pasuruan
Cerita Lainnya,  Perjalanan

Bersepeda Mengitari dan Menikmati Kehidupan Kota Pasuruan

“Bersepeda keliling kota, kanan kiri, ramai jalanan, arungi lautan kendaraan”, potongan lirik dari lagu Senja di Jakarta milik Banda Neira seolah menjadi pembuka awal kami bersepeda. Ya, tahun pertama kami tinggal dan menetap sementara di Kota kecil Pasuruan membuat kami memutuskan untuk membeli sepasang sepeda. Apalagi kala itu, pandemi covid-19 baru merebak, segala aktivitas yang melibatkan banyak orang dibatasi. Jadi bersepeda adalah pilihan terbaik. Sebelumnya, Mas suami memang sudah hobi bersepeda. Dengan sepeda tipe road bike, biasanya Ia dan teman-temanya di Kota Malang mengayuh hingga puluhan Kilometer. Tentu kali ini tujuannya berbeda, kami bersepeda hanya ingin menghabiskan waktu bersama sembari menikmati kota kecil ini.

Sepasang sepeda gunung kami beli dengan spesifikasi standar karena hanya untuk jarak dekat. Kami memulai rute kecil di sekitar tempat tinggal kami. Menyesuaikan kemampuanku yang baru memulai kembali setelah sekian tahun tak bersepeda. Ia merakit sendiri sepeda yang dibeli online karena sudah terbiasa mengutak atik sepeda.

pasuruan
Kost Pink, Pasuruan, Circa 2020

Menjelajahi Setiap Sudut Kota Pasuruan

Alih-alih menjadikan sepeda sebagai olahraga, justru sebagai media kami mengekplorasi setiap sudut kota ini. Belanja di pasar, menikmati pagi di pelabuhan, menelusuri sawah, kampung-kampung, jalur wisata arah ke Bromo hingga sarapan pagi di lapak-lapak pecel. Nyasar? Sering. Mentok di jalan buntu atau jalan tak ramah sepeda? Apalagi. Bahkan terkadang kami tak tahu sedang berada di daerah mana karena memang asal jalan dan menikmati saja jalur jalan yang ada.

Apa yang kami temui di sepanjang jalan ngalor ngidul itu? Banyak! Pemandangan berlatar gunung, rumah-rumah tua peninggalan kolonial belanda, kawasan pengrajin kayu, dan lainnya.

Menanti pagi di Pelabuhan

Adakalanya minggu pagi kami juga banyak dihabiskan di pelabuhan. Memarkir sepeda, meneguk air putih yang kami bawa lalu hanyut dalam aktivitas di pelabuhan. Memperhatikan lalu lalang kapal dan perahu kecil nelayan yang baru saja berlabuh atau baru saja akan berangkat melaut. Pada sisi yang lain, nampak kesibukan para awak kapal membongkar muatan hasil tangkapannya atau nelayan yang memperbaiki perahu kecilnya. Dan kami tak sendiri, ada beberapa pesepeda lain yang juga singgah di pelabuhan, warga dan pedagang kaki lima.

Sarapan nikmat di Pecel Diponegoro

Sebagai penikmat sajian pecel, rasanya tak bisa dilewatkan begitu saja di setiap minggu jadwal kami bersepeda. Penjual pecel selalu menjadi tujuan akhir dari bersepeda. Lelah dan lapar menghabiskan tenaga, meski hanya beberapa kilometer, tujuan akhir kami ya mengunjungi bakulan pecel langganan kami. Mengisi kembali tenaga sebelum kami kembali mengayuh pulang.

Pecel Diponegoro berada di kawasan Jalan Diponegoro, tak begitu jauh dari alun-alun Kota Pasuruan. Pecel Diponegoro sangat khas dengan sayur kembang turi-nya dan bumbunya yang medok. Selain itu, tempatnya juga memberikan kenyamanan tersendiri karena berada di bawah rimbunan bambu yang berlatar bangunan tua. Terkadang tembang jawa macam didi kempot menambah syahdu sarapan pagi di tempat ini. Parkir sepedamu segera, dan nikmati pagi dengan sepincuk pecel atau soto serta seduhan teh hangat.

Perempuan yang merasa merdeka melalui peran kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: