buku rabbit hole
Buku Anak,  Rak Buku

Review Buku Rabbit Hole Menurut Seorang Ibuk Bayi

Pertama kali berkenalan dengan buku/boardbook Rabbit Hole tentu dari media sosial. Sebelum membeli bukunya, aku lebih dulu suka dengan konten edukasinya yang membahas tidak hanya tentang tumbuh kembang anak, tetapi relasi dengan pasangan dan pengasuhan anak yang melibatkan ke duanya. Sang penulis memahami sekali problema seputar dunia anak: bahwa dunia anak tidak melulu tentang anak saja, tetapi orang tua dan lingkungan sekitarnya. Jadi apa yang dibagikan terasa sangat dekat dengan yang kita hadapi setiap harinya. Konten Rabbit Hole menjadi pengingat dan penyemangat agar orang tua juga ikut tumbuh bersama anaknya.

Ketika bayiku lahir, hadiah pertama yang aku berikan pada dia adalah buku. Ya, aku membelikan dia buku high contrast atau kontras yang tinggi. Buku high contrast dianggap bisa menstimulus beragam indera serta meningkatkan perkembangan syaraf optik bayi. Buku high contrast Rabbit Hole adalah salah satu yang aku beli. Berlanjut pada buku-buku lain yang ternyata bikin bayi maupun Ibuknya ketagihan untuk mengoleksinya.

Review ini mewakili anak bayiku yang baru berusia 10 bulan, yang baru bisa bicara sepatah dua kata, tetapi sudah pandai mengekspresikan emosinya. Jadi cukup subjektif, ya.

High Contrast Book

Sebagai buku pertama yang dikenalkan pada anakku ketika usia dua bulan, dua judul yang aku beli, Sayang dan Aku langsung menarik perhatiannya. Buku ini didesain menyesuaikan kemampuan melihat bayi pada usia 0-6 yang sangat terbatas. Ukuran buku cukup mungil, berwarna hitam dan putih, hanya sedikit kalimat/teks di dalamnya. Tetapi itu justru membuatku bisa mengembangkan cerita ketika membacakannya.

Buku-buku mungil ini menjadi teman saat tummy time dan belajar berguling. Dari yang awalnya tanpa ekspresi hingga bisa merespon dengan senyuman atau sentuhan tangan pada lembar buku.

Baca Juga Review Buku Willa dan Rempah Kesayangan Ibu – Little Quokka

Halaman Interaktif

Buku berikutnya yang aku hadiahkan adalah Cilukba dan Suara Apa Itu. Buku Cilukba sebenarnya direkomendasikan mulai usia 6 bulan, tetapi sebelum usia 6 bulan sudah lebih dulu aku kenalin. Sejak buku pertamanya, anakku selalu antusias ketika aku sodorin buku, jadi tidak cukup sulit ketika ada buku baru. Buku Cilukba memberikan pengalaman membaca semakin banyak karena seiring bertambahnya usia, kemampuan indera penglihatan dan perabanya juga meningkat. Apalagi Buku Cilukba dilengkapi halaman buka-tutup, jadi anakku bisa mendapatkan pengalaman untuk membuka dan menutup buku dengan tangannya.

Begitu pun dengan buku Suara Apa Itu, halamannya cukup unik. Ketika anakku sudah semakin pintar membuka halaman buku dengan sendirinya, Ia diberikan kejutan dengan halaman berikutnya yang seperti tersembunyi. Semacam konsep ada dan tidak ada.

Baca Juga Review Buku Anak: Pak Tani dan Baling-baling Pengusir Burung – Literaloka

Membangun Hubungan Anak, Ibu dan Ayah

Sejak mengenalkan buku-buku Rabbit Hole, aku dan suami selalu meluangkan waktu untuk membacakan buku bersama. Di jam mainnya dalam sehari, aku selalu menyisipkan waktu untuk membaca buku. Entah di waktu siang ataupun malam, menjelang jam tidur.

Teks dalam buku memang sedikit, namun itu justru membuat aku semakin mudah menambahkan cerita versiku atau versi Ayahnya. Tampak sederhana, tetapi itu membuat kita terlibat dengan apa yang akan didengar dan dipelajari oleh anak. Seperti dalam buku Aku, dia bisa belajar tentang anggota tubuh dan kerjasama ayah-ibunya saat mengasuh dia. Pada buku Papa pun demikian, anak diberi pengertian tentang peran papa, kerjasamanya dengan mama ketika dia bekerja dan waktu yang dia habiskan bersama ketika libur.

Membaca buku-buku Rabbit Hole tidak hanya bayi/anak yang belajar, tetapi orang tua pun sama. Belajar dan turut tumbuh menjadi anak dan orang tua.

Seorang Perempuan, Istri dan Ibu Purnawaktu

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!