piala HB Jassin
Carèta Embuk

Kembali ke Jakarta Sebagai 10 Besar Finalis Piala HB Jassin 2025

Jakarta bukan sekadar nama sebuah kota megapolitan. Ia bagian penting dalam perjalanan membaca dan menulisku, yang turut menjadikanku hari ini. Belasan tahun lalu, selepas mondok di pesantren, Jakarta menjadi tempatku menempa diri untuk mengejar impianku menjadi penulis. Di sana, aku memulai semuanya: bekerja agar bisa kuliah, lalu kuliah sambil bekerja agar tetap bisa membiayai kuliah, setelah lulus aku bekerja penuh waktu. Di sana pula, aku menemukan kesadaran baru bahwa tulisan juga bisa menyuarakan berbagai hal, termasuk ketimpangan. Kesadaran itu aku temukan dalam buku Maryam karya Okky Madasari, yang hingga kini menjadi penulis favorit dan inspirasiku untuk terus berani bersuara lewat tulisan.

Masa perantauan usai, aku pulang kembali ke tanah leluhur dan lahirku, Madura. Di sebuah kampung di pesisir selatan Selat Madura, aku tetap menulis. Cerita-cerita di sepanjang tanèyan lanjhâng aku tulis di blog dan media sosial. Sesekali menulis puisi dan cerpen, untuk menumpahkan kegelisahan yang tak selesai di kepala. Suatu ketika, pengumuman Lomba Cerpen Piala HB Jassin 2025 itu aku baca. Hal yang pertama terpikir saat itu bukanlah menang dan mendapatkan hadiah, tetapi kesempatan untuk kembali ke Jakarta lewat tulisanku. Aku ingin hal itu! Segera ku buat draft naskah, kuminta suamiku untuk mengulasnya dan mengingatkan tenggat waktu lomba. Berikutnya aku kirim sesuai syarat dan ketentuan.

Awal Oktober, aku menerima kabar baik. Cerpenku yang berjudul Mosèng Kembhâng terpilih sebagai 10 besar finalis Piala HB Jassin 2025. Namaku disebut sebagai perwakilan Madura untuk hadir pada malam final di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Mbak Okky Madasari pernah bilang bahwa sastra bukan sekadar kata-kata puitis tetapi kata yang membangun kesadaran dan keberanian untuk bersuara. Mungkin tulisanku masih jauh dari apa yang beliau ucapkan, tetapi aku terus saja menulis untuk membangun kesadaran & keberanianku sendiri. Salah satunya melalui cerita pendek ini.

Terima kasih suamiku karena selalu meyakinkanku untuk melanjutkan mimpi-mimpi ini. Juga embuk dan kakakku yang selalu menaruh percaya bahwa aku bisa. Anakku, berkat dia aku ingin terus menulis meski sudah jadi ibu-ibu. Apresiasi dan dukungan teman-teman sangat berarti. Aku hanya bisa bilang terima kasih dan terima kasih.

Mungkin suatu saat, yang dibicarakan tentang Madura tidak selalu stigma negatifnya. Melainkan tentang karya-karyanya. Karena Piala HB Jassin malam itu ada tiga orang yang mewakili Madura, aku Finalis Cerpen dari Bangkalan, Daviatul Umam Finalis Kritik Sastra dari Sumenep dan Mohammad Nuruddin juara 2 Baca Puisi dari Pamekasan.

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!