku leluasa menikmati setiap waktuku. Aku, mungkin teman pulih lainnya merasakan hal yang sama, bahwa tempat ini mirip jam pasir raksasa. Waktu selalu diperbarui dan diperpanjang setiap satu jam. Tak ada yang tergesa-gesa untuk cepat keluar dari tempat ini. Sudah ku bilang bukan, tempat ini serupa surga.
Pagi ini, aku lihat teman pulih baru datang. Ku perkirakan usianya sepantaran denganku, usia di mana perempuan bersiap menghadapi era menopause-nya. Senyumnya bermekaran di sepanjang sesi olahraga. Ia menyapaku dengan sangat ramah seolah kami pernah bertemu sebelumnya. Namun aku justru terenyuh ketika sepasang mataku menangkap semburat warna ungu tua di wajah eloknya. Ada yang menyemburat lebar di kelopak mata dan leher, ada yang menyemburat kecil di pelipis, dahi, sudut bibir, dan hidung. Semakin mekar senyumnya, semakin meringis aku dibuatnya. Tubuh perempuan itu istimewa sebab itu ia sakral. Ia bukan samsak. Kenapa harus dinodai luka?
“Kamu pernah menjadi seperti dia?” tanya Pendengarku ketika kami berpindah ke ruangannya.
Aku menggeleng. Sekalipun aku katanya gila, dalam ingatanku tak pernah tersimpan luka kekerasan dari bapak ibuku, suamiku ataupun orang lain. Re selalu memperlakukanku dengan baik. Dia selalu mensejajarkan gerak kakinya untuk gerak kakiku yang lamban, yang menjadi tameng dari omongan busuk orang lain tentang rahimku. Ya, setahun pernikahan kami, tak ada yang lebih menarik dari menanyakan kabar rahimku. Setahun pernikahan kami, tidak ada bayi yang dikandung rahimku dan ternyata itu menjadi salahku yang terus menerus dibicarakan. Rahimku yang berharga dianggap sebagai alat pencetak anak semata. Rahimku yang berharga dihinakan hanya karena belum menciptakan anak. Mulanya di ruang keluarga oleh bapak ibu mertuaku. Lalu merambah ke acara keluarga oleh para sanak saudara. Makin menjadi ketika luber ke tetangga dan siapapun yang mengenal kami.
“Aku tahu kehidupan pernikahan bukan hanya tentang suami dan istri saja. Tetapi keputusan memiliki anak atau tidak, seharusnya menjadi keputusan kami bukan? Pergulatan ranjang kami bukan lagi menjadi ruang intim tetapi ruang bersama karena ada tuntutan bapak ibu mertua, sanak saudara, dan tetangga. Aku merasa mereka ada di ranjang bersama kami. Lalu aku berulang kali membunuh mereka dalam anganku.” Perih sekali mengingatnya.
Re yang malang, menikahi istri yang mandul. Begitu yang ku dengar, seolah-olah akulah sumber kemalangan Re. Seolah-olah aku menikah memang hanya untuk melahirkan anak. Lalu semua orang merasa berhak mengurusi rahimku, tubuhku. Bukankah sebagian dari mereka adalah perempuan juga? Bukankah semestinya mereka juga paham betapa kompleksnya sistem reproduksi wanita. Bukankah semestinya mendukungku atau bersimpati, bukan turut menghakimiku?
Re, pada akhirnya berada di posisi yang sulit untuk berpihak padaku. Tak terbilang dokter kandungan, pengobatan alternatif, bahkan guru spiritual yang turut terlibat. Mereka tak pernah bertanya kesediaanku melakukannya. Seperti bapak ibuku sendiri, aku mengikuti semua yang mereka mau sebab aku tak mau penolakanku menjadi kesalahan-kesalahan baru yang kemudian ditimpakan pada Re.
Air mataku mulai menganak sungai, ku tatap Pendengarku getir. “Tak pernah ada yang melukaiku, selain diriku sendiri.” Aku mengulurkan tangan kiriku padanya, menunjukkan bekas guratan di pergelangan tangan yang nampak seperti suluran benang saling bertumpuk. “Kadang aku bertanya-tanya, kapan domba yang dikorbankan ini akan ditebus surga?”
******
Rupa Luka – Sebuah Cerita Panjang Bagian 3 – Bersambung


