pekan buku
Carèta Embuk

Pekan Buku Sruntul: Ketika Sastra Hadir Lebih Dari Sekadar Kata-kata

Hal yang paling menyenangkan dari membaca buku adalah buku itu dibicarakan di ruang-ruang diskusi. Bisa mendengar ragam perspektif, dari pembaca, penulis, akademisi, hingga penjual buku itu sendiri. Alhamdulillah, berkesempatan datang ke Pekan Buku yang diinisiasi oleh Sruntulisme, sebuah komunitas yang menghadirkan ruang kolaboratif yang berfokus pada distribusi pengetahuan sastra dan budaya.

Pekan Buku Sruntul menggelar festival mini untuk keempat kalinya selama tiga hari pada 12-14 September 2025 di Studio Damai, Surabaya. Pekan buku menyajikan bursa buku murah yang didukung oleh pelapak lokal, diskusi isu sastra, pemutaran film pendek, pertunjukan sastra, dan lokakarya penulisan puisi. Aku datang di hari pertama karena tertarik dengan dua sesi diskusinya, Mendekatkan Kata ke Halaman Warga dan Menilik Ulang Narasi Lokal Dalam Sastra.

Sesi diskusi pertama membahas tentang eksistensi bahasa Indonesia dan upaya mendekatkan sastra ke warga. Sesi ini dibawakan oleh Guruh Ramdhani (Pemerhati Pendidikan Bahasa Indonesia) dengan pemateri Muhammad Jibril (Pembaca Sastra), dan Liana Dian Prastiwi (Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra). Muhammad Jibril menyoroti pentingnya peran komunitas sastra, pegiat sastra, dan pelapak buku dalam distribusi bahasa dan sastra. Ketika ruang pendidikan gagal mendistribusikan sastra, maka komunitas menjadi alternatif dengan tawaran yang lebih efektif. Liana Dian mengingatkan peran lingkungan terhadap masa depan literasi dan keberlanjutan bahasa Indonesia.

Sesi kedua membahas tentang makna lokalitas dalam sastra Indonesia. Sesi ini dimoderatori oleh Alya Putri (Mahasiswa Sastra/Komunitas Rabo Sore) dengan dua pembicara utama: Prof. Bramantio (Kritikus Sastra) dan Yusril Ihza (Penulis dan Sutradara). Prof. Bramantio mengatakan, lokalitas dipahami sebagai sesuatu yang tradisional, padahal tidak selalu berada di ruang kelampauan, ruang tradisi. Lokalitas melampaui apa yang kita pahami tentang lokalitas itu sendiri.

Sementara itu, penulis dan sutradara, Yusril Ihza menambahkan perspektifnya bahwa suatu hal yang lokal adalah hal yang dekat dengan masyarakatnya sehingga tidak menjadikan karya sastra itu selesai melainkan terus dibicarakan, bahkan di wilayah urban. Ia mencontohkannnya melalui kisah keris melati ronce dari dimensi saat ini dan sejarahnya.

Sebelum menyudahi kunjungan, aku membeli beberapa buku dari pelapak buku. Satu di antaranya buku dari penerbit indie Pelangi Sastra berjudul Pemilin Kematian karya Dwi Ratih Ramadhany, buku kumpulan puisi Cynta Hariadi, dan kumpulan cerpen Ahmad Tohari. Ah, aku juga mendapatkan buku gratis dari Penerbit Meja Tamu, buku terjemahan bahasa Madura dari karya populer Pangeran Kecil.

Sebagai pembaca sastra awam, bukan berlatar pendidikan sastra, festival buku semacam ini memberikan ruang yang lebih luas untuk memahami sastra. Sastra lebih dari sekadar tumpukan kata. Ia bekerja di ruang masa lalu, kini, dan nanti serta membangun kesadaran manusia.

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!