me-emeh
Dâpor Embuk

Mengenal Mè-èmèh: Kepiting Belangkas di Pesisir Madura

Sumber protein di laut Madura melimpah ruah. Berbagai jenis ikan, kepiting, dan kerang-kerangan mudah ditemukan. Salah satunya kepiting tapal kuda atau belangkas. Di Madura, hewan beruas ini memiliki nama lokal mè-èmèh. Sekilas mirip kepiting, cangkangnya keras dan berduri, kaki-kaki dengan capit kecil, dan ekor berujung runcing. Belangkas hidup di perairan dangkal yang berpasir atau berlumpur, atau di kawasan mangrove sehingga mudah ditemukan.

Belangkas dianggap fosil hidup karena punya leluhur yang hidup sejak 450 juta tahun lalu. Darah biru belangkas berharga di dunia medis sehingga perburuan hewan ini cukup masif dan terancam kepunahannya. Selain itu kerusakan habitatnya membuat populasi hewan ini semakin menurun sehingga ia masuk dalam daftar satwa yang dilindungi.

Meski demikian, dalam cerita rasa dan olahan masyarakat pesisir, khususnya di kampungku, mè-èmèh masih menjadi salah satu sumber makanan laut. Perburuannya tidak masif karena tidak sepopuler kepiting bakau atau kerang-kerangan. Keberadaannya di pesisir laut lebih sering diabaikan karena peminat dan nilai jualnya yang rendah. Biasanya warga mencari mè-èmèh hanya untuk kebutuhan konsumsi sendiri. Selain itu karena pengetahuan pengolahannya yang terbatas sehingga jarang yang memperjual belikannya.

Baca Juga Mengenal Lorjhu’: Kerang Bambu di Pesisir Selatan Madura

Ya, mengolah Mè-èmèh menjadi makanan tidak boleh sembarangan. Ada bagian di tubuhnya yang beracun sehingga hanya mereka yang berpengalaman yang bisa mengolahnya. Bagian yang bisa diolah dan dimakan itu berupa daging dan telur. Telurnya kecil-kecil, lebih kecil dari telur ikan. Tekstur dagingnya mirip daging kepiting.

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!