Dapur ibuk selalu sibuk. Setiap pagi, siang dan menjelang malam, ada saja aktivitas di sana. Pada pagi yang masih dini, pada kokok ayam jantan terakhir, selepas beribadah, ibuk turun dari langghar, beringsut ke samping dapur, tepatnya di sumur. Di sanalah semuanya dimulai: ibuk mengisi dua dandang dengan air dan membawa keduanya dengan masing-masing tangannya ke atas tungku tanah liat.

Di depan tungku, ibuk mengeluarkan sisa abu pembakaran, lalu menyusun kayu bakar di mulut tungku. Kemudian Ibuk menyiram sedikit minyak tanah, menyulut korek api hingga nyalanya menjilati minyak tanah dan perlahan mulai membakar kayu. Belum sempurna mencipta nyala, api padam menyisakan bara kecil. Ibuk meniupi bara kecil itu, berkali-kali hingga memercik nyala api. Api kembali membakar kayu dan kali ini lebih besar. Ia tinggalkan sejenak tungku dan dandangnya.

Langkahnya beralih pada lumbung padi, yang berada di sebelah kiri dapur. Diambilnya tampah yang menggantung di dinding. Ibuk menakar, lima tangkup tangan beras ke dalamnya. Lalu terampil tangannya mengayun tampah, memilah beras dan sekam. Terdengar iramanya yang khas, ketika beras terayun, terpisah dari tampah dan terbang sejenak sebelum akhirnya kembali pada dasar tampah. Berulang, hingga sekam terpisah dari beras. Sesekali tangannya membuang beberapa bulir gabah. Begitu beras bersih dan dipindah ke bakul, ibuk membawanya ke sumur dan mengguyurnya dengan setengah timba air.

Kata ibuk, mencuci beras adalah bagian paling penting dari serangkaian proses menanak nasi. Terlalu lama membiarkan beras bersetuhan dengan air dapat merusak kandungan gizinya. Hanya menyisakan ampasnya. Maka sebaiknya tiga kali dicuci, dengan tidak terlalu kuat saat mengaduknya. Selesai dicuci, beras segera dimasukkan ke dalam dandang yang sudah dididihkan dan dilengkapi angsang.

Di antara sela menunggu beras mengeras, Ibuk duduk takdim di depan tungku. Menjaga nyala api hingga beras selesai diaroni dan tanak. Saat itulah, Ibuk biasanya bersenandung atau mengajakku berbincang tentang banyak hal. Tentang sawah garapannya, kebun sayur di belakang kandang sapi kakek, ayam-ayamnya yang mulai bertelur atau apapun yang ingin Ibuk bagikan ceritanya.

Ingatanku merekam dengan baik perbicangan kami kala itu.

“Bagi perut kita, nasi adalah makanan pokok. Makanan lain itu hanya pelengkap. Oleh karenanya, proses menanak nasi harus diperhatikan betul. Mulai dari memilih bahan bakarnya, apinya, dandang, beras, tampah, air, hingga proses mengaroninya. Semua harus tepat, tak ada yang boleh terlewat,” katanya.

“Proses yang panjang itu, memiliki dua hal penentu: air dan api. Kamu harus tahu bagaimana menggunakan api dan air mu. Untuk menciptakan nyala api yang ajek, pilih kayu bakar yang tidak cepat meranggas dan memanas, tidak pula mudah padam.”

“Sedang air pun kamu harus tahu takarannya. Sejak kamu mencuci berasnya, berapa liter yang dibutuhkan untuk dandang dan mengaroninya. Semua harus pas, nak.”

“Buk, sekarang sudah ada teknologi yang memudahkan menanak nasi, kenapa ibu lebih menyukai cara menanak seperti ini?”

