Ruang Kata & Rasa

Pledoi Seorang Lelaki yang Meninggalkan Kekasihnya

Sebagaimana bernapas

Mengingatmu tak bisa lepas

Dari jalur memori yang tak terbatas

Maka, ku biarkan ia bebas

Dan, kau pun akan bebas

******

“Kau akan kembali, setelah sekian lama mengasingkan diri di sini,” ia bersuara ketika masuk ke ruanganku. Obrolan pagi bersamanya selalu dimulai dengan pernyataan atau pertanyaan-pertanyaan langsung dan berat. Tak ada sapaan pagi, sapaan ringan, sebagaimana yang ia lakukan pada setiap orang yang dia temui sepanjang pagi.

“Apakah kau senang dengan kepulanganku?”

“Seharusnya, iya. Membiarkanmu lebih lama di sini, sama saja merusak apa yang aku bangun selama ini,” ia menggantung kalimatnya, ragu sekaligus berpikir tentang sesuatu. Segelas air putih dan obat di tangannya pun ikut tertahan.

“Lalu?”

“Setidaknya kau pulang tanpa berhutang penjelasan padaku.” lanjutnya sembari menyerahkan air putih dan sebutir kapsul. Lalu duduk di sisi pembaringan ku. “Maukah kau melakukannya, Brengsek?”

Aku tergelak mendengarnya menyebutku Brengsek. Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendengar panggilan itu. Rindukah aku dengan panggilan itu? Entahlah, aku sendiri tak bisa mengartikan tawaku yang pecah setelahnya. Ia melihatiku heran.

“Kau masih suka dengan panggilan itu? Ayolah, semua orang ingin dipanggil dengan nama terbaik mereka. Ingin dikenal sebagai sebaik-baiknya orang. Dan kau?”

“Dan aku bukan mereka. ”

“Kau mencoba untuk terlihat tidak baik, Brengsek. Karena itu kau memaksa ada di sini.”

“Untuk apa nama baik, terlihat baik? Untuk ditukar dengan sekarung beras, selembar uang atau sebuah jabatan prestisius? Atau agar kelak ketika kau mati, ada yang menangisimu dan barangkali sudi mengirim doa?”

“Kau sedang menyindirku?”

“Aku sedang bicara tentang hidupku, dokter Anna.” tegasku. Perempuan itu terdiam, melempar pandangannya lurus ke jendela, lalu menghembuskan nafasnya.

Hening.

Hanya deru kipas angin yang terdengar dan mengombang-ambingkan anak rambutnya ke sana ke mari. Suster wara-wiri di depan kamar tanpa mengindahkan keberadaan kami. Mereka sudah paham siapa pasien dan dokter yang menangani pasien di kamar 102.

*****

“Kau mencintai perempuan lain? Perempuan itu selingkuh? Orang tuanya tak merestui? ” Anna memberondongiku dengan dugaan yang kerap dialamatkan pada seorang lelaki yang meninggalkan kekasihnya. Dugaan yang membuat si lelaki selalu salah dan tak jarang dianggap brengsek karena telah mengkhianati kekasihnya. Dugaan yang selalu mengesampingkan bahwa lelaki juga bisa terluka.

Jawabanku, sebuah gelengan kepala. Haruskah aku menjelaskan padanya dan bisa jadi pada semua orang nantinya tentang alasanku meninggalkan kekasihku. Dan bukankah penjelasanku nanti akan terdengar seperti pembelaan? Sekaligus sebuah usaha untuk membalikkan nama baikku. Agar aku kembali dilihat sebagai lelaki yang sangat lelaki dan panggilan brengsek itu dengan sendirinya akan enyah.

Ia mendelik kesal lalu ditatapnya wajahku, mencoba menebak isi kepalaku. Dan benar saja, tiba-tiba ia menutup mulut dengan tangannya, lengkap dengan ekspresi wajah yang teramat kaget. Ya, kaget dengan apa yang ia pikirkan dan simpulkan sendiri.

“Tidak seperti yang kau pikirkan Ann. Aku tidak memiliki kecenderungan seksual yang berbeda.” kataku,  memutus asumsinya yang berlebihan.

“Ia katakan, bisa menerimaku,”

“Bukankah itu bagus?”

“Itu petaka, Ann. Cinta tidak sesederhana itu.”

“Cinta itu sederhana, kau sendiri yang membuatnya rumit.”

“Ia bisa menerimaku dan aku berhak menerima tuntutannya.” ungkapku, pada akhirnya. “Aku tidak sedang berdagang dan tawar-menawar, Ann. Aku mencintainya, tanpa sebuah pernyataan aku menerima dia apa adanya, dan tak ada tuntutan dia harus jadi kekasih seperti yang kuharapkan.”

“Baiklah, ini tentang harga dirimu yang terlalu berharga.”

“Ia bicara tentang masa depan, hal-hal hebat yang bisa ia lakukan bersamaku. Ia terlalu sempurna untukku. Tidak, tunggu An, jangan menyela omonganku dengan mengatakan aku seperti remaja yang bosan pada kekasihnya lalu mengatakan hal itu sebagai alasan putus. Tuntutan-tuntutan itu seperti tolok ukur sedalam apa aku mencintainya. Bagaimana bisa aku terus bersamanya jika sepanjang waktu yang ku lakukan adalah memenuhi tuntutannya dan meyakinkannya bahwa aku mencintainya.”

“Suatu ketika, aku abai pada tuntutannya. Ia kecewa padaku. Ku rasa kau tahu betul bagaimana rasanya. Aku pun kecewa pada diriku sendiri, merasa bodoh dan tak berguna karena telah melukainya. Dan suatu ketika lagi, ia merasa aku bukanlah kekasihnya yang dulu. Katanya, aku telah berubah. Kau tahu betul kan siapa aku, Ann?”

“Penyair yang gila pada kata-kata. Lalu menggila di sini karena tak bisa mengatakan bahwa kau juga terluka.”

“Sampai detik ini pun, aku masih sama. Aku masih mencintainya. Ah, kecuali rupa dan fisikku yang agak gemukan, bersih dan tanpa jambang. Sepertinya aku betah tinggal di sini, hehehe. Bolehkah aku tinggal lebih lama?”

“Sejak awal kamu datang, kamu tidak sakit. Kamu hanya butuh ruang untuk melupa. Pikiran dan hatimu terlalu sesak. Dan, itu hal yang tak bisa diobati oleh dokter. Termasuk aku, Brengsek.” Ann menggengam tanganku, erat dan hangat. “Kamu belum mengizinkan dirimu untuk melupakannya,”

*****

Kau akan terus merupa kata, adinda

Dalam sajak yang kutulis

Jakarta, 31 Desember 2017-03 Maret 2018

Perempuan yang merasa merdeka melalui peran kata

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: