sawah pesisir
Carèta Embuk

Sawah Pesisir Riwayatmu Kini

Ekosistem pesisir itu kaya sumber daya alam dan saling menopang satu sama lain. Ada kawasan rawa, muara sungai, hutan bakau, tambak, sawah pesisir, dan bibir pantai. Semuanya ini tercipta seimbang sehingga kebutuhan makhluk hidup yang tinggal di kawasan ini pun selalu terpenuhi. Ya, manusia, hewan, dan tetumbuhan. Sayangnya, perusakan alam yang berakibat pada perubahan alam pelan-pelan mengubah keseimbangan ekosistem pesisir. Salah satu dampaknya bisa dilihat langsung di desaku, di mana sawah pesisir rusak dan mati.

Sawah pesisir adalah area persawahan yang berada di tepi laut dan merupakan bagian dari ekosistem pesisir. Tanaman yang tumbuh di kawasan pesisir, termasuk tanaman padi memiliki kisaran toleransi tertentu terhadap kandungan garam. Namun, perubahan iklim menyebabkan naiknya permukaan air laut sehingga terjadi peningkatan salinitas air tanah atau salinitas tanah. Akibatnya kandungan garamnya melebihi ambang batas toleransi tanaman.

Baca juga Nembhârâ’ Kembhâr: Hujan di Musim Kemarau

Mengutip dari jurnal yang diterbitkan oleh Vicca Karolinoerita dan Wahida Annisa Yusuf (Salinisasi Lahan dan Permasalahannya di Indonesia), salinisasi tanah merupakan proses peningkatan kadar garam mudah larut di dalam tanah sehingga terbentuk lahan salin. Selain itu, peralihan fungsi lahan juga berkontribusi pada salinisasi tanah. Kondisi lahan salin tidak hanya terjadi di kampungku. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan ada sekitar satu juta hektar lahan pertanian di Indonesia yang terdampak salinitas.

Sawah Pesisir Riwayatmu Kini

Sawah pesisir di desaku cukup luas, berada di sisi timur dan barat desa, berbatasan langsung dengan tambak dan muara sungai. Keluargaku adalah salah satu pemilik sawah pesisir. Dulu, kawasan ini hidup meski berdampingan dengan tambak dan pesisir laut. Sekarang, sawah keluargaku rusak dan mati, tak lagi berfungsi sebagaimana dulu. Terbengkalai selama bertahun-tahun karena kami pun tak tahu bagaimana cara memperbaikinya. Lahan sudah berubah menjadi lumpur laut dengan aneka keong, ya miriplah dengan pesisir laut. Kebutuhan beras kami pun sangat bergantung pada kawasan tegalan atau tadah hujan di utara desa. Padahal dulu sawah keluarga seluas seluas 4172 m² ini bisa menghasilkan 60-70 sak dalam sekali panen.

Sawah pesisir kami telah rusak tetapi sayangnya tidak ada pengecekan atau upaya merestorasi lahan dari pihak dinas atau kementerian. Keluarga kami hanya sebatas petani, tidak memiliki pengetahuan yang mumpuni untuk meneliti dan merestorasi lahan rusak. Jika fenomena lahan salin ini terus berlanjut dan tidak ada upaya mitigasi, ini akan menjadi ancaman ketahanan pangan dan krisis pangan di masa depan. Mengingat orang Indonesia masih sangat bergantung pada beras sebagai makanan pokok.

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!