tanah tabu
Mâca,  Novel/lainnya

Cerita Buku Tanah Tabu: Melihat Tanah Surga Dari Kacamata Anak Perempuan, Anjing, dan Babi

Jika membaca Papua hari ini, banyak sekali berita yang menyuguhkan narasi yang hampir serupa. Tentang tanah yang kaya sumber daya alam dan surga terakhir di Bumi. Di saat yang bersamaan hutannya dibabat atas nama kemajuan peradaban. Buku Tanah Tabu yang ditulis oleh Anindita S. Thayf mengajak pembaca agar melihat Papua lebih utuh. Dari kacamata seorang anak perempuan Papua, seekor anjing dan babi piaraannya.

Tanah Tabu merupakan novel pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2008. Berlatar kota Timika pada tahun 2012 dengan tiga pencerita, Pum si anjing tua, Kwee si babi, dan Leksi anak perempuan yang selalu penasaran dengan berbagai hal. Kisah dibuka oleh Pum, si anjing tua yang menjadi saksi perubahan tanah Papua dari masa ke masa. Ingatan Pum menyimpan kenangan masa kecilnya tentang tanah surga yang tak terjamah. Cendrawasih kuning, kakatua jambul merah, anggrek hutan, buah merah raksasa, dan segala yang tumbuh ketika alam masih liar. Tak terjamah tangan-tangan besi. Perubahan besar pada tanah surganya, membuat ia memahami mengapa setiap suku sangat suka berperang dan setiap pendatang sangat suka merampas.

Baca Juga Review Buku Tuhan Bersembunyi Seperti Kancing Cadangan – Buku Intensif

Kwee, si babi yang tak ubahnya anak kedua di keluarga Mace, setelah Leksi. Kedekatan Kwee dengan anggota keluarga itu merekam kisah tiga perempuan lintas generasi. Mabel sang nenek, Mace sang ibu, dan Leksi sang anak. Pencerita ketiga ada Aku (Leksi), anak perempuan berusia tujuh tahun yang baru bersekolah namun lebih suka bermain dan mencuri dengar gosip para mace.

Pertama kali membaca buku ini pada 2017 lalu dan menjadi salah satu buku favoritku. Tak pernah bosan membacanya ulang karena isu yang diangkat dalam buku masih sangat relevan dengan apa yang terjadi hari ini di tanah Papua. Penulis menyajikan narasi kritis kondisi tanah dan masyarakat Papua yang terjerat kapitalisme, partriaki, kekerasan, dan relasi kuasa. Isu yang disajikan pun dituturkan dalam bahasa kasih dan imajinatif antara Pum-Mabel-Mace-Kwee-Leksi.

Penulis memberikan kesempatan pembaca untuk menjelajahi isu dari sudut pandang tiga tokoh utamanya. Pum yang bijaksana dan Kwee yang perasa. Sementara Leksi, meskipun anak-anak, ia berani mempertanyakan hal-hal yang ditabukan oleh orang dewasa. Melalui kelindan ingatan Pum dan Kwee serta petualangan Leksi, alur cerita jadi menyenangkan, menegangkan, dan mengesankan sampai halaman terakhir.

“Nak kau harus terbiasa melihat sesuatu tanpa menggunakan mata, Nak, melainkan panca indramu yang lain, seperti hidung. Jangan lupa pula gunakan selalu hati dan pikiranmu.” (Mabel, hal 30)

“Akankah kami semua, termasuk aku, ditakdirkan mati mengenaskan seperti kata Kematian, karena kelaparan, kemiskinan, terkena penyakit, atau tertimpa bencana, di tengah tempat yang justru terus menerus dipoles agar semakin indah ini?” (Pum, hal 36)

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!