raden sagara
Buku Anak,  Rak Buku

Madu Untuk Raden Sagara: Mengenal Asal Usul Pulau Madura dan Besar Kasih Ibu

Terlahir mewarisi darah Madura dan tumbuh di tanah leluhurnya, aku mulai mengumpulkan berbagai buku-buku yang berkaitan dengan Pulau Madura. Mulai dari buku sejarah, sastra baik berupa kumpulan puisi ataupun novel, hingga buku anak. Selain memang karena suka membaca dan mengoleksi buku, tentu aku berharap anakku lebih banyak tahu tentang darah Maduranya. Bahwa Suku Madura, sama halnya dengan suku lain yang memiliki keragaman tradisi, budaya, dialek, kesusastraan, serta kearifan lokalnya. Khusus untuk buku anak, sejauh ini baru dua buku bertema Madura yang aku temukan. Satu di antaranya Madu Untuk Raden Sagara.

Adaptasi Cerita Rakyat

Di sebuah pulau tak bernama, tinggallah seorang anak, Raden Sagara dan ibunya Raden Ayu Tunjungsekar. Suatu hari, Raden Sagara sakit sehingga ia kehilangan nafsu makan. Tentu saja Raden Ayu gelisah karena jika tidak makan, bagaimana sang anak bisa lekas sembuh? Raden Ayu pun bergegas mencari madu sebagai obat sebelum Raden Sagara bertambah lesu dan parah sakitnya. Raden Ayu segera mempersiapkan bekal untuk mencari madu di hutan bersama sang anak. Perjalanan ke duanya pun di mulai, menjelajahi hutan demi mencari sarang lebah dan madu.

Buku Madu untuk Raden Sagara diadaptasi dari cerita rakyat populer Asal Usul Nama Madura atau Pulau Madura. Kisah ibu dan anak ini dihidupkan kembali dalam versi pembaca anak sehingga alur cerita lebih singkat. Dalam buku Cerita Rakyat dari Madura karya Zawawi Imron, dikisahkan lebih panjang dimulai dari keberadaan Raden Ayu Tunjungsekar sebagai putri dari kerajaan Medangkamulan. Versi buku anak direkonstruksi ulang dari versi aslinya namun masih dengan premis yang sama. Ibu dan Anak yang menemukan madu di tanah baru. Dari tempat inilah kemudian diberi nama Madura yang berasal dari kata maddu è ra-ra, artinya, madu di tanah dataran.

Baca Juga Review Buku Kancel Bhiru ban Sakaddhu’ Terrong – Lingkarantarnusa

Besar Kasih Ibu

Kisah Raden Sagara dan Ibunya dinarasikan ulang dengan sangat baik oleh penulisnya, Flora Maharani. Pembaca anak dibawa ke momen di mana seorang anak sedang sakit dan sang ibu yang khawatir. Kekhawatiran yang membuat ibu berupaya apapun agar sang anak bisa sembuh. Dibuatkan aneka makanan, dipeluk, digendong hingga mencari madu ke tempat yang jauh sekalipun. Tak peduli lelah, kakinya tak henti berjalan menyusuri hutan. Semuanya dilakukan demi kesembuhan anaknya. Dari kisah Raden Sagara dan Ibunya, anak dapat belajar tentang hubungan ke duanya. Bahkan anak bisa tahu hubungan timbal balik antara manusia dengan alam. Ketika Ibu Sagara memberikan air gula jawa kepada para lebah, ia pun diimbali dengan sarang madu yang melimpah. Bahwa setiap kebaikan, akan berbalas hal yang baik juga.

raden sagara

Ilustrasi yang dibuat oleh Vania Rizky cantik sekali. Sosok Raden Ayu Tunjungsekar, sebagaimana dikisahkan cantik rupawan, sangat pas sekali. Mengenakan kebaya rancongan dan sarung batik, rambutnya yang hitam legam disanggul dan disematkan cucuk sisir (hiasan di kepala). Tak lupa gelang kaki (pènggel) dan kalung brondong. Sementara Raden Sagara ditampilkan dengan baju pesa’an atau kaos belang merah putih dan celana gombrong hitam serta odheng di kepalanya. Bahkan gendongannya khas sekali karena menggunakan gendongan batik madura.

Semoga dari buku anak bertema cerita rakyat semacam ini menumbuhkan rasa cinta pada suku dan keragaman budayanya. Sebab nantinya merekalah yang akan melestarikannya.

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!