tradisi lisan madura
Cerita Embuk

Né’-Kéné’ Cabbhi Lété’: Mengenal Sastra Lisan Madura

Dalam khasanah sastra Madura, sastra lisan jauh lebih tua dibandingkan sastra tulis. Sastra yang berbentuk cerita lisan, dituturkan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi sebelum masyarakatnya mengenal baca-tulis. Sastra lisan disukai karena menjadi bentuk ekspresi diri, pesan moral, isi hati, cerita rakyat maupun ajaran agama. Beberapa di antaranya sastra lisan Madura: dhungéng, perébhâsan, bhâbhâsan, saloka, bhângsalan, paparéghân, sendhilan, dan syi’ir.

Né’-Kéné’ Cabbhi Lété’ merupakan bahasa kiasan pangalem. Dalam tradisi lisan Madura, pangalem merupakan pujian yang diungkapkan dengan mengiaskan keindahan pada bentuk anggota tubuh, sifat dan sikap manusia. Tuturan pangalem biasanya dilontarkan sebagai ungkapan kekaguman pada objek yang dilihat. Pangalem juga dikenal dengan istilah parébhâsan.

Pangalem Né’-kéné’ cabbhi lété’ dengan pemilihan diksi cabbhi lété’ (cabe rawit) dan kéné’ (kecil) untuk mengiaskan kemampuan seseorang yang unik, kuat dan punya nilai. Meskipun terkadang berbanding terbalik dengan bentuk tubuhnya yang kecil.

Selain pada pangalem, bahasa kiasan cabai juga digunakan dalam Saloka. Saloka adalah kata-kata sastra yang berisi petuah-petuah bijak, dan penuh makna. Saloka dituturkan dalam banyak acara ataupun melalui tulisan-tulisan sastra Madura. Para penuturnya meyakini, petuah-petuah bijak ini berisikan kebenaran karena banyak dibuktikan.

Contoh Saloka: Namen cabbhi molong cabbhi: jhubâ’na oréng gumantong dâri lakona dhibi’. (Menanam cabai menuai cabai; keburukan orang tergantung dari tingkah lakunya sendiri)

Kiasan Cabbhi Lété’ juga juga muncul dalam nyanyian pada permainan tradisional anak-anak. Biasanya permainan ini dimainkan oleh sekelompok anak. Anak-anak berdiri sejajar, saling bergandengan tangan sembari bernyanyi. ketika larik lagu hampir berakhir, saling mendahului duduk berjongkok. Dia yang tercepat duduk jongkok adalah pemenangnya.

Té’-kanté’ cabbhi lété’, Nemmo sello’ élang pole, Ketapa’ toju’ néngkong pole

Penulis: Ifaikah Kalidin
Ilustrator: Vika Nunabi

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!