Ruang Kata & Rasa

BESEK

Semua gara-gara besek.

Ya, besek, berkat atau tentengan yang biasa didapatkan saat mengikuti tahlilan, sunatan, selametan atau hajatan lainnya. Dan seharusnya besek tidak pernah menjadi lantaran sebuah masalah. Apa coba yang harus dipermasalahkan? Isinya yang itu-itu saja? Nasi beserta lauk, jajanan pasar yang hampir basi, air mineral merek murahan dan kalau si pemilik hajat orang kaya, ada rupiah tak seberapa yang terselip.

Tetapi bagi kami, keluarga kami, besek adalah barang mewah. Setiap ada tahlilan, selamatan atau sunatan, keluarga kami tak pernah diundang. Ya gimana mau diundang, lazimnya acara hajatan di kampung kami, para tamu undangan adalah kepala keluarga atau lelaki yang bisa mewakili keluarga yang diundang. Sementara di rumah kami tak ada lelaki dewasa, ah, sebut saja bapak, yang biasanya diundang sebagai kepala keluarga, wakil keluarga.

Para wakil keluarga ini tak sekadar datang, berbasa-basi dengan ucapan selamat, makan, dan pulang membawa besek. Dalam hajatan, mereka akan membacakan Tahlil, Surat Yasin, dan membaca doa. Tentulah prosesi ini sepenuhnya milik kepala keluarga, seorang lelaki yang menduduki puncak tertinggi dalam tatanan  agama, keluarga maupun sosial. Akan aneh jika perempuan ada di tengah-tengah prosesi itu. Melibatkan perempuan dalam urusan ini sama saja melemahkan peran lelaki. Tugas perempuan cukup di dapur, menyediakan segala kebutuhan hajatan, pra sampai pasca.

Satu-satunya lelaki di rumah kami, keluarga kami hanyalah Yos.

Yos baru berusia tujuh tahun, anak termuda di keluarga kami, setelah Ratna (10), Mae (13), Indri (15) dan aku. Yos jelas belum cukup umur untuk menjadi wakil keluarga kami mengikuti hajatan. Mengelap ingus saja masih belepotan, apalagi ikut hajatan. Bukannya ikut merapal kalimat Tuhan, ia malah akan sibuk merepotkan.

Maka, besek pun menjadi barang mewah yang tak bisa didapatkan dengan mudah. Kecuali ibu mau menikah lagi (tapi sungguh tak mungkin ibu mau menikah hanya untuk sebuah besek). Kecuali pula para pemilik hajat sadar dengan keberadaan keluarga kami dan ketiadaan lelaki dewasa dalam keluarga kami. Seperti dua pemilik hajat yang akan menjadi inti dari cerita yang akan kuceritakan ini.

Ku harap kau mau mendengar kisah yang akan kuceritakan. Tentang besek yang datang ke rumah kami dan menjadi awal malapetaka sekaligus membuat cerita ini harus ada.

***

Sore itu, seperti sore biasanya.

Ibu pulang dari sawah, mengumpulkan kami di ruang tengah. Menggelar tikar lusuh, mengabsen nama kami dan meminta kami duduk membentuk lingkaran. Seperti biasa pula, kami menurut, duduk melingkar dan menunggu apa yang akan dilakukan Ibu.

Ibu membuka bungkusan plastik yang sedari tadi ditenteng. Dikeluarkannya tiga bungkus nasi: membuka karet pembungkus, menata letak nasi sesuai ukuran kertas pembungkus, membagi nasi dan lauk menjadi enam bagian. Lalu  Ibu meminta kami berdoa, bersyukur dengan apa yang kami makan hari ini dan berharap rejeki akan terus datang pada kami, pada keluarga kami. 

Kami pun makan. Khusuk, tak ada yang berbicara. Sebab kata Ibu, makan itu perlu dinikmati, dihayati. Tiap butir nasi itu hasil jerih payah petani: menyiapkan lahan, merendam gabah menjadi kecambah, menyemai benih, menanam bibit, menyiangi lahan, pemupukan, mengusir hama, menunggu masa panen, memanen, menjemur, dan menjadi gabah. Begitu pula lauk yang kita makan, ada kerja keras para nelayan: merajut pukat dan bumbung, menyiapkan perahu, memastikan cuaca, berangkat dengan modal keberanian dan bertaruh nyawa, menunggu pukat terisi sekawanan ikan, dan pulang untuk melelang ikan. Semua itu adalah rejeki dari bumi layak kita hargai.

“Bu, tadi siang pak Haji Ahmad ke sini. Besok, habis maghrib minta tolong direwangi (dibantu) selametan hajinya. Dan Pak Kades tadi juga ke sini. Minta tolong direwangi juga selametan pengangkatannya jadi Kades baru. Sama persis, abis Maghrib.” tutur Mae, usai makan.

Wajah saudara-saudaraku sumringah. Ini berita bagus karena Ibu diundang secara khusus. Bagaimana tidak, selama ini kami hanya bisa menunggu para pemilik hajat sadar dengan keberadaan kami.  Dan ini, dua orang penting di kampung ini secara khusus meminta ibu membantu di acara mereka. Tentu kami senang bukan kepalang. Hanya Yos yang masa bodoh dan sibuk dengan mainannya dan sesekali mengajakku bermain. Tak kuhiraukan. Urusan besek lebih penting daripada meladeninya bermain.

Dua selametan. Bakal ada dua besek dengan kualitas isi besek di atas rata-rata. Besek pak Haji Ahmad, biasanya terdiri dari nasi dengan lauk ayam goreng dan kentang balado, kue putu, kue lumpur, air mineral dan satu buah pisang. Beda tipis dengan calon pak kades yang kadang mengadakan acara pengajian di rumah gedongnya. Nasi dengan ayam kecap dan bihun, lemper, onde-onde, risolles, dan buah apel. Ah, kalau dia sedang berbaik hati, ada uang sepuluh ribu rupiah di dalamnya.

“Ibu akan pilih datang ke selametan siapa? Pak kades baru atau pak haji Ahmad?” tanya Ratna, penasaran.

Ibu mengendikkan bahu, entahlah. 

“Sebaiknya ibu ke pak haji. Dia baru pulang dari tanah suci bukan? Kita bisa dapat sajadah baru lagi sekaligus didoakan biar cepat menyusul ke tanah suci.” Mae ambil suara lebih dulu. “Konon, doanya orang yang baru pulang haji lebih cepat didengar Allah. Barangkali pak haji sudi mendoakan keluarga kami. Mintalah didoakan yang banyak, bu.”

“Ke pak kades baru saja, bu. Ia baru diangkat, pastilah banyak yang ia kasih pada warga. Ingat kan bagaimana saat dia kampanye dulu? Uang dan sembako dibagikan di mana-mana.” ujar Indri. “ Ah, bahkan ia berkunjung ke rumah kita, bu. Duduk di kursi reot kita, minum teh yang diseduhkan ratna dan mengobrol dengan ibu.”

“Itu karena ada maunya. Pencitraan. Itu ia lakukan karena kami keluarga duafa dan ibu janda, termasuk dalam program kerjanya sebagai kepala desa. Menyantuni kaum duafa dan janda. Kunjungannya bukanlah sesuatu yang istimewa. Tak perlu diagung-agungkan.” sela Mae.

“Sudah, sudah, tak perlu diperdebatkan. Nanti ibu akan tentukan sendiri,” kata ibu sembari membereskan bekas makanan. Ketiga saudara perempuanku itu seketika terdiam. Yos? Ia masih sibuk sendiri dan belum paham betapa persoalan besek selalu penting bagi keluarga ini.

****

Semalaman ibu gelisah, bingung menentukan pilihan. Bukan pilihan pada siapa dia akan datang tetapi haruskah ia datang atau mengingkari undangan dua orang itu.

Kedua sosok itu adalah orang yang punya pengaruh sangat besar di kampung.

Pak Haji Ahmad, juragan emas dan tanah yang kerap pergi beribadah ke tanah suci. Entah itu berumroh ataupun berhaji. Orang-orang menaruh hormat padanya karena kebaikan hatinya memberikan pinjaman uang dengan bunga yang lebih sedikit dibandingkan bank. Ia juga tak pernah pernah membatasi berapa nominal rupiah yang dibutuhkan warga. Makanya banyak warga kampung yang menaruh harapan pada pria berkepala botak itu ketika musim paceklik tiba. Sebagai gantinya, surat tanah, emas, bahkan hewan ternak mereka titipkan untuk jaminan.

Bahkan, pak haji dengan baik hati menawarkan warga untuk bekerja di Arab Saudi dengan biaya tanggungan dari dia. Tidak gratis, pak haji hanya menanggung biaya keberangkatan dengan jaminan potong gaji di dua bulan pertama kerja. Berkat bantuannya itu, ada puluhan teman sebaya Indri berangkat ke Arab Saudi.

Sementara pak kades baru, dia orang pintar di kampung kami. Orang pintar bukan berarti dukun, ya. Dia sungguh orang yang pintar. Katanya dia seorang sarjana, gelar yang diberikan untuk mereka yang sekolah tinggi. Dan orang yang sekolah tinggi sudah pasti pintar. Ya, hampir mirip dengan gelar pak haji, untuk  mendapatkannya kau tak hanya pandai mengaji tetapi harus mampu untuk datang ke tanah suci.

Pak kades yang pintar ini pun sama baik hatinya dengan pak haji. Setelah menempuh pendidikan di kota, ia pulang ke kampung halamannya dengan satu niat yang mulia, ingin memajukan kampung. Ia pun masuk dalam bursa pemilihan calon kepala desa yang selama ini didominasi para tua bangka.

Tak hanya pintar dan baik hati, di hari pertama kampanye, ia turun langsung ke lapangan. Ia datang ke ladang dan sawah, lalu tak segan membantu warga. Berkotor-kotor dengan lumpur, berkeringat. Ia kunjungi pula rumah-rumah warga, bertanya apa kesulitan kami, dan apa yang dibutuhkan kami. Ia sungguh mendengarkan kami. Lalu ia berjanji jika terpilih nanti, ia akan perjuangkan semua yang kami ungkapkan. Ia akan membuat kampung kami semakin maju.

Pemimpin rakyat, ya harus dekat dengan rakyat. Kepala desa itu pelayan rakyat. Begitu katanya. Sungguh, itu hal yang tak pernah dilakukan oleh calon kepala desa lainnya, bahkan yang terdahulu.

Kesan merakyat inilah yang kemudian membuatnya memenangkan hati warga sekaligus memenangkan pemilihan kepala desa. Ia menang telak dari calon lainnya.

.

Dan, ibu terlelap begitu saja. Aku beringsut ke sisinya dan tidur.

******

Pagi itu masih dini.

Tetapi kehidupan ibu di hari itu, sudah dimulai sejak pagi yang dini itu. Ia bangun, menuju sumur belakang dan memulai aktivitasnya seperti menyikat gigi, mencuci muka, menimba air, mengisi periuk dengan air, mencuci beras dan sayuran, menjerang air, mengisi termos, menanak nasi, menyiangi sayuran, menguliti ikan asin, kemudian lanjut lagi dengan mencuci pakaian kotor saudara-saudaraku.

Di sela-sela mencuci pakaian itulah biasanya ibu membicarakan banyak hal denganku. Tentang sawahnya, padi yang ditanamnya, dan tentang dua orang yang tiba-tiba mengunjunginya di sawah.

“Bagaimana sawahnya, Yu? Panen gak nanti? Kok kelihatannya lesu gitu?” teriak pak haji di seberang pematang sawah.

“Ya kalau menanam sudah pasti panen, pak haji.” sahut Ibu.

“Rugi lagi gak? Wes to, gak usah capek-capek nanem, hasile gak kethok ngono. Banyak ruginya. Kebutuhanmu jauh lebih banyak. Dua anakmu putus sekolah, yang paling besar ditawari jadi TKW gak mau. Mending sawahnya kau titipkan ke aku.” bujuknya dan ini bukan yang pertama kalinya.  Bukan pertama kalinya pula ia melibatkan saudara-saudaraku dalam perbincangan ini. Dan tiap kali menyinggung hal itu, dada ibu terasa sesak. “Sampean bisa dapat modal buat dagang, lebih kelihatan untungnya dan cepat. Gak mesti nunggu berbulan-bulan.”

“Yu Dasimah, sudah pasrahin ke aku sawahnya. Tentram dia ngabisin masa tuanya. Tinggal nunggu uang setoran dari aku tiap bulannya. Apalagi si Karyam, dan Dul, sudah bangun rumah gedong mereka.” tambahnya. Ibu menarik napas panjang lalu tersenyum.

“Terima kasih pak haji, tawarannya. Tapi sawah ini sudah seperti orang tua saya sendiri, mau sesulit apapun ya sudah jadi bagian yang terpisahkan dari kehidupan saya.” jawab ibu, seperti biasanya, bijak dan penuh makna. Pak Haji botak geleng-geleng kepala lalu pergi dengan ketus.

Ibu melanjutkan menyiangi rumput liar di antara sela padi, sampai akhirnya kedatangan pak kades terpilih menghentikannya. Katanya dia habis blusukan dari sawah dan ladang warga. Ia banyak bicara dengan bahasa yang tak bisa ibu pahami. Menurut hasil blusukannya, sawah dan ladang di kampung kami sudah memasuki masa kritis.  Struktur tanah yang kering dan intensitas curah hujan yang sedikit membuat ladang dan sawah kurang subur. Apalagi sungai yang menjadi tumpuan petani lebih sering kering.

Ibu lebih banyak mendengar. Obrolan satu arah berlanjut dan tiba-tiba saja dia menyebut soal pembangunan pabrik semen dalam waktu dekat. Lokasinya hanya beberapa meter dari sawah ibu. Pak Kades sangat bersyukur, pembangunan pabrik semen menjadi awal perubahan di kampung kami. Akan ada banyak perekrutan karyawan besar-besaran, sekolah-sekolah akan dibangun, jalan akan diperbagus, dan roda perekonomian akan semakin dinamis. Kampung kami akan berubah menjadi kampung modern dan mirip seperti kota tempat para orang terpelajar berada. Malah pak kades berencana akan menjadikannya kampung wisata.

Namun, semua itu bakal terjadi jika ada dukungan dari warga, tanpa terkecuali Ibu dan ibu-ibu yang lain.

“Dukungan Yu Siti, sangat diperlukan. Demi masa depan yang lebih baik. Toh, nantinya Yu Siti dan anak Yu yang akan menikmati manisnya,” ujarnya, menutup laporan blusukan dan pandangannya tentang masa depan kampung kami. Ibu mengangguk-angguk, paham meski dengan penjelasan panjang lebar dan kata-kata yang asing di telinga.

.

.

Ibu menghela nafas panjang dan menghentikan ceritanya. Cucian harus dijemur.

“Tubuhnya saja membumi, pikirannya melangit. ” gerutu Ibu sembari meninggalkan sumur.

********

Tak ada yang lebih gelisah dibandingkan hari ini, hari hajatan dua sosok penting itu digelar. Sejak pagi hingga sore, saudara-saudaraku sibuk membangun praduga, kemana ibu pergi hari ini. Sedari pagi, ibu sudah tak ada di rumah. Ketika saudara-saudaraku bangun, mereka hanya mendapatiku dan Yos duduk di ruang tengah dengan makan pagi tersaji.

Ah, barangkali ibu sedang menerima undangan ngerewangi di rumah salah satu orang itu. Berbelanja kebutuhan di pasar pagi, memasak, menyiapkan segala tetek bengek besek. Betapa senangnya mereka membayangkan ibu akan pulang membawa besek. Hari ini mereka akan makan enak.

Malam menjelang, makin gelisah saudara-saudaraku. Orang-orang sudah pulang selametan, sudah menenteng beseknya masing-masing. Namun Ibu tak jua kelihatan batang hidungnya. Yos, mulai merengek, menanyakan keberadaan Ibu.

Ah, barangkali Ibu sedang membantu mencuci piring. Acara selametannya kan besar, sudah pasti banyak piring dan gelas kotor yang perlu dibersihkan.

Malam kian beranjak, dan Ibu tak jua muncul di halaman rumah. Kali ini Yos sudah menangis. Ketiga saudara gadisku, tertunduk lesu dan bersendu. Bayangan tentang besek, ambyar. Pikiran kami sudah sepenuhnya teralih pada ibu. Pada saat itulah, datang seseorang dan seseorang lagi mengantar besek.

Dua besek besar diserahkan pada kami. Seharusnya kami senang, tetapi untuk pertama kalinya, kami menangisi dan membenci besek yang diantarkan itu. Bukan karena isi besek tak sesuai harapan kami, tak ada nasi, lauk, dan jajanan pasar melainkan setumpuk uang berwarna merah. Bukan karena itu kami menangis.

Kami sudah tidak ingin besek, kami hanya ingin Ibu. Kami ingin Ibu pulang.

.

– Jakarta, 27/12/2017

Perempuan yang merasa merdeka melalui peran kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: