rupa luka
Roma Rassa

Rupa Luka – Sebuah Cerita Panjang Fiksi Bagian 3

Nina bobo, oh Nina bobo.
Kalau tidak bobo nanti digigit nyamuk
.

Aku merasa lagu ini diciptakan bukan sebagai pengantar tidur yang dapat melenakan anak. Ia lebih pantas disebut mantra yang memaksa anak-anak tidur. Dengarkan saja liriknya, pada bait pertama dibuka dengan nama panggilan sang anak, disebut dua kali sebagai penekanan ajakan tidur. Lalu pada bait kedua, ada gertakan jika sang anak tidak segera tidur, ada ancaman akan digigit nyamuk. Lagu itu disenandungkan setiap malam, setiap menjelang tidur oleh ibu yang sudah lelah mengurus pekerjaan rumah dan anak sepanjang hari. Sedangkan sang bapak lebih dulu terlelap meski tanpa dinina-bobokan, konon ia sudah terlalu lelah mencari nafkah di sepanjang hari.

Lalu bagaimana jika Nina tak jua tidur meski sudah ditakuti-takuti gigitan nyamuk? Mungkinkah liriknya akan berubah jadi, Nina ayo bobo, oh Nina ayo bobo. Kalau tidak bobo nanti diculik demit.

Lagi-lagi, Nina bersikeras tak mau tidur. Haruskah liriknya diubah lagi menjadi lebih menakutkan?

Nina lekas bobo, oh Nina lekas bobo! Kalau tidak lekas bobo nanti dimakan setan!

Kasihan betul jadi Nina, bahkan sebelum tidur pun ia bermimpi buruk lebih dulu. Tetapi jika Nina kecil telah menjadi manusia dewasa hari ini, mungkin dia akan sedikit menyesal kenapa dulu ia menyia-nyiakan waktu tidur yang nyaman itu. Ketakutannya hanya pada nyamuk dan makhluk tak kasat mata.

Nina dewasa akan tahu betapa tidur dengan nyaman itu menjadi sesuatu yang sangat didambakan. Dia perlu usaha lebih untuk meredam suara-suara di dalam kepala yang selalu lebih berisik dibanding suara di luar kepala. Adakalanya suara-suara itu menerornya hingga ke alam mimpi lalu ia terbangun dengan ketakutan. Pada suatu waktu Nina merasa begitu takut untuk tidur meskipun ia begitu menginginkannya. Terlebih saat Nina mulai menjadi calon ibu dengan calon anak di perutnya yang kian membesar. Sejak saat itu Nina berpikir bahwa tidur yang nyaman hanyalah ilusi. Setelah menjadi ibu, Nina tak pernah benar-benar tidur dengan nyaman.

Rupa Luka – Sebuah Cerita Panjang Fiksi Bagian 2

Rupa Luka – Sebuah Cerita Panjang Fiksi Bagian 1

Di Rumah Sehat Jiwa Nina tak perlu bersusah payah untuk tidur dengan nyaman. Pada waktu yang ditentukan sebagai jam tidur, Nina dan semua teman pulih akan dengan sangat mudah terlelap. Lagu pengantarnya hanya instrument musik yang mengalun lembut dan menenangkan. Tidak ada bait lagu dan suara penyanyi yang mengintimidasi untuk segera terlelap. Tidak ada mimpi buruk, kekurangan tidur, dan tidak ada gangguan. Tidur menjadi sangat nyaman dan nyenyak hingga pagi membangunkannya dengan bugar.

“Pagi, Nina.” sapa Pendampingku ketika aku bersiap memanen serotonin. Senyumku mekar. Sapaan yang cukup akrab beberapa hari ini dan aku senang mendengar dia memanggil namaku. Nama yang sudah lama terlupa dari ingatanku dan pada sesi terapi minggu lalu aku berhasil mengingatnya lagi. Kanina Lazuardi, begitu jika disebut lebih lengkap.

Di sini, nama menjadi sangat penting karena tidak semua teman pulih mengingat atau ingin mengingat namanya. Identitas legalnya hanya sebatas dokumen administrasi saat pendaftaran. Setelahnya, menjadi anonim. Kata Pendengarku, mengingat atau menerima kembali identitas dirinya merupakan bagian dari fase pemulihan. Keputusan untuk melupakan nama adalah respon terhadap trauma dan masa lalu sehingga memorinya menyegel hal-hal yang menyakitinya.

Barangkali itu yang aku rasakan sebelumnya, luka dan rasa sakit yang terus menerus menimpa Nina. Nina, identintas itu seperti jebakan pertama diriku menjadi manusia. Demi nama baik Nina, aku harus menjadi anak yang baik, istri dan menantu yang baik, serta ibu yang baik. Nina harus selalu sempurna untuk bapak ibu, suami, mertua, dan anaknya.

Oh, Nina yang malang. Mereka sudah melupakan dirinya, namanya, dan eksistensinya. Tak ada lagi yang memanggilnya Nina, yang ada hanya istri Re, menantu bapak ibu Budiman, dan panggilan terbarunya, Mama Kinan. Nina terlupakan. Semua orang, tak terkecuali Re, hanya peduli pada nama Kinan.

Oh, Nina yang malang. Ia terjebak dalam tubuhku hanya untuk diabaikan. Aku ingin sekali memeluknya dan ku katakan padanya, oh Nina-ku sayang, kamu ada dan berharga. Namun pada kenyataannya aku membunuh Nina berkali-kali.

Maafkan aku, Nina.

********

Ada satu rahasia besar di Rumah Sehat Jiwa yang hanya boleh diketahui oleh mereka yang tinggal di sini. Bahkan informasi mengenai hal ini tak diinfokan kepada keluarga teman pulih saat mereka memutuskan memasukkannya ke sini. Rahasia ini diberitahukan ketika teman pulih memasuki beberapa tahapan akhir dari proses pemulihan.

Rupa Luka – Sebuah Cerita Panjang Bagian 4 – Bersambung

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!