“Waktu Ibuk sudah tertakar, nak. Teknologi itu akan meluangkan banyak waktu itu. Ibuk menyukai cara-cara alam bekerja dengan sederhana. Dari itulah Ibuk belajar, bahwa segala sesuatu itu membutuhkan proses, bahwa sesuatu itu merupakan serentetan, saling berkelindan, tidak terpisah. Teknologi itu hanya memangkas waktunya saja, tidak membuang prosesnya.”

“Kamu tahu kenapa mbahmu suka sekali mengolah nasi hampir basi menjadi nasi aking? Baginya, nasi tak boleh dibuang, takdirnya berakhir di perut manusia. Menjadi makanan, bukan buangan.”

“Mbah mu menghargai proses, bagaimana gabah yang ia rendam untuk ditanam jadi padi, dipanen menjadi beras, ditanak menjadi nasi, dikunyah menjadi energi, itulah yang penting. Makanya ia tak pernah mengenal beras bagus, jelek. Sama saja. Pun nasi.”

“Pernahkah kamu mendengar ungkapan para leluhur, “butir nasi terakhir adalah berkah surga”, atau habiskan nasi mu jika tidak ayam-ayammu akan mati”, itu adalah bentuk penghargaan pada nasi, pada prosesnya yang panjang.”

“Nak, ketika kamu mengikuti proses, kamu akan menghargai sebuah hasil, apapun hasilnya.” pungkas Ibuk.


Pada pagi yang berbeda. Berpuluh pagi setelah perbincangan terakhir kami di depan tungku. Aku menemui ibu di dapur. Dapur selalu menjadi tempat yang tepat bagi kami untuk berbincang. Bahkan bisa kubilang, perbincangan penting kami selalu dimulai di dapur.

Aku duduk di samping Ibuk, menyamakan letak raga sebelum menyelami alam pikirannya. Kami diam, menikmati hangat yang menguar dari mulut tungku, dan gemeretak kayu dibakar api.

Inilah ritual sederhana sebelum memulai perbincangan.

“Buk, bagaimana seharusnya mencintai itu?” tanyaku pelan. Ibuk menoleh, membiarkan matanya berbinar lepas menatap wajahku. Ada bahagia yang ku tangkap dari garis wajahnya yang semakin menua.

“Maka kamu harus bisa menanak nasi,” sahut ibu, mulai bermain kata.

“Tapi aku tidak bisa menanak, bu. Ah, lebih tepatnya, aku tidak bisa menanak nasi dengan baik dan benar seperti Ibuk.”

“Maka kamu harus bersiap untuk lapar,”

“Bagaimana jika nasi yang kuhidangkan tidak disukai? Bagaimana jika beras yang ku tanak jelek dan menjadi nasi yang tak layak dimakan? Justru membuatnya dimuntahkan sebelum tertelan oleh kerongkongan,” tanyaku, resahku. Aku menyadari betul ketidakmampuanku membuat sesuatu menjadi lebih baik. Aku semacam tulah atau kutuk dengan adanya diriku.

“Kamu lupa, tidak ada beras atau nasi yang jelek, nak. Sama. Kamu hanya perlu tahu bagaimana caranya membuat bulir beras menjadi butir nasi, ditanak dengan baik dan benar. Agar perutmu terisi, tidak lapar lagi.”

“Nak, yang tidak menerima nasimu adalah mereka yang tidak lapar atau mereka yang bersiap untuk lapar. Mereka yang tidak lapar, akan banyak alasan untuk menolak. Lalu untuk apa kamu memaksakan orang yang tidak bisa menerimamu?”

“Kamu harus bersiap untuk dia yang menunggumu di meja makan dengan piring kosongnya, menunggumu mencidukkan nasi untuknya dan makan tanpa banyak pertimbangan. Sebab dia paham bagaimana segala sesuatu berproses.”

Ibuk memeluk pundakku dan menciumnya. Aku balas merangkulnya dan tergugu dalam pelukannya.

“Dia menghargaimu dan mencintaimu.” bisik Ibuk penuh keyakinan.

Bagikan ini:

Menyukai ini:

Suka Memuat...
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: