Rupa Luka – Sebuah Cerita Panjang Fiksi Bagian 1
Mereka bilang aku gila. Katanya aku sudah lupa siapa diriku, siapa keluargaku, dan apapun yang melekat pada diriku. Maka demi menyelamatkanku dari kegilaan ini, mereka memaksaku tinggal di Rumah Sehat Jiwa. Dan seperti sebelum-sebelumnya, aku menurut tanpa perdebatan apalagi penolakan. Aku masih anak baik dan penurut mereka. Sebab eksistensiku di dunia ini memang hanya untuk menjadi serupa Ismail yang dikorbankan demi ketaatan kepada Tuhan.
Rumah Sehat Jiwa bukan tempat pengasingan apalagi kerangkeng raksasa bagi orang-orang sepertiku. Ia justru rumah nyaman dan teramat aman sehingga tiga puluh teman pulih yang hidup di sini betah, pun aku. Sebagai sebuah rumah, ia memenuhi standar nyaman karena berupa rumah tua besar bekas peninggalan Belanda. Ada tiga bangunan dengan halaman yang sangat luas. Bangunan utama dengan dua paviliun di kanan dan kirinya. Bangunan utama ini adalah pusat segala aktivitas Rumah Sehat Jiwa. Setiap ruangan luas, langit-langitnya tinggi, lantai batu pualam, dinding tebal kedap suara dengan jendela dan pilar besar. Dua paviliun di kedua sisinya adalah rumah tinggal teman pulih dan para pendamping. Tuhan seperti sedang mengabulkan angan-angan masa kecilku yang ingin menjadi seorang tuan putri, tinggal di istana dengan lantai marmer putih dan pilar tinggi, ada banyak orang yang membantu sehingga segala yang dilakukannya diperhatikan. Mungkin tidak ada salahnya jika sekali lagi aku berangan, kelak Tuhan mengirimkan pangeran berkuda untuk menjemputku pulang.
Di tempat ini aku merasa terlahir kembali seperti seorang bayi. Aku begitu diperhatikan, kapan waktu bangun, mandi, makan, beraktivitas hingga waktu tidur lagi. Bahkan aku kerap ditanya tentang perasaanku hari ini, apakah bersedih, berbahagia, kesal, atau perasaan lain. Mereka tidak ingin aku memendam rasa sendiri. Katanya, setiap perasaan harus diungkapkan agar tuntas dan tak membekas.
Semua yang ku temui menyapaku dengan senyuman manis. Aku bercerita dan siapa pun bersedia mendengarkan. Ya, suaraku, ceritaku didengarkan. Tak ada yang menyela atau beradu suara siapa yang seharusnya lebih dulu bicara. Setiap cerita yang dituturkan begitu penting sehingga mereka butuh lebih dari sekadar menyediakan telinga untuk mendengarkan. Mereka membawa peranti lain seperti kamera untuk merekam ceritaku, juga buku catatan yang beberapa kali ditulis. Mencatat hal-hal penting dari semua kalimat yang aku tuturkan. Meski kadang yang diceritakan itu hal sepele, semisal ketika aku bercerita tentang apel yang aku punya harus dibagikan pada dua adikku, sedangkan mereka sudah menghabiskan miliknya sendiri. Tak ku sangka kisah sepele itu menarik untuk didengarkan.
Kadang aku bertanya, apakah mungkin ini surga yang sering diceritakan oleh guru agamaku? Tempat di mana kamu kembali menjadi seorang yang muda, keinginan-keingingan mudah terwujud, dan kamu hanya diperbolehkan bahagia. Tetapi jika ini surga, bukankah aku harus mati dulu dan menjalani penebusan dosa di neraka, sebelum akhirnya masuk surga. Sedangkan mati yang aku inginkan sudah berkali-kali gagal.
*****
Pagi di Rumah Sehat Jiwa hampir selalu sama. Lonceng di rumah utama berdentang enam kali, pintu besar dibuka, bersiap memulai hari bagi seluruh penghuni Rumah Sehat Jiwa. Para teman pulih dan pendamping berkumpul untuk sarapan bersama. Lalu berlanjut memanen serotonin di halaman. Berikutnya kami berkegiatan sesuai hobi atau keinginan masing-masing di rumah utama. Ada yang membaca, menyanyi, menari, berbincang satu sama lain atau sekadar bengong dan sibuk dengan pikirannya sendiri, sepertiku. Aku tidak punya hobi atau kesenangan yang bisa dinikmati untuk diriku sendiri. Aku lebih suka mengamati mereka dan menebak-nebak kenapa mereka juga terpilih berada di sini.
Apa betul kami ini gila atau istilah yang terdengar lebih manusiawi, memiliki gangguan mental? Kacamata apa yang dipakai orang agar sepakat bahwa kami ini gila? Semuanya tampak normal atau seperti yang biasa dilakukan manusia pada umumnya. Ada yang berteriak karena dia memang marah semarah-marahnya. Ada yang terbahak karena kebahagian datang meluap-luap hingga tak terbendung. Ada yang terdiam betapa pun marah dan sakit hatinya. Ada yang tak bisa merasakan emosi apapun sebab ia memang tak punya kemampuan untuk mengidentifikasinya. Pernah ku sampaikan hal ini pada Pendengarku yang setia.
“Bagaimana denganmu?” ia bertanya.
