Dua hari lagi hari penting itu datang.

Tapi tak ada satu pun orang yang mencoba mengingat hari penting itu. Hanya Opa Dirman yang sibuk mengingatnya karena di usianya yang kepala tujuh sudah mudah lupa. Demi hari yang sangat penting itu, disetiap tahunnya Opa Dirman melingkari kalender dengan spidol besar. Berharap tak melewati hari penting itu begitu saja. Semua orang boleh melupakannya, tapi tidak dengan dirinya.

Pagi itu Opa Dirman duduk santai diteras rumah. Ditemani kopi hitam dan singkong rebus, Opa Dirman syahdu mendengarkan siaran pagi RRI (Radio Republik Indonesia) dari radio tua miliknya. Lagu Birunya Rinduku Rina Angelina mengudara usai siaran berita. Lagu lama seperti inilah yang paling ditunggu Opa tiap kali mendengarkan radio. Lagu-lagu lama seolah mengembalikan potongan kenangan masa lalu yang tak bisa ia ingat dengan mudah, masa-masa pahit dan senang bersama kekasih hatinya dulu. Radio juga menjadi pengusir sepi kala pagi ia sendiri.

Dirumahnya yang besar, Opa Dirman tinggal dengan anak, menantu dan dua cucunya. Namun Opa Dirman selalu merasa sendiri sejak kekasih hatinya pergi lima tahun yang lalu. Anak dan cucunya terlalu sibuk dengan dunia mereka sendiri, tak pernah ada waktu lebih untuk sekadar makan bersama atau duduk menemani opa di teras. Terkadang anak-anak kecil yang tinggal tak jauh dari rumahnyalah yang menjadi teman opa.

Mereka selalu datang di saat jam siaran pagi radio selesai. Hari itu pun mereka datang. Tiga orang anak kecil berusia sekitar 8 tahunan berjalan tergesa-gesa ke teras rumah opa. Opa Dirman tersenyum lebar ketika tiga kawannya itu datang.

“Selamat siang, Opa,” sapa mereka riang sembari mencium tangan opa. Opa mengelus kepala mereka lembut. Mereka duduk tanpa disuruh.

“Sekarang opa lanjutkan cerita yang kemarin.” tagih Dani tak sabar. Opa mengernyitkan dahi, mencoba mengingat sampai dimana kemarin dia bercerita.

“Opa lupa, kemarin cerita opa berhenti dimana?” tanya opa bingung.

“Kompeni menemukan persediaan makanan dan obat-obatan para pejuang dan ceritanya berhenti disitu.” jawab Ambar. Opa berpikir sejenak, mengangguk-angguk lalu terkekeh.

“Ah, ya ya. Opa sekarang ingat!” serunya membuat anak-anak itu kembali antusias seperti kemarin. “Ketika kompeni datang, opa dan pejuang lainnya langsung mengungsikan pejuang yang terluka. Saat itu yang paling penting kabur dari kompeni,”

“Opa tentara?” potong Adam, penasaran kenapa opa ada di posisi yang seharusnya seorang prajurit lakukan. Opa menggeleng, dia bukan prajurit atau semacamnya. Ia dan pejuang lainnya hanya warga sipil yang tanahnya dijajah oleh kompeni.

“Pejuang yang terluka berhasil diungsikan, tapi sayangnya kami tak dapat mengamankan persediaan makanan dan obat-obatan. Kompeni merampasnya. Markas para pejuang di bom,” kenangnya getir.

Kisah opa menyiratkan ketakutan di wajah anak-anak itu. “karena tak ada makanan dan obat-obatan, satu persatu dari kami gugur. Opa dan seorang kawan pun melapor ke markas besar dan bertemu seorang jenderal besar. Opa kemudian dipersenjatai dan ikut penyerangan yang dikomandoi oleh jendral itu. Syukur, tanah kami kembali pada kami meski harus dibayar dengan gugurnya kawan sesama pejuang.” tambah opa.

“apa opa pahlawan?” tanya Adam, masih ingin tahu apa sebenarnya peran opa. Opa kembali menggeleng. Gelar itu terlalu besar untuk orang kecil seperti dirinya. “Kok bukan? Opa kan ikut berperang melawan kompeni itu,”

“Pahlawan itu orang yang berani berkorban untuk kepentingan orang banyak. Apa yang dilakukan opa kala itu tak seberapa, apalagi opa terluka. Dada opa terkena tembakan kompeni. Beruntung ada perawat cantik yang menolong opa.” ucap opa menjawab pertanyaan adam sekaligus mengenang awal ia kenal dengan kekasih hatinya itu. Pertemuan tak sengaja namun ditakdirkan itu membawa opa semakin dekat dengan perjuangan. Opa dan kekasih hatinya pun ikut berjuang bersama.

“Opa, kenapa dulu harus saling berantem sih opa? Bukannya opa sering bilang sama kita untuk tidak berantem?” kali ini Dani yang bertanya.

“Karena ini tanah air kita, tak ada satu pun orang yang boleh menjajahnya. Seperti rumah yang kalian punyai, jika ada yang merebutnya kalian biarkan begitu saja?” opa balik melempar pertanyaan. Ketiga bocah itu menggeleng kompak. Mereka jelas tak mau rumah mereka didatangi kompeni. Ngeri.

*****

Malam itu opa secara tidak sengaja mendengar percakapan anak dan menantunya.

“Sudah aku daftarkan. Kamu tinggal bilang sama bapak dan mempersiapkan segala kebutuhannya disana.” ucap menantu perempuan opa pada suaminya.

“Kenapa secepat itu?”

“Biar kamu gak berubah pikiran terus.”

“Dua hari lagi, kita akan membawa bapak ke sana. Sudah terlalu lama kita melupakan hal ini.” putus sang istri, tak mau berkompromi lagi. Keduanya kemudian masuk ke kamarnya.

Opa melihat kalendernya. Dua hari lagi? Bukankah itu akan menjadi hari yang sama dengan hari pentingnya? Apa yang akan dilakukan anaknya? Mungkinkah mereka akhirnya mengingat arti hari itu?

Opa sangat berharap demikian.

*****

Hari penting opa pun datang. Pagi-pagi sekali ia bangun, mandi dan berpakaian rapi lalu mempersiapkan diri untuk pergi. Di teras depan opa sempat ragu, haruskah ia menunggu anaknya bangun dan memberitahu opa tentang apa yang akan dilakukannya? Ah, tapi itu akan membuat perjalanan rentanya semakin lama. Pulangnya saja nanti, pikir opa.

*****

Menantu perempuan opa bingung ketika tak menemukan opa di kamar, kamar mandi, dan di teras depan. Dia panik dan membangunkan suaminya. Sang suami pun mengecek kembali kamar opa. Dia tak menemukan opa tapi menemukan hal lain yang membuatnya tercekat dan seketika merasa begitu bersalah. Kalender yang dicoreti dengan spidol hitam besar itu memang hari paling penting buat opa.

“Apa mungkin bapak pergi karena dia tahu kita akan membawanya ke panti jompo?” tanya sang istri. Sang suami tak menyahuti jawaban istrinya melainkan berlari mengambil kunci mobil dan melesat pergi.

*****

Sepanjang jalan senyum opa mengembang. Melihat orang-orang bisa hidup seperti yang mereka inginkan bukan mimpi lagi. Dulu, ketika tanah air masih dibawah jajahan bangsa lain rasanya hidup sehari saja begitu sulit. Kini, opa bersyukur anak-cucunya dan anak cucu para pejuang bisa hidup lebih baik. Karena itu, hari ini selalu special buat opa. Hari ulang tahunnya, hari ulang tahun pernikahan dengan almarhumah istrinya dan Hari Pahlawan, Hari para pejuang kemerdekaan. Demi hari yang sangat penting ini, opa membeli mawar merah tak hanya untuk makam istrinya tapi untuk makam kawan pejuangnya.

Sayangnya mawar-mawar merah itu tak pernah sampai ketujuannya. Mawar-mawar merah itu tertahan ditangan opa untuk waktu yang lama.

Hujan yang luruh seolah menjemput jiwa opa dan meninggalkan raganya di tanah airnya.

*****

Puisi kemerdekaan Opa Dirman

Untukmu, ANAK-ANAK bangsa

Kemerdekaan Indonesia sungguh bermakna

Disana, ada perjuangan dan harapan

Ditanganmulah, masa depan negeri ini dititipkan

Ditanganmulah, perjuangan itu dilanjutkan

Untuk itu, mari sejenak kita mengenang jasa para pejuang

Kibarkan merah putihmu

Sebagai rasa syukur dan kecintaan pada negeri ini

*Cerpen ini mengantar gue dan teman-teman kelompok gue menyelesaikan Tugas Akhir (TA) dengan baik dan nilai sempurna. Terima kasih Opa Dirman dan para pejuang kemerdekaan.

Bagikan ini:

Menyukai ini:

Suka Memuat...
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: