“Merdeka bagi kami adalah..

Ketika bisa duduk santai di sebuah kedai kopi bergengsi

Atau nongkrong bersama, numpang wifi dan tidak lupa berselfie

Ketika bisa sesuka hati mengomentari orang-orang yang hidup di tivi atau media sosial

Ketika bisa bebas mencaci, membenci bahkan membully

Merdeka bagi kami adalah..

Pikiran

Omongan

Tindakan

Yang sebebas-bebasnya, merdeka

Tetapi merdeka bagi tua renta itu..

Ketika makan tiwul berubah jadi nasi

Ketika bunyi letusan senapan berubah kembang api

Ketika ketakutan berubah kegembiraan, penuh gelak tawa

Ketika bisa melihat merah putih dikibarkan dimana-mana”

Sajak ini ku persembahkan untuk diriku sendiri (kami) yang hidup di jaman merdeka dan menemukan banyak kemudahan tetapi justru kesulitan menemukan makna kemerdekaan.

Juga ku persembahkan untuk nyai dan mak nyai (nenek dan kakek dalam bahasa Madura) ku, yang kerap mengisahkan masa muda mereka yang hidup di era penjajahan Jepang. Sungguh tidak mudah hidup di era itu.

Berbeda era kita hidup tentu sangat berbeda pemaknaan kita terhadap kemerdekaan. Bagi saya yang lahir dan hidup di era pasca kemerdekaan, kemerdekaan adalah ketika saya bebas berpikir dan melakukan banyak hal, meski saya seorang wanita. Saya bisa bebas belajar, berteman dengan banyak orang, bercita-cita dan hal-hal besar lainnya.

Tetapi bagi nyai dan mak nyaiku, kemerdekaan adalah hal yang sederhana. Bisa makan nasi, bisa menikmati masa tua tanpa bunyi senapan yang memekakkan telinga, tanpa ketakutan, bisa bernafas lega dan bersyukur anak cucunya tak ada di era itu.

Ya, sesederhana itu.

Bagikan ini:

Menyukai ini:

Suka Memuat...
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: