Mengulas Buku Lawas Kunang-kunang Mentjari Pengalaman
Kembali membaca buku lawas terbitan tahun 1962 dengan ejaan lama berjudul Kunang-kunang Mentjari Pengalaman. Buku ini ditulis oleh K. Soerjosoesanto, ilustrasi pada cover oleh Ipe Ma’aruf. Buku lawas ini diterbitkan oleh P. N Balai Pustaka, salah satu penerbitan tertua di Indonesia yang banyak menerbitkan buku anak dan novel sejak 1917.
Buku lawas Kunang-kunang Mentjari Pengalaman merupakan buku dongeng tentang seekor kunang-kunang yang bertualang bersama angin. Dari satu tempat ke tempat lain. Bertemu aneka hewan, kisah mitos dan legenda. Ada fabel kera dan buaya, asal usul bunyi toke’, kesaktian burung hantu, dan dendam seekor nyamuk. Ada kisah legenda Nini Towong, prajurit Njai Rara Kidul, Nenek Buto Idjo dan Dewi Anjani.



Kisah mitos yang paling menarik adalah legenda terbentuknya gunung. Dikisahkan, “Pulau Djawa berat sebelah. Sebelah barat masuk ke dalam samudra & sebelah timur mendjulang menjundul langit. Para dewa pun bermupakat untuk memindahkan gunung dengan memikulnja. Sepandjang djalan, tertjitjir gumpalan-gumpalan menjadi gunung Gede, Tangkubanprau, Slamet, Sindara, Sumbing.”
Buku cerita ini menggunakan ejaan lama. Kosa kata lama yang jarang digunakan lagi juga ada di beberapa halaman. Aku perlu melihat KBBI untuk tahu apa artinya. Misalnya, kata rahu (raksasa), gamparan (bakiak), subang (hiasan cuping telinga), dan beberapa kata lainnya yang masih asing didengar. Tetapi inilah yang membuatku suka dan gemar berburu buku lawas. Belajar kosa kata lama dan jarang digunakan lagi.
Bukunya tipis hanya 55 halaman. Memuat 20 kisah petualangan si kunang-kunang. Satu bab cerita hanya sekitar dua-tiga halaman. Beberapa kisah juga dilengkapi dengan ilustrasi ikonik, khas buku cerita jadul. Halamannya sudah menguning dan terlepas dari jilidan kawat yang mengarat. Aku beli di toko buku bekas Sajiwi Books di Surabaya.


