“Mintalah meski Tuhan tahu apa yang kamu inginkan,”

Kalimat itu masih ku kenang dengan sempurna: siapa yang mengatakannya, di momen apa dia mengatakannya, dan apa makna kalimat yang dia ucapkan padaku. Kala itu, aku hanya terdiam, mengamini ucapannya. Namun setelah itu, aku sungguh berpikir panjang. Ya, kalimat sesederhana itu, dengan tafsiran yang teramat sederhana itu, ternyata memuai di pikiranku. Apalagi jika ku kenang saat ini, rasanya aku ingin kembali ke masa dia mengucapkan hal itu dan aku akan menyahutinya, “Ya, seharusnya aku memintanya dari dulu.” Ketika Tuhan memberikan apa yang aku dan dia inginkan, dia kembali pada Pemilik-Nya.

Aku kehilangan dia, sebelum sempat ku kenalkan, ah, ku katakan saja belum sempat, bahwa aku sudah bertemu dengan seseorang yang aku cintai setelah dirinya. Belum sempat ku bisikkan untuk terakhir kalinya, jika doanya, doaku mungkin telah dikabulkan oleh Tuhan. Persis seperti yang dia katakan.

Semua berawal ketika Ramadhan. Saat itu aku belum berkesempatan untuk pulang. Kesibukan di tempat kerja yang baru adalah salah satu alasannya. Padahal Ramadhan & Lebaran adalah momen yang tak pernah dilewatkan tanpa bersama keluarga. Tapi tahun ini merupakan tahun yang cukup berat bagiku, ada banyak hal yang ku alami, menyita semua pikiran. Aku butuh tempat rantau ini untuk bertahan dari semua kondisi itu.

Lalu, sebuah pesan singkat masuk. Sebuah basa-basi perkenalan, obrolan receh, bahas buku kesukaan masing-masing, bercerita isi kepala masing-masing, meresahkan sesuatu yang seharusnya tak diresahkan. Aku banyak bertanya, dia sabar menjawab, menjelaskan hal-hal yang kerap selalu aku lihat dari sisiku sendiri.

Menyenangkan rasanya bertemu seseorang yang mau menerima isi kepalamu yang kusut dan dia bersedia mengurainya bersama hingga akhirnya menemukan pemahaman baru. Menyenangkan bertemu seseorang yang mau menerima semua pertanyaaanmu tentang hidup dan dia bersedia memberikan jawaban yang selayaknya bukan yang ingin kamu dengar. Menyenangkan bertemu seseorang yang selalu melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang, menyenangkan.

Walau terkadang sebal sebab aku tidak bisa menimpali argumentasinya, pikiranku pada akhirnya menemui ujungnya dan aku harus menyerah dengan tidak berkata apa-apa selain diam. Ya, dia selalu menang. Dan aku suka sekaligus sebal.


Sejak kehadirannya, apa yang selama ini aku putuskan, tiba-tiba aku ragukan sendiri. Dengan segala kerumitan hidupku sebagai anak, cucu, & perempuan, mendadak aku ingin mengingkari apa yang telah kuikrarkan demi menebus sebuah kesalahan di masa lalu. Mendadak aku ingin sepenuhnya lupa pada luka & mengukir cerita baru bersamanya. Mendadak aku ingin sepenuhnya pulang, berhenti dari pelarian panjang ini.

Dan dia memberiku kesempatan itu. Dia katakan menerimaku, ia akan menjadi rumah tempatku pulang. Senangkah aku? Bimbang, pantaskah aku menerima kesempatan yang dia berikan dengan segala kerumitanku.

Ketakutan adalah diriku yang lain. Aku takut mencoba karena aku takut gagal. Sebab pada titik itu, cara terbaikku untuk bertahan adalah menjadi lebih terluka. Tetapi sampai kapan aku menjadi pengecut? Menyembunyikan semua luka dan keputusasaan dalam cerita-cerita. Sampai kapan aku terus berkilah dari pertanyaan khawatir ibu, sindiran halus nenek sampai cibiran orang-orang di sekitarku? Ah, lebih tepatnya sampai kapan aku bisa sembuh dari luka yang ku buat sendiri?


Penghujung Oktober

Aku menemuinya, menemui keberanian & keyakinan bahwa aku mencintainya tidak karena kondisiku yang membutuhkannya. Aku mencintai isi kepalanya. Aku mencintainya karena dia mau mendengar isi kepalaku yang aneh.

Bagikan ini:

Menyukai ini:

Suka Memuat...
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: