pelangi
Carèta Embuk

Andâng: Dongeng Pelangi Dalam Sastra Lisan Madura

Sastra lisan Madura itu kaya banget. Seperti yang disinggung dalam tulisan ini Né’-Kéné’ Cabbhi Lété’: Mengenal Sastra Lisan Madura, ada dhungéng, parébhâsan, pangalem, bhâbhâsan, saloka, bhângsalan, paparéghân, sendhilan, lok-olok, mamaca, dan syi’ir. Salah satu yang paling sering dituturkan oleh almarhumah Embuk Nyai adalah dhungéng atau dongeng tentang kisah andâng atau pelangi. Andâng digambarkan sebagai seekor naga besar yang menjelma sebagai pelangi. Kepala dan ekor mahkluk mitologi ini diibaratkan kedua ujung pelangi.

Dikisahkan, andâng hidup di atas langit. Ketika musim hujan turun dan mengisi mata air, sang naga besar turun ke Bumi untuk minum ke mata air. Kemunculannya di Bumi berkamuflase dalam bentuk pelangi dengan tujuh rupa warna. Mengecoh mata manusia. Ada yang menyebut, bahwa tujuannya turun ke Bumi untuk menculik anak-anak sehingga para orang tua melarang anaknya bermain di sungai selepas hujan. Kisah ini populer di beberapa daerah Madura, dengan beragam versi cerita namun dengan benang merah yang sama. Kemunculan makhluk mitologi dan mata air.

Mungkin kisah ini terdengar bualan tetapi bagiku ia merupakan pengetahuan lokal masyarakat tanah tegalan ketika merespon fenomena alam. Sains yang dinarasikan ulang menjadi dongeng sehingga lebih mudah diterima oleh anak-anak. Keberadaan naga dalam kisah ini tentu saja fiktif atau hanya rekaan. Tetapi jika ditelusuri lebih jauh, kisah ini memiliki benang merah yang sama: mata air. Pertama, tentang keberadaan sumber mata air. Dongeng ini menyinggung eksistensi sumber mata air. Apalagi mata air merupakan tumpuan bagi tanah tegalan dan sawah tadah hujan di Pulau Madura. Kedua, fenomena munculnya pelangi. Kisah ini menjelaskan proses singkat terciptanya pelangi yang melibatkan mata air. Ketiga, mitigasi bencana luapan sungai akibat hujan sehingga anak-anak dilarang bermain di sungai saat/setelah hujan.

Tentu saja ini hanya penafsiran subjektifku atas dongeng pelangi ini. Aku beranggapan bahwa dongeng dibuat bukan hanya sekadar imajinasi penuturnya. Ada yang melatar belakangi kisahnya dan tujuannya dikisahkan kepada anak-anak. Ya, semacam respon pada semesta: alam, makhluk, pengetahuan, atau kebudayaan yang sedang berproses dan berubah. Jika demikian, maka orang Madura tidaklah pantas disebut SDM (Sumber Daya Manusia) rendah jika kemampuan literasinya telah menciptakan banyak produk kebudayaan seperti sastra lisan ini. Bukankah kemampuan membaca semesta lalu mengolahnya menjadi sebuah karya juga bagian dari kecerdasan?

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!