La-ola Plotân: Mengolah Ketan Menjadi Kudapan Tradisional yang Kaya Rasa dan Budaya
La-ola plotân merupakan aktivitas mengolah atau memasak ketan menjadi berbagai kudapan manis dan gurih. Di Madura, kudapan dengan bahan utama plotân atau ketan hampir mendominasi olahan kuliner tradisionalnya. Mulai dari ketan putih, ketan merah, dan ketan hitam. Kudapan tradisional ini memiliki keunikan rasa, pengolahan hingga tradisi dan budaya yang mengikutinya.
Keunikan rasa dan cara pengolahan yang berbeda membuat kudapan dari ketan memiliki banyak nama. Sebut saja bubur, lemper, leppet, wajik, tapay, dan jenang. Beda jenis ketan pun berbeda cara pengolahannya. Ketan putih biasanya menjadi bahan utama kudapan plotân salah, nom-noman, bâjhit, dan tettel. Sedangkan ketan hitam populer menjadi kudapan dhumasah (madumongso). Ketan merah, —meski sangat jarang dipilih karena mahal— dijadikan bubur manis.
Almarhumah Mbok Nyai (nenek) ku memiliki keterampilan mengolah aneka kudapan ketan. Di dapur tua kami, semua peralatan membuat kue, mulai dari yang paling kecil hingga yang paling besar tersedia. Biasanya ketika la-ola plotân, Mbok Nyai akan menggunakan kualinya yang paling besar. Sekiranya mampu mengolah puluhan kilo ketan dengan puluhan liter santan dan bahan pelengkap lainnya. Proses pembuatannya memakan waktu yang cukup lama.




Plotân dalam Tradisi dan Budaya Madura
Selain kaya rasa, ada tradisi dan budaya yang mengikutinya. Di Madura, pada momen tellasan (lebaran) kudapan dari ketan masih menjadi bagian dari makanan yang diantarkan ke tetangga atau saudara (ter-ater). Pun, saat ada acara pernikahan atau selametan menjadi suguhan tamu. Dalam tradisi long-nolongèn (rewang) para perempuan secara gotong royong mengolah dan mengaduk jenang dalam kuali besar. Biasanya setelah long-nolongèn, para perempuan ini dibawakan sebungkus plotân dhudhul dan makanan lainnya oleh si pemilik hajat.
Baca juga Warisan Ibu: Kecakapan Memasak & Seperangkat Alat Masak Tanpa Estetika Namun Syarat Makna
Tettel (jadah) juga menjadi kue simbolis saat acara lamaran dan upacara toju’ tettel atau prosesi turun tanah anak. Prosesi ini disebut toju’ tettel karena anak yang menjalani prosesi ini akan duduk di atas tettel berukuran besar. Hanya secara simbolis saja, karena setelahnya berlanjut ke prosesi lainnya. Selain itu, plotân kènca (ketan dengan parutan kelapa) juga menjadi penanda rasa syukur malam 27 Ramadan.

