Kancel Bhiru
Buku Anak,  Rak Buku

Review Buku Kancel Bhiru ban Sakaddhu’ Terrong – Lingkarantarnusa

Cerita fabel adalah cerita yang menggambarkan watak dan budi manusia lewat tokoh hewan. Cerita fabel dalam sastra Madura bukanlah hal baru. Baik dalam sastra tulis (buku) maupun sastra lisan. Salah satu sastra tulisan yang pernah saya baca berjudul Kandhana Bhoeroen Alas atau Cerita Hewan Hutan. Isinya sekumpulan cerita fabel dengan menggunakan ejaan bahasa Madura lama yang terbit pada tahun 1912. Kancil menjadi salah satu tokoh dalam cerita tersebut, sebagaimana ia menjadi tokoh dan populer dalam cerita rakyat di berbagai kebudayaan Indonesia.

Ketika pertama kali bertemu dengan Buku Kancel Bhiru ban Sakaddhu’ Terrong yang diterbitkan Lingkarantarnusa, ingatanku langsung terkenang sastra Madura. Kancil, sang primadona cerita fabel kembali hadir dengan versi yang berbeda. Apalagi diterbitkan dalam ejaan bahasa ibu, tanpa pikir panjang lagi aku langsung beli.

Buku Kancel Bhiru ban Sakaddhu’ Terrong bercerita tentang seekor kancil biru (hijau dalam bahasa Madura disebut biru) yang membantu pak tani memanen terong. Berkat bantuannya, pak tani mengupahinya sekarung terong. Kancil membawa terong pemberian pak tani ke rumahnya. Saat di perjalanan pulang, bertemulah kancil biru dengan dua kancil ungu yang sedang mencari terong. Kancil biru tidak mau berbagi terong miliknya, ia menyembunyikannya dan bergegas pulang. Di rumah Ia segera menyantap terong-terong itu hingga Ia merasa bosan. Lalu ia terpikir untuk membagi sisa terong kepada dua kakak beradik yang Ia temui tadi.

Baca Juga Madu Untuk Raden Sagara: Mengenal Asal Usul Pulau Madura dan Besar Kasih Ibu

Cerita kancil versi buku ini memang berbeda dengan cerita kancil nakal yang suka mencuri mentimun. Kancel Bhiru dikarakterkan sebagai sosok yang mau berusaha dan bekerja keras namun memiliki sifat pelit dalam dirinya. Untuk mendapatkan makanan, Kancel Bhiru harus membantu pak tani memanen terong bukan mencuri mentimun. Sayangnya sifat pelit Kancel Bhiru membuatnya enggan berbagi, meski pada akhirnya Ia merelakan terongnya. Ceritanya sederhana, mudah dimengerti anak-anak. Namun ada yang mengganjal karena si Kancel mau berbagi ketika ia sudah bosan dengan terong-terongnya. Tetapi kalau dipikir kembali, itu hal yang naluriah. Terkadang merasa cukup membuat kita harus membagikan apa yang kita miliki kepada orang lain.

Mengangkat ulang cerita fabel kancil merupakan gagasan yang sangat baik. Penulis tahu betul bahwa tokoh kancil adalah tokoh sepanjang masa yang tidak akan habis untuk diceritakan kecerdikan hingga sifat pelit yang menjadi ciri khasnya. Sang kancil dalam versi buku ini bisa menjadi media nostalgia orang tua dengan versi kancil yang lama. Ini juga menarik karena orang tua bisa mengeksplorasi cerita kancil versi lama dengan versi baru untuk anak. Hal lain yang menjadi menarik dari buku ini adalah komposisi ilustrasi dan teks yang sesuai porsi. Ilustrasinya pun cantik, pilihan warna kontras, ungu & hijau tosca bikin anak fokus pada cerita dan tokohnya. Elemen lain seperti pohon atau suasana hutan cukup mewakili habitat si kancil.

Keragaman Dialek dan Aksen Bahasa Madura

Aku orang Madura asli, tetapi itu tidak menjamin aku sepenuhnya paham bahasa Madura. Kok bisa? Suku Madura itu memiliki keragaman dialek dan aksen di setiap wilayah kabupatennya. Aku yang tinggal di Kabupaten Bangkalan, kadang merasa asing dengan beberapa kosa kata di kabupaten Sampang, Pamekasan atau Sumenep. Bahasa Madura versi Bangkalan biasanya dialek dan aksennya lebih kasar. Ada si bahasa halus tetapi hanya digunakan dalam momen atau pada orang tertentu.

Di buku ini, meski dituturkan dalam bahasa Madura, ada juga kosa kata yang ga aku tahu. Aku perlu lihat terjemahan untuk memahami artinya. Misal, tha’ dhumadhiyan yang artinya benar saja. Atau penggunaan kata bha’na (kamu), bengkona (rumah), di Bangkalan lebih familiar menggunakan kata hedeh/kakeh (kamu), roma (rumah). Itu baru Madura Negeri (asli, maksudnya lahir dan besar di Madura), beda lagi nih bahasanya versi Madura Swasta (madura campuran, biasanya daerah tapal kuda).

Berdekatan dengan Hari Bahasa Ibu Internasional, aku mengapresiasi setinggi-tingginya kepada penerbit Lingkarantarnusa yang berkomitmen menyediakan bacaan anak bermutu dan berbahasa ibu. Melalui buku ini, aku dan anakku dapat belajar beragam dialek bahasa Madura. Bahkan, ayahnya yang Madura Swasta pun turut beradaptasi dengan perbedaan dialek. Bahasa Ibu masih menjadi bahasa utama kami dalam sehari-hari. Bahasa Ibu menjadi identitas kami sebagai suku Madura.

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!