bunga turi
Carèta Embuk,  Dâpor Embuk

Kembhâng Toroy: Bunga Turi di Tanah Tegalan Madura

Segala hal yang tercipta di Bumi memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Saling terikat, langsung ataupun tidak langsung, namun yang pasti tidak ada yang sia-sia dari penciptaannya. Kehilangan satu spesies hewan atau tumbuhan, sedikit atau banyak akan berdampak pada lingkungan. Tanaman lokal misalnya, ia tumbuh alami sesuai dengan kondisi lingkungannya termasuk iklim dan jenis tanah. Tanaman lokal juga erat kaitannya dengan kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat yang hidup di sekitarnya. Salah satunya pohon turi.

Orang Madura mengenal turi dengan nama lokal bhungka toroy (pohon turi), kembhâng toroy (bunga turi). Dulu di kawasan sawah belakang rumahku banyak sekali ditumbuhi pohon turi. Berjejer di antara pematang sawah. Pun di kawasan tambak, di antara jalan setapaknya dirimbuni pohon turi. Hari ini sulit sekali menemukan pohon turi, baik di pematang sawah maupun tambak. Ketiadaannya menjadi pengingat bahwa ada yang berubah di lingkungan desaku. Apakah ini dampak perubahan iklim? Entahlah, aku tidak cukup pengetahuan untuk menyimpulkan perubahan lingkungan karena hilangnya pepohonan.

Namun, sebagai warga desa yang suka mengamati lingkungan sekitar, aku bisa mencatat beberapa hal dari ketiadaan pohon turi ini. Pertama, masyarakat sudah mengenal aneka sayuran, di luar yang tumbuh di lingkungannya. Sepuluh atau dua puluh tahun lalu masih mengandalkan sayuran dari lingkungan sekitar. Ketersediaan sayuran di pasar lebih beragam, murah, dan mudah mendapatkannya. Sementara sayuran lokal biasanya tidak dibudidayakan sehingga ketersediaannya pun terbatas.

Baca juga Gheddhâng Bhiru: Pisang Biru Dalam Budaya Orang Madura

Kedua, berkurangnya peternak kambing & sapi sehingga berkurang pula kebutuhan pakan ternak. Dulu, hampir setiap rumah memiliki hewan ternak sehingga bukan hanya rerumputan saja yang diincar oleh para pengarit. Ranting-ranting pohon turi jadi menu pakan ternak. Ketiga, minimnya pengetahuan akan fungsi pohon turi pada kesuburan tanah, terutama pada lahan kritis. Mungkinkah ketiadaannya menjadi salah satu penyebab rusaknya lahan sawah akhir-akhir ini?

Cerita dan Rasa Bunga Turi

Pohonnya memberikan manfaat, pun bunga dan buahnya. Di Madura, kami biasanya mengolahnya menjadi cek-pencek atau rebusan bunga & buah turi muda dengan bumbu kacang. Cara membuatnya mudah, rebus bunga dan buahnya sampai empuk. Setelah matang, peras hingga airnya keluar. Campurkan sayuran dengan ulekan bumbu kacang, bawang putih, cabai, daun jeruk, garam, dan penyedap rasa. Disajikan hanya dengan nasi tanpa tambahan lauk tetap terasa nikmat.

Eksistensi pangan lokal seperti pohon turi bukan hanya soal ketahanan pangan, melainkan cerminan lestarinya lingkungan, budaya, dan kearifan lokalnya. Satu tanaman lokal berarti banyak bagi lingkungan, hewan, dan manusia. Seperti kami yang menikmati cek-pencek siang itu, aku & embukku jadi mengenang momen menunggui padi di bawah pohon turi.

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!