tuhan bersembunyi
Novel/lainnya

Cerita Buku Tuhan Bersembunyi Seperti Kancing Cadangan – Buku Intensif

Tuhan kerap kali menjumpai manusia dengan cara-cara yang teramat sederhana. Tidak selalu di tempat ibadah, atau melalui pemuka agama. Adakalanya, Tuhan hadir di antara petuah bijak seorang penjahit kepada seorang pensiunan tentara yang putus asa. Buku yang ditulis oleh Robbyan Abel Ramdhon, Tuhan Bersembunyi Seperti Kancing Cadangan berkisah pencarian Tuhan lewat seorang pensiunan tentara.

Buku yang diterbitkan oleh Buku Intensif ini berisi sepuluh cerita pendek, dengan latar cerita dan penokohan yang sangat eksploratif. Seorang pensiunan militer, starter pacuan kuda, pekerja pabrik pistol, mantan atlet bola, dan sosok lain yang mungkin dekat dengan kehidupan kita. Berlatar arena pacuan kuda, markas militer, kelab malam, penjara hingga dek kapal. Buku ini menyingkap sisi lain manusia tentang dirinya dan ruang hidupnya. Penulis mengajak pembaca menjelajahi isi kepala manusia yang liar sembari melihat realitasnya.

Tuhan Bersembunyi Seperti Kancing Cadangan, berkisah tentang pensiunan militer yang berjasa di medan perang namun terlupakan. Masa tuanya tidak hanya menyisakan bekas luka bakar di wajah dan sebelah kaki yang diamputasi, tetapi kesendirian dan kemiskinan. Ia merasa Tuhan tidak adil padanya. Padahal ia telah melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan Tuhan, membangun perdamaian. Sang pensiunan itu hendak menuntut keadilan pada Tuhan, lalu ia mencari-Nya di segala tempat. Seorang penjahit yang ia temui memberitahunya,

“Dan, ah sesekali periksa pakaianmu. Teliti dengan benar, di bagian dalam pergelangan tangan, kerah leher, atau di balik saku depan, sebab Tuhan sering bersembunyi seperti kancing cadangan.” (14)

Devaryo, percakapan dua lelaki dewasa di atas dek kapal tentang seorang perempuan yang mengisi hidupnya. Devaryo, seorang pemuda yang sedang dimabuk asmara sehingga rela mendatangi kekasihnya di seberang pulau sana. George, seorang lelaki matang yang berpengalaman, — sering berniaga antar pulau dan pernah menikah. Obrolan singkat antar dua orang asing yang ternyata membuka kesadaran pemuda itu tentang pilihan hidupnya.

“Kita memilih bukan untuk bebas, melainkan untuk terpenjara dalam pilihan yang kita ambil. Maka pastikan kau terpenjara dengan orang yang tepat. Apa kau sudah memastikan itu?” (59)

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!