warisan ibu
Cerita Ibu,  Ruang Perempuan

Warisan Ibu: Kecakapan Memasak & Seperangkat Alat Masak Tanpa Estetika Namun Syarat Makna

Kangen masakan Ibu. Celetukan ini mudah sekali terlontar ketika ada di perantauan atau sedang jauh dari rumah. Kenapa harus masakan ibu, bukan masakan bapak?

Di era berkeadilan gender, memasak merupakan keterampilan dasar bagi semua gender. Tidak lagi hanya dibebankan kepada perempuan. Namun, istilah mencari perempuan atau istri yang pintar masak masih sangat berlaku, wabil khusus jika kamu tinggal di desa. Orang yang tinggal di pedesaan, seperti di kampungku di Madura, masih meyakini betul bahwa urusan dapur mutlak sepenuhnya tanggung jawab perempuan yang kelak menjadi istri dan ibu. Bahkan keterampilan memasak tidak hanya bermanfaat untuk keluarga saja, tetapi untuk masyarakat luas. Tuntutan ini mengakar dan dipercayai secara turun temurun. Anak perempuan dilatih untuk cakap urusan dapur. Bahkan ia akan mewarisi hal yang mustahil diwariskan pada anak laki-laki: seperangkat alat masak dan alat makan.

Urusan dapur memang bukan hanya soal mengisi perut kosong atau bisa membedakan mana rempah jahe atau lengkuas. Lebih dari itu, ada harkat perempuan di dalamnya. Terlebih jika berkeluarga, tanggung jawab mengisi perut seluruh anggota keluarga beralih padanya. Khususnya jika sudah punya anak, masa depan anak tergantung sekali pada makanan apa yang dia sajikan. Ya, masa MPASI adalah awal anak mengenal dan belajar kebiasaan makan hingga dia dewasa nanti. Ibu setidaknya harus menyediakan lauk pauk yang bernutrisi untuk memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak.

Selain urusan domestik, kecakapan perempuan memasak juga diperlukan untuk urusan sosial. Pada acara keagamaan atau seremonial lainnya, perempuan punya peranan yang cukup besar dan menjadi penentu sukses atau tidaknya. Misalnya di suatu acara Seribu Hari atau peringatan kematian, perempuan adalah “otak”nya. Ia merancang dengan teliti menu apa yang disajikan, besek, hantaran, memperkirakan berapa jumlah tamu, anggaran belanja dan segala tetek bengeknya. Ia bertanggung jawab mulai dari pra hingga pasca acara. Ia mengepalai para perempuan juga lelaki yang terlibat dalam rewang. Kepatutan atau kelayakan sajian lekat sekali dengan nama baik si pemilik acara sekaligus nama baik keluarga.

Dalam tradisi rewang atau long nolongi di budaya Madura, ketika si pemilik hajat mengumumkan akan membuat acara, para perempuan akan datang untuk membantu. Saat para lelaki sibuk mendirikan terop atau menyembelih kambing, para perempuan sudah bersiap mengeluarkan seperangkat alat dapur dan alat makan khas acara seperti wajan, panci dan kompor dalam format jumbo. Mengelap ribuan piring, sendok dan gelas yang selama ini tersimpan rapi dalam lemari. Mencuci cetakan-cetakan kue jadul, mengasah pisau-pisau bergagang kayu. Semua siaga dalam posisinya masing-masing, tinggal menunggu arahan si kepala dapur atau perempuan yang dituakan dalam keluarga/masyarakat. Ada yang bertugas berbelanja, menanak nasi, mengolah lauk dan sayuran, membuat kue basah, hingga mengaduk dodol atau wajik yang dalam proses pembuatannya memakan waktu berjam-jam.

Ketika sajian telah matang, pekerjaan perempuan masih berlanjut. Piring-piring diisi lauk, aneka kue basah sebelum akhirnya ditata di atas nampan untuk kemudian dibagikan ke tetangga. Di Madura aktivitas itu dikenal sebagai ter ater atau mengantarkan makanan ke tetangga atau orang tertentu seperti kerabat dekat, sesepuh atau kiai. Itu sebelum acara dimulai. Para perempuan juga harus mengisi besek dengan makanan yang telah ditentukan oleh si kepala dapur. Ketika acara dimulai, perempuan akan lebih jauh sibuk lagi karena tamu yang datang jumlahnya tak pernah sedikit. Bahkan terkadang melampaui perkiraan. Di sinilah hebatnya kemampuan perempuan dalam memperkirakan jumlah tamu dengan ketersediaan sajian.

Apakah mereka dibayar? Tentu tidak, bantuan mereka biasanya dilandasi karena balas budi, kekerabatan dan kebiasaan gotong royong. Di desa, khususnya di tempatku, menggunakan jasa layanan katering justru tabu. Seolah mengecilkan kemampuan para perempuan dalam membuat sajian. Di momen long nolong perempuan lintas generasi akan berkumpul, bertukar informasi aka bergosip, biro jodoh anak dan kerap menjadi ajang silaturahmi.

Merayakan Suka dan Duka dengan Makanan

Perempuan meyakini, bahwa dalam keadaan suka maupun duka, akan selalu ada perayaan yang melibatkan makanan. Mereka yang berbahagia ataupun berduka harus mengisi perut agar punya energi untuk merayakan kebahagiaan atau kedukaannya. Pun orang-orang yang disekitarnya, tetangga hingga handai tolan yang dikenalnya. Makanan menjadi media antara yang hidup dan yang mati. Antara yang bersuka atau yang berduka. Bagi yang meninggal, tentu saja itu menjadi amal jariyah karena diniatkan sedekah oleh keluarganya. Bagi yang hidup, menjadi berkah karena bisa mendapatkan makanan mewah dari biasanya.

Sebab itu para ibu merasa punya kewajiban untuk mewajibkan anak perempuannya bisa memasak. Makanya jangan heran dan kaget jika mengintip isi dapur dan rumah para ibu di kampung-kampung Madura. Di dapur orang Madura kamu akan dengan mudah menemukan peralatan masak yang super lengkap. Dari ukuran paling kecil hingga paling besar, bisa muat satu orang dewasa jika meringkuk di dalamnya. Jumlah piring keramik, gelas, hingga sendok saja bisa dipastikan lebih dari seribu, lebih untuk memberikan makan untuk orang sekampung. Tidak percaya? Coba datang saja ketika ada acara tahlil atau mantenan. Urusan sedekah makanan, jangan main-main dengan orang Madura.

Saking pentingnya perabotan itu bagi perempuan, para ibu biasanya menulis nama anak perempuan yang mewarisinya di perabotan tersebut. Sebagai contoh ibuku yang mewarisi dari mbah, namanya tertera di semua panci, wajan, sutil, piring, gelas, sendok, dll. Tidak hanya sebagai bukti pewarisan dan hak miliknya tetapi memudahkan identifikasi saat dipinjam tetangga.

Peralatan masak dan makan itu tidaklah se estetik seperti pada demo masakan selebgram atau chef. Juga tidak cukup cantik untuk menghiasi dapur minimalis modern mu. Apalagi untuk dipamerkan di media sosialmu. Tetapi benda-benda tua dan usang itu menjadi saksi beragam perayaan duka dan suka manusia. Ia telah memberikan fungsinya dengan sebaik mungkin, memberi rasa kenyang juga syukur.

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!