“Aku diajarkan untuk jadi telinga bagi orang lain. Menjadi telinga yang baik, semua harus didengarkan, dipenuhi tuntutan-tuntutannya. Tuhan maha mendengarkan oleh sebab itu manusia tak boleh sama sekali tuli pada penderitaan orang lain.” Kataku. “Kadang pula aku menjadi mulut yang baik, aku hanya boleh berbicara yang baik sehingga tidak ada yang terluka oleh ucapanku. Siapapun lawan bicaraku. Bukankah kebohongan terdengar manis dan termaafkan jika untuk sesuatu yang baik?”
“Bagaimana dengan dirimu sendiri?” tanyanya lagi.
“Patuh pada orang tua adalah pahala karena merekalah aku diciptakan oleh Tuhan. Maka apa yang mereka katakan adalah perintah yang tak bisa kuabaikan.” Kataku yakin, seperti yang selama ini aku yakini. Menjadi anak perempuan pertama di keluarga tidak miskin, juga tidak kaya membuatku punya jalan berbakti yang lebih banyak dibandingkan kedua adikku. Sejak adik pertama lahir, aku sudah belajar tentang berbagi dan mengalah. Pun ketika adik kedua lahir, aku sudah berada di posisi melupakan keinginan sendiri. Apalagi sejak mereka mulai sekolah dan aku bekerja, bapak ibu melimpahkan semua tanggung jawabnya padaku. Kata bapak ibu, semestinya anak pertama membalas jasa orang tua sebelum menikah dan berpindah tanggung jawab pada keluarga barunya. Anak pertama adalah rupa pertama yang akan dilihat dan dinilai orang lain, apakah keluarga kami cukup pantas disebut keluarga.
“Kamu punya impian?” Pendengarku hanya punya pertanyaan, bukan tanggapan dari cerita-ceritaku sebab ia memang bukan seorang teman yang terkadang memberikan sanggahan. Tetapi aku senang, bukankah selama ini aku cukup kenyang dengan kalimat-kalimat perintah. Tak pernah ada yang benar-benar bertanya apa mauku.
Kembali pada pertanyaannya, aku coba mengingat apa impian yang begitu aku idamkan. Tetapi aku ragu, apakah ia pantas disebut impian atau hanyalah keinginan sesaat. Aku pun takut ketika ku sebut, Pendengarku akan menertawakanku lalu mengolok-olokku, seperti yang sebelumnya terjadi. “Kamu bebas bercerita apapun padaku. Begitu pun jika kamu tidak ingin membahas ini.” Ia membaca keraguanku yang mungkin nampak jelas di wajahku.
Aku beringsut dari kursi, mencoba membangunkan mimpi yang terlalu lama dibuai tidur panjang. Aku memanggil diriku yang lain, diriku yang aku percayai dapat menjelajahi dunia manusia di luar yang aku bisa. Sora, namanya. Seorang perempuan penenun kata yang mampu menjebak manusia dalam ilusi rasa. Aku membayangkan diriku menjadinya, berdiri di atas altar suci dengan puluhan manusia yang mengamini dan mengimani setiap kata-katanya. Sora adalah prototipe manusia baru di bumi yang rusak dan perlahan membusuk.
“Pelakon,” ungkapku begitu pertunjukan singkat itu usai. Tak ku sangka, Pendengarku memberikan tepukan tangan, persis sama dengan puluhan pasang tangan yang bertepuk di auditorium teater kala itu. “Tetapi impian semacam itu tidak cukup realitis bukan?” aku tersadar, kebanggaan hanyalah cara setan menjebak manusia menuju keangkuhan. Tepukan tangan adalah jebakan pertamanya.
Aku kembali duduk di kursi, ku tatap Pendengarku untuk aku tegaskan satu kalimat yang menjadi luka masa remajaku. “Bersandiwara, profesi yang penuh tipu daya dan tidak menjanjikan, begitu kata bapak ibuku.” Kataku kesal. Kesal? Ah, sejak kapan aku memiliki kekesalan pada orang tuaku. Aku anak baik bapak dan ibuku, apa yang mereka katakan dan perintahkan selalu tentang hal yang terbaik untukku. Anak tak boleh durhaka sejak dalam pikiran. Tiba-tiba aku merasa gelisah saat potongan ingatan itu menyelinap di antara obrolan ini. Ingatan-ingatan itu menyesak untuk diputar kembali. Berisik sekali. Tanganku mulai gemetar, dadaku bergemuruh hebat, dan seperti air bah, air mataku sekonyong-konyong tumpah ruah.
Di luar sana, hujan perlahan turun. Di dalam sini, sedang berkecamuk badai.
******
Lonceng berdentang enam kali, tak pernah telat. Pun pada waktu lainnya sehingga ia menjadi pengingat bahwa waktu juga punya batas meski ia tak terbatas. Sudah berapa kali dentangan lonceng aku berada di sini? Entahlah, aku merasa waktu bergulir begitu lambat sehingga aku leluasa menikmati setiap waktuku. Aku, mungkin teman pulih lainnya merasakan hal yang sama, bahwa tempat ini mirip jam pasir raksasa. Waktu selalu diperbarui dan diperpanjang setiap satu jam. Tak ada yang tergesa-gesa untuk cepat keluar dari tempat ini. Sudah ku bilang bukan, tempat ini serupa surga.


