Nembhârâ’ Kembhâr: Hujan di Musim Kemarau
Penghujung bulan Mei 2025, tanah tegalan masih diguyur hujan lebat. Hampir setiap hari, menjelang siang atau sore mendung datang kemudian hujan deras. Padahal seharusnya musim telah berganti, dari nembhârâ’ (musim hujan) ke nèmor (musim kemarau). Di desaku, fenomena ini dikenal sebagai nembhârâ’ kembhâr, musim hujan kembar atau musim kemarau namun masih turun hujan. Kemarau basah ini mendatangkan keuntungan sekaligus kerugian bagi petani.
Bagi sawah tadah hujan yang jauh dari sumber mata air seperti sungai, ini menguntungkan. Biasanya musim tanam ke dua dimulai saat peralihan ke musim kemarau. Para petani menyuplai kebutuhan air dari sumur bor. Tentu petani harus mengeluarkan modal tambahan untuk membuat sumur bor. Sebaliknya, bagi sawah yang dekat dengan sumber mata air, ini bisa jadi merugikan.
Baca Juga Sawah Pesisir Riwayatmu Kini
Curah hujan yang tinggi kerap membuat sawah kebanjiran. Benih yang baru ditabur bisa hanyut terbawa air, atau bibit yang baru ditanam terancam mati karena kelebihan air. Sementara sungai, -yang seharusnya bisa mengalirkan luapan air sawah-, pun kelebihan muatan. Bahkan ada beberapa kasus sungai meluap dan membajiri sawah.



Tak ada tanah yang tak bisa diolah dan ditanami. Barangkali itulah yang selalu diyakini para petani sehingga apapun kendalanya, musim tanam harus terus berlanjut. Mereka hanya mampu mengupayakan semampunya, setelahnya menjadi urusan Tuhan.

