mastitis
Ruang Perempuan

Pengalaman Dua Kali Mastitis Saat Menyusui Hingga Sembuh

Masa menyusui atau mengASIhi adalah momen sakral bagiku (mungkin juga buat semua ibu). Entah bagaimana menjelaskannya, menyusui seperti membangun komunikasi antara aku dan anakku. Kami terikat, berbicara di setiap tatapan mata dan sesapan bibir mungilnya. Atau usapan lembut tangannya. Menyusui adalah me time versi kami. Lalu pada suatu waktu sempat terusik oleh Mastitis.

Mengutip dari Alodokter, mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara. Kondisi ini kerap dialami oleh ibu menyusui sehingga mengganggu proses pemberian ASI kepada bayi. Kala itu anakku baru berusia dua bulan. Gejala awal yang aku rasakan adalah seperti ada ganjelan di payudara. Saat diraba mirip benjolan dan agak nyeri saat disentuh ataupun saat dia nen. Beberapa jam kemudian, barulah nyerinya semakin intens. Menyusul demam ringan. Pada bulan ke sembilan, aku kembali kena mastitis dengan gejala yang berbeda. Kali ini muncul benjolan kecil berwarna hitam di puting bagian luar. Saat sesi pumping awalnya keluar gumpalan kecil darah merah namun tidak merubah warna ASI. Setelah sesi pumping baru terasa nyeri. Tak lama kemudian, warna ASI berubah menjadi pink.

Mengidentifikasi Gejala dan Cara Menyembuhkannya

Pada kasus pertama, aku coba mencari beberapa informasi mengenai mastitis dan membaca beberapa pengalaman ibu menyusui yang pernah mengalami hal serupa. Ada kemiripan gejala. Saat itu aku gak langsung memutuskan untuk konsultasi ke dokter, aku coba mengatasi sendiri dengan dikompres hangat di bagian yang terasa benjol dan nyeri. Bahkan suamiku turut membantu melakukan pijat oksitosin. Aku juga menyusui langsung di payudara yang bengkak agar sumbatannya perlahan terbuka. Memang sih, sakit banget tiap kali disesap bayi. Tetapi aku menganggapnya sebagai salah satu upaya agar sembuh. Jadi rasa sakit itu pun aku nikmati.

Alhamdulillah, upaya ini ternyata menyembuhkan. Benjolan dan nyerinya perlahan hilang hingga akhirnya sembuh dengan sendirinya. Tanpa minum obat tapi konsisten dikompres dan disusui langsung ke bayi. Perlu dicatat ya, treatment ini mungkin bekerja padaku, belum tentu bekerja di ibu menyusui yang lain. Karena respon tubuh setiap orang itu berbeda. Oleh karenanya penting mengidentifikasi gejalanya lebih dulu sebelum melakukan tindakan.

ASI berubah pink saat mastitis

Seperti yang terjadi di kasusku yang ke dua. Pada saat anakku berusia sembilan bulan, aku kembali kena mastitis dengan gejala yang berbeda. Benjolan yang muncul di luar permukaan payudara yang membuatnya berbeda cara penyembuhannya. Kompres air hangat tidak lagi efektif. Apalagi warna ASI berubah menjadi pink, aku memutuskan untuk dipumping saja karena takut anakku minum ASI yang bercampur darah. Akhirnya aku pun konsultasi dengan dokter kandungan (akan lebih baik jika ada konsultan laktasi).

Dokter menyarankan aku untuk terus mengosongkan payudara dengan dipumping. Bayi hanya disusui langsung di payudara yang tidak sakit. Aku juga diresepkan obat anti nyeri dan antibiotik selama beberapa hari. Sembari dievaluasi hasil pumpingnya, apakah masih berubah warna atau kembali normal. Jika kembali normal, disusui langsung. Aku lakukan semua saran dokter. Setelah beberapa hari, warna ASI normal, aku menyusui langsung. Benjolannya pun perlahan mengecil sampai akhirnya diberikan kesembuhan.

Itu dia pengalaman menyusuiku, yang belum satu tahun sudah dua kali kena mastitis. Gejala dan penanganan bisa saja berbeda, jangan ragu untuk konsultasi dengan konsultan laktasi, bidan atau dokter.

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!