Singkong Dalam Kekayaan Pangan Lokal Madura
Tadâ’ bherrâs jhâgung ètana’, tadâ’ jhâgung sabhrâng èkanase’ (Tidak ada beras jagung ditanak, tidak ada jagung singkong dijadikan nasi). Peribahasa ini menggambarkan betapa orang Madura sangat adaptif pada perubahan musim dengan ketersediaan pangan lokalnya. Saat musim hujan, beras menjadi makanan pokok karena sebagian besar sawah tadah hujan panen. Menjelang musim kemarau atau saat kemarau, orang Madura mengolah sawah menjadi ladang jagung atau kedelai. Singkong atau dalam bahasa Madura disebut pohong/sabhrâng, ditanam di antara ke dua musim karena toleran pada perubahan musim. Dengan demikian kebutuhan karbohidratnya selalu terpenuhi.
Misalnya, ketika stok beras menipis, orang Madura akan mencampur beras dengan jagung atau mengganti nasi beras dengan nasi jagung. Begitu pun dengan singkong yang sering dijadikan gaplek atau tiwul, sebagai alternatif makanan pokok. Sayangnya pangan lokal semacam nasi jagung dan nasi singkong tidak sepopuler nasi beras karena penyeragaman makanan pokok. Padahal semestinya setiap daerah berdaulat atas pangan lokalnya sendiri sehingga tidak selalu bergantung pada beras.
Baca Juga Kembhâng Toroy: Bunga Turi di Tanah Tegalan Madura
Selain dikenal sebagai makanan pokok pengganti beras dan jagung, singkong banyak diolah menjadi berbagai kudapan. Pada jajajan tradisional Madura, olahan singkong banyak rupanya. Mulai dari jemblem, lopis, cettèr, pespes, lanting, tapay, dan macam lainnya